Dokumen tersebut membahas tentang propagasi gelombang radio, termasuk mekanisme propagasi melalui gelombang tanah, gelombang ionosfer, dan troposcatter. Dokumen juga menjelaskan tentang lapisan-lapisan ionosfer dan konsep frekuensi kritis dan sudut kritis dalam propagasi gelombang radio."
1 of 22
Downloaded 394 times
More Related Content
Propagasi gelombang radio
1. PROPAGASI GELOMBANG RADIO
POKOK BAHASAN:
¸ Pendahuluan
¸ Dasar-dasar Propagasi
¸ Gelombang Tanah
¸ Gelombang Ionosfir
¸ Troposcatter
¸ Gelombang line of sight (LOS)
¸ Dasar perancangan Link Radio LOS
¸ Perancanaan dan Perencanaan Link Radio LOS
TUJUAN BELAJAR:
Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
¸ Menjelaskan definisi gelombang radio, propagasi gelombang radio dan sifat-
sifat gelombang radio.
¸ Menjelaskan mekanisme propagasi yang meliputi: gelombang tanah, gelombang
Ionosfir, troposcatter, dan gelombang line of sight (LOS).
¸ Menjelaskan dasar perancangan link radio LOS, yang meliputi: efek terrain,
daerah Fresnel, peta topografi, faktor K, dan mencari ketinggian antena.
¸ Merancang dan merencanakan link radio LOS secara mendasar dan
memprediksi kenerja sistem.
6.1 PENGERTIAN PROPAGASI
2. Seperti kita ketahui , bahwa dalam pentransmisian sinyal informasi dari satu
tempat ke tempat lain dapat dilakukan melalui beberapa media, baik media fisik, yang
berupa kabel/kawat ( wire) maupun media non -fisik (bukan kabel /kawat), yang lebih
dikenal dengan wireless, seperti halnya udara bebas.
Dengan beberapa pertimbangan teknis dan terutama ekonomis, untuk
komunikasi pentransmisian gelombang dalam jarak yang jauh, akan lebih efisien apabila
menggunakan udara bebas sebagai media transmisinya. Hal ini memu ngkinkan karena
gelombang radio atau RF (radio frequency) akan diradiasikan oleh antena sebagai
matching device antara sistem pemancar dan udara bebas dalam bentuk radiasi
gelombang elektromagn etik. Gelombang ini merambat atau berpropagasi melalui udara
dari antena pemancar ke antena penerima yang jaraknya bisa mencapai beberapa
kilometer, bahkan ratusan sampai ribuan kilometer.
Pada bab ini akan dikhususkan membahas tentang beberapa mekanisme
gelombang elektromagnetik berpropagasi antara dua tempat. Pada Gambar 6-1
diperlihatkan beberapa jenis lintasan propagasi yang merupakan mekanisme
perambatan
gelombang radio di udara bebas.
3. Gambar 6 -1: Mekanisme propagasi gelombang radio
6.2 PROPAGASI GELOMBANG TANAH (GROUND WAVE)
Gelombang tanah (ground wave) adalah gelombang radio yang berpropagasi di
sepanjang permukaan bumi/tanah. Gelombang ini sering disebut dengan gelombang
permukaan (surface wave). Untuk berkomunikasi dengan menggunakan media
gelombang tanah, maka gelombang harus terpolarisasi secara vertikal, karena bumi
akan
menghubung-singkatkan medan listriknya bila berpolarisasi horisontal.
Perubahan kadar air mempunyai pengaruh yang besar terhadap gelombang
tanah. Redaman gelombang tanah berbanding lurus terhadap impedansi permukaan
tanah. Impedansi ini merupakan fungsi dari konduktivitas dan frekuensi. Jika bumi
mempunyai konduktivitas yang tinggi, maka redaman (penyerapan energi gelombang)
akan berkurang. Dengan demikian, propagasi gelombang tanah di atas air, terutama air
4. garam (air laut) jauh lebih baik dari pada di tanah kering (berkonduktivitas rendah),
seperti padang pasir. Rugi-rugi (redaman) tanah akan meningkat dengan cepat dengan
semakin besarnya frekuensi. Karena alasan tersebut, gelombang tanah sangat tidak
efektif pada frekuensi di atas 2 MHz.
Namun demikian, gelombang tanah sangat handal bagi hubungan komunikasi.
Penerimaan gelombang tidak terpengaruh oleh perubahan harian maupun musiman,
sebagaimana yang terjadi pada gelombang langit (gelombang ionosfir). Propagasi
gelombang tanah merupakan satu -satunya cara untuk berkomunikasi di dalam lautan.
Untuk memperkecil redaman laut, maka digunakan frekuensi yang sangat
rendah, yaitu band ELF ( Extremely Low Frequency), yaitu antara 30 hingga 300 Hz.
Dalam pemakaian tertentu dengan frekuensi 100 Hz, redamannya hanya sekitar 0,3 dB
per meter. Redaman ini akan meningkat drastis bila frekuensinya makin tinggi, misalnya
pada 1 GHz redamannya menjadi 1000 dB per meter.
6.3 PROPAGASI GELOMBANG IONOSFIR
Pada frekuensi tinggi atau daerah HF, yang mempunyai range frekuensi 3 – 30
MHz, gelombang dapat dipropagasikan menempuh jarak yang jauh akibat dari
pembiasan dan pemantulan lintasan pada lapisan ionospher. Gelombang yang
berpropagasi melalui lapisan ionosfir ini disebut sebagai gelombang ionosfir
(ionospheric wave) atau juga disebut gelombang langit (sky wave).
Gelombang ionosfir terpancar dari antena pemancar dengan suatu arah yang
menghasilkan sudut tertentu dengan acuhan permukaan bumi. Dalam perjalanannya,
bisa melalui beberapa kali pantulan lapisan ionosfir dan permukaan bumi, sehingga
jangkauannya bisa mencapai antar pulau, bahkan antar benua.
Aksi pembiasan pada lapisan ionosfir dan permukaan bumi tersebut disebut
dengan skipping . Ilustrasi dari efek skipping ini, dapat dilihat pada Gambar 6-3.
5. Gelombang radio yang dipancarkan dari pemancar melalui antena menuju ionofir, dan
dibiaskan/dipantulkan kembali pada titik B ke permukaan bumi pada titik C. Kemudian
oleh permukaan tanah dipantulkan kembali ke ionosfir dan sekali lagi dibiaskan ke bumi
kembali pada titik D menuju penerima di titik E pada permukaan bumi.
Untuk memahami proses pembiasan lebih lanjut pada atmofir bumi, maka
susunan kita harus mengetahui proses kimiawi la pisan atmosfir dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
Lapisan atmofir bumi terdiri dari 3 (tiga) lapisan, yaitum : lapisan troposfir
(troposphere), stratosfir (stratosphere) dan ionosfir (ionosphere). Troposfir terletak di
permukaan bumi hingga mencapai ketinggian kira-kira 6,5 mil. Lapisan berikutnya
(stratosfir) berada mulai dari batas troposfir sampai ketinggian sekitar 25 mil. Dari batas
stratofir hingga ketinggian 250 mil adalah lapisan ionosfir. Di atas ionofir adalah ruang
angkasa.
Lapisan troposfir adalah lapisan terendah dari bumi, dan di dalamnya berisi zat-
zat yang diperlukan untuk kelangsungan hidup. Lapisan ini dapat dilalui gelombang
yang berfrekuensi tinggi menuju lapisan berikutnya. Karena itu, tidak akan terjadi
inversi temperatur atau juga tidak bisa menyebabkan pembiasan yang berarti. Lapisan
6. stratosfir dengan temperaturnya yang konstan tersebut disebut juga daerah isothermal.
Ionosfir adalah nama yang benar-benar sesuai, karena lapisan ini tersusun dari
partikel-partikel yang terionisasi. Lintasan ini tidak terkontrol dan bervariasi terhadap
waktu, musim dan aktivitas matahari. Kerapatan pada bagian yang paling atas adalah
sangat rendah dan semakin ke bawah, makin tinggi kerapatannya. Bagian yang lebih
atas mengalami radiasi matahari yang relatif lebih kuat. Radiasi ultraviolet dari
matahari menyebabkan udara yang terionisasi menjadi ion-ion positip, dan ion-ion
negatip. Sekalipun kerapatan molekul udara di bagian atas ionosfir kecil, namun
partikel-partikel udara di ruang angkasa mempunyai energi yang sedemikian tinggi pada
daerah tersebut . Sehingga menyebabkan ionisasi dari molekul-molekul udara bisa
bertahan lama. Ionisasi ini meluas ke bagian bawah di seluruh lapisan ionosfir dengan
intensitas yang lebih rendah. Karena itu, derajat paling tinggi terjadi proses ionisasi
adalah bagian paling atas dari ionosfir, sedangkan derajat ionisasi terendah terjadi pada
bagian paling bawah.
Lapisan ionospher terdiri dari beberapa/bermacam-macam lapisan yang
terionisasi kira-kira ketinggian 40 – 400 km (25 mil – 250 mil) di atas permukaan bumi.
Ionisasi ini disebabkan oleh radiasi sinar ultraviolet dari matahari yang mana lebih
terasa pada siang hari dibandingkan pada malam hari.
6.3.1 Lapisan-lapisan Ionosfir
Ionosfir tersusun dari 3 (tiga) lapisan , mulai dari yang terbawah yang disebut
dengan lapisan D, E dan F. Sedangkan lapisan F dibagi menjadi dua, yaitu lapisan F1
dan F2 (yang lebih atas), seperti Gambar 6 -4. Ada atau tidaknya lapisan-lapisan ini
dalam atmosfir dan ketinggiannya di atas permukaan bumi , berubah-ubah sesuai
dengan
posisi matahari. Pada siang hari (tengah hari), radiasi dari matahari adalah terbesar,
7. sedangkan di malam hari adalah minimum. Saat radiasi matahari tidak ada, banyak ion-
ion yang bergabung kembali menjadi molekul-molekul. Keadaan ini menetukan posisi
dan banyaknya lapisan dalam ionosfir. Karena posisi matahari berubah -ubah terhadap
titik-titik tertentu di bumi, dimana perubahan itu bisa harian, bulanan, dan tahunan,
maka karakteristik yang pasti dari lapisan-lapisan tersebut sulit untuk ditentukan/
dipastikan.
Gambar 6 -4: Lapiran- lapisan ionosfir yang berpengaruh untuk propagasi
Untuk lebih jelasnya tentang fenomena masing-masing lapisan pada ionosfir
diberikan berikut ini.
ß Lapisan D terletak sekitar 40 km – 90 km. Ionisasi di lapisan D sangat rendah,
karena lapisan ini adalah daerah yang paling jauh dari matahari. Lapisan ini
mampu membiaskan gelombang -gelombang yang berfrekuensi rendah.
Frekuensi-frekuensi yang tinggi, terus dilewatkan tetapi mengalami redaman.
Setelah matahari terbenam, lapisan ini segera menghilang karena ion-
ionnyamdengan cepat bergabung kembali menjadi molekul-molekul.
ß Lapisan E terletak sekitar 90 km – 150 km. Lapisan ini, dikenal juga dengan
8. lapisan Kenelly – Heaviside, karena orang -orang inilah yang pertama kali
menyebutkan keberadaan lapisan E ini. Setelah matahari terbenam, pada lapisan
ini juga terjadi penggabungan ion-ion menjadi molekul -molekul, tetapi
kecepatan penggabungannya lebih rendah dibandingkan dengan lapisan D, dan
baru bergabung seluruhnya pada tengah malam. Lapisan ini mampu membiaskan
gelombang dengan frekuensi lebih tinggi dari gelombang yang bisa dibiaskan
lapisan D. Dalam praktek, lapisan E mampu membiaskan gelombang hingga
frekuensi 20 MHz.
ß Lapisan F terdapat pada ketinggian sekitar 150 km – 400 km. Selama siang hari,
lapisan F terpecah menjadi dua, yaitu lapisan F1 dan F2. Level ionisasi pada
lapisan ini sedemikian tinggi dan berubah dengan cepat se iring dengan
pergantian siang dan malam. Pada siang hari, bagian atmosfir yang paling dekat
dengan matahari mengalami ionisasi yang paling hebat. Karena atmosfir di
daerah ini sangat renggang, maka penggabungan kembali ion-ion menjadi
molekul terjadi sanga t lambat (setelah terbenam matahari). Karena itu, lapisan
ini terionisasi relatif konstan setiap saat. Lapisan F bermanfaat sekali untuk
transmisi jarak jauh pada frekuensi tinggi dan mampu membiaskan gelombang
pada frekuensi hingga 30 MHz.
Sebagai tambaha n, pada lapisan-lapisan ionosfir yang ditunjukkan di atas, ada
juga variasi-variasi lain yang tidak menentu yang terjadi akibat dari partikel-partikel
radiasi dari matahari, sehingga mengakibatkan kacau atau rusaknya propagasi
gelombang radio. Jenis badai ini dapat berlangsugn beberapa hari, tetapi komunikasi
masih dapat dipertahankan dengan menurunkan frekuensi kerjanya.
Radiasi yang berlebihan dari matahari, juga dapat mengakibatkan ionisasi yang
berat sekali pada daerah/lapisan bawah yang dapat menyebab-kan komunikasi black out
9. sama sekali untuk gelombang dengan frekuensi di atas 1 MHz.
6.3.2 Frekuensi Kritis
Jika frekuensi gelombang radio yang dipancarkan secara vertikal perlahan-lahan
dipertinggi, maka akan dicapai titik dimana gelombang tidak akan bisa dibiaskan untuk
kembali ke bumi. Gelombang ini tentu akan ke atas menuju lapisan berikutnya, dimana
proses pembiasan berlanjut. Bila frekuensi -nya cukup tinggi, gelombang tersebut akan
dapat menembus semua lapisan ionosfir dan terus menuju ruang angkasa. Frekuensi
tertinggi dimana gelombang masih bisa dipantulkan ke bumi bila ditransmisikan secara
vertikal pada kondisi atmosfir yang ada disebut dengan frekuensi kritis .
Sebagai ilustrasi tentang frekuensi kritis gelombang untuk frekuensi 25 MHz,
ditunjukkan pada Gambar 6-5. Gelombang ditembakkan secara vertikal oleh transmitter
(pemancar dan sekaligus penerima), dengan frekuensi yang bervariasi, mulai 24 MHz
sampai 26 MHz. Untuk frekuensi kerja 25 MHz ke bawah, gelombang yang
dipancarkan ke atas, dapat diterima kembali di bumi. Tetapi untuk gelombang yang
dipancarkan dengan frekeunsi 26 MHz ke atas, gelombang di tidak dapat diterima oleh
transmitter di bumi.
10. Gambar 6 -5: Ilustrasi frekuensi kritis dalam propagasi gelombang
6.3.3 Sudut Kritis
Secara umum, gelombang dengan frekuensi lebih rendah akan mudah dibiaskan,
sebaliknya gelombang dengan frekuensi lebih tinggi lebih sulit dibiaskan oleh ionosfir.
Gambar 6 -5 menggambarkan hal yang demikian, dimana sudut pancaran memegang
peranan penting dalam menentukan apakah suatu gelombang dengan frekuensi
tertentu
akan dikembalikan ke bumi oleh ionosfir atau tidak. Di atas frekuensi tertentu,
gelombang yang dipancarkan secara vertikal merambat terus menuju ruang angkasa.
Namun demikian, bila sudut radiasi (angle of radiation)-nya lebih rendah, maka
sebagian dari gelombang berfrekuensi tinggi di bawah frekuensi kritis akan
dikembalikan ke bumi.
Sudut terbesar dimana suatu gelombang dengan frekuensi yang masih bisa
dikembalikan (dibiaskan ke bumi) disebut d engan sudut kritis bagi frekuensi tersebut.
Sudut kritis adalah sudut yang dibentuk oleh lintasan gelombang yang menuju
dan masuk ionosfir dengan garis yang ditarik dari garis vertikal titik pemancar di bumi
ke pusat bumi. Gambar 6-6 menunjukkan sudut kri tis untuk 20 MHz. Semua gelombang
yang mempunyai frekuensi di atas 20 MHz (misalnya 21 MHz) tidak dibiaskan kembali
ke bumi, tetapi terus menembus ionosfir menuju ruang angkasa.
11. Gambar 6-6: Ilustrasi sudut kritis dalam propagasi gelombang
6.3.4 Maximum Usable Frequency ( M U F )
Ada frekuensi terbaik untuk bisa berkomunikasi secara optimum antara dua titik,
pada setiap kondisi ionosfir yang bagaimanapun. Seperti yang bisa dilihat dalam
Gambar 6-7, jarak antara antena pemancar dan titik dimana gelombang tersebut
kembali
ke bumi tergantung pada sudut propagasinya, yang mana sudut tersebut dibatasi oleh
frekuensinya.
12. Gambar 6 -7: Peta Maximum Usable Frequency (MUF)
Frekuensi tertinggi, dimana gelombang masih bisa dikembalikan ke bumi
dengan jarak tertentu disebut dengan “ Maximum Usable Frequency (MUF) “.
Parameter ini mempunyai nilai rata-rata bulanan tertentu. Frekuensi kerja optimum
adalah frekuensi yang memberikan kualitas komunikasi paling konsisten dan oleh
karenanya paling baik d igunakan.
Untuk p ropagasi yang menggunakan lapisan F 2, frekuensi kerja optimum adalah
sekitar 85 % dari MUF, sedangkan propagasi melalui lapisan E akan tetap
konsisten/bekerja dengan baik, bila frekuensi yang digunakan adalah sekitar MUF.
Karena redaman ionosfir terhadap gelombang radio adalah berbanding terbalik dengan
frekuensinya, maka menggunakan MUF berarti menghasilkan kuat medan yang
maksimum. Karena adanya variasi frekuensi kritis, maka dibuatlah data-data dan tabel
frekuensi yang berisi perkiraan -perkiraan MUF untuk tiap-tiap jam dan hari dari tiap-
13. tiap daerah. Informasi-informasi ini dibuat berdasarkan data yang didapatkan secara
eksperimental dari stasiun -stasiun yang tersebar di penjuru dunia.
6.3.4 Fading dan Distorsi
Fading terjadi karena adanya fenomena lebih dari satu lintasan, dan bahkan
banyak/ganda lintasan (multipath fenomena). Fading bisa terjadi di sembarang tempat,
dimana kedua sinyal gelombang tanah dan gelombang ionosfir/langit diterima. Kedua
gelombang tersebut mungkin tiba den gan fasa yang berbeda, sehingga menyebabkan
efek saling menghilangkan. Fading jenis ini dijumpai dalam komunikasi jarak jauh yang
melewati daerah berair dimana propagasi gelombang bisa mencapai tempat yang jauh.
Di tempat/daerah di luar jangkauan gelombang tanah, yaitu daerah yang hanya bisa
dijangkau oleh gelombang langit, fading bisa terjadi karena adanya dua gelombang
langit yang merambat dengan jarak yang berbeda. Keadaan ini bisa disebabkan oleh
karena sebagian gelombang yang terpancar dibiaskan kembali ke bumi oleh lapisan E,
sedangkan sebagian yang lain dibiaskan dan dikembalikan oleh lapisan F. Efek saling
menghilangkan bisa terjadi bila kedua gelombang tiba di antena penerima dengan beda
fasa 180 derajat dan mempunyai amplitudo sama. Biasanya salah satu sinyal lebih
lemah dari yang lain dan karena itu masih ada sinyal yang bisa diterima.
Karena ionosfir menyebabkan efek -efek yang sedikit berbeda pada frekuensi-
frekuensi yang berlainan, maka sinyal yang berlainan akan mengalami distorsi fasa.
SSB ( single side band) paling sedikit mengalami distorsi fasa ini, sedangkan FM
(frequency modulation) sangat terganggu oleh distorsi ini, karena itu FM jarang
digunakan pada frekuensi di bawah 30 MHz (dimana propagasinya adalah dengan
gelombang ionosfir/langit). Semakin besar bandwidth-nya, semakin besar masalah yang
timbul karena distorsi fasa ini.
Badai ionosfir sering menyababkan komunikasi radio menjadi tidak menentu.
14. Beberapa frekuensi akan benar -benar hilang, sedangkan yang lain mungkin akan
menjadi lebih kuat. Kadang-kadang badai ini terjadi beberapa menit dan ada kalanya
beberapa jam, dan bahkan beberapa hari.
Untuk mengurangi masalah fading ini, digunakan beberapa bentuk penganaeka -
ragaman penerimaan atau diversity reception. Diversiti adalah suatu proses
memancarkan dan atau menerima sejumlah gelombang pada saat yang bersamaan dan
kemudian menambah/menjumlahkan semuanya di penerima atau memilih salah satu
yang terbaik. Beberapa jenis diversiti adalah sebagai berikut :
(1) Diversiti ruang (space diversity) yaitu memasang/menggunakan dua atau lebih
antena dengan jarak tertentu. Sinyal yang terbaik yang akan diterima, akhirnya
dipilih untuk kemudiandiolah di penerima.
(2) Diversiti frekuensi (frequency diversity), yaitu mentransmisikan sinyal informasi
yang sama meng-gunakan dua buah frekuensi yang sedikit berbeda. Frekuensi yang
berbeda mengalami fading yang berbeda pula sekalipun dipancarkan/diterima
dengan antena yang sama. Kemudian penerima memilih mana yang terbaik.
(3) Diversiti sudut (angle diversity), y aitu mentransmisikan sinyal dengan dua atau lebih
sudut yang berbeda sedikit. Hal ini akan menghasilkan dua atau lebih lintasan yang
memiliki volume hamburan yang berbeda.
6.4 PROPAGASI TROPOSFIR (TROPOSPHERE SCATTER)
Propagasi troposfir bisa dianggap sebagai kasus dari propagasi gelombang
langit. Gelombang tidak ditujukan ke ionosfir, tetapi ditujukan ke troposfir. Batas
troposfir hanya sekitar 6,5 mil atau 11 km dari permukaan bumi. Frekuensi yang bisa
digunakan adalah sekitar 35 MHz sampai dengan 10 GHz dengan jarak jangkau
mencapai 400 km.
Proses penghaburan (scattering) oleh lapisan troposfir, dilukiskan seperti
15. Gambar 6-8. Seperti ditunjukkan oleh gambar tersebut, dua antena pengarah diarahkan
sedemikian rupa sehingga tembakan keduanya bertemu di troposfir. Sebagian besar
energinya merambat lurus ke ruang angkasa. Namun demikian, dengan proses yang sulit
dimengerti, sebagian energinya juga dihamburkan ke arah depan. Seperti juga
ditunjukkan dalam gambar tersebut, sebagian energi juga dihamburkan ke a rah depan
yang tidak dikehendaki.
Gambar 6-8: Ilustrasi propagasi troposfir (troposcatter)
Frekuensi yang terbaik dan paling banyak digunakan adalah sekitar 0.9,2 dan 5
GHz. Namun demikian, besarnya gelombang yang diterima hanyalah seper seribu
hingga seper satu juta dari daya yang dipancarkan. Disini jelas diperlukan daya
pemancar yang sangat besar, dan penerima yang sangat peka.
Selain itu, proses hamburan mengalami dua macam fading. Yang pertama, fading yang
disebabkan oleh transmisi dengan ban yak lintasan (multipath fading ) yang bisa timbul
beberapa kali dalam 1 menit. Yang kedua, fading yang disebabkan oleh perubahan
atmosfir, tetapi lebih lambat dari yang pertama, yang mengakibatkan perubahan
level/kuat gelombang yang diterima.
16. Meskipun sistem propagasi radio dengan menggunakan hamburan lapisan ini
memerlukan daya yang sangat besar dan perlunya diversiti, penggunaan sistem ini telah
tumbuh pes at sejak pemakaian pertamanya t ahun 1955. Karena sistem ini memberikan
jarak jangkau jauh yang handal di daerah -daerah seperti padang pasir dan daerah -
daerah
seperti padang pasir dan daerah pegunungan dan antar pulau. Jaringan ini digunakan
untuk komunikasi suara dan data dalam militer dan komersial.
6.5 PROPAGASI GARIS PANDANG (LINE OF SIGHT)
Sesuai dengan namanya, propagasi secara garis pandang yang lebih dikenal
dengan line of sight propagation , mempunyai keterbatasan pada jarak pandang.
Dengan
demikian, ketinggian antena dan kelengkungan permukaan bumi merupakan faktor
pembatas yang utama dari propagasi ini . Jarak jangkauannya sangat terbatas, kira-kira
30 – 50 mil per link, tergantung topologi daripada permukaan buminya. Dalam praktek,
jarak jangkaunya sebenarnya adalah 4/3 dari line of sight (untuk K = 4/3), karena
adanya faktor pembiasan oleh atmosfir bumi bagian bawah.
Propagasi line of sight, disebut dengan propagasi dengan gelombang langsung
(direct wave), karena gelombang yang terpancar dari antena pemancar langsung
berpropagasi menuju antena penerima dan tidak merambat di atas permukaan tanah.
Oleh karena itu, permukaan bumi/tanah tidak meresamnya. Selain itu, gelombang jenis
ini disebut juga dengan gelombang ruang (space wave), karena dapat menembus lapisan
ionosfir dan berpropagasi di ruang angkasa.
Propagasi jenis ini garis pandang merupakan andalan sistem telekomunikasi
masa kini dan yang akan datang, karena dapat menyediakan kanal informasi yang lebih
besar dan keandalan yang lebih tinggi, dan tidak dipengaruhi oleh fenomena perubahan
17. alam, seperti pada propagasi gelombang langit pada umumnya.
Band frekuensi yang digunakan pada jenis propagasi ini sangat lebar, yaitu
meliputi band VHF (30 – 300 MHz), UHF (0,3 – 3 GHz), SHF (3 – 30 GHz) dan EHF
(30 – 300 GHz), yang sering dikenal dengan band gelombang mikro (microwave).
Aplikasi untuk pelayan an komunikasi, antara lain : untuk siaran radio FM,
sistem penyiaran televisi (TV), komunikasi bergerak, radar, komunikasi satelit, dan
penelitian ruang angkasa.
6.5.1 Faktor K dan Profil Lintasan
Pengalaman menunjukkan bahwa lintasan propagasi berkas gelombang radio
selalu mengalami pembiasan/pembengkokan (curved) karena pengaruh refraksi
(pembiasan) oleh atmosfir yang paling bawah. Keadaan ini, tergantung pada kondisi
atmosfir pada suatu daerah, yang pada akhirnya bisa diketahui indeks refraksi atmosfir
di daerah itu. Karena adanya indeks refraksi yang berbeda-beda ini, maka bisa
diperkirakan kelengkungan lintasan propagasi di atas permukaan bumi. Akibatnya,
kalau dipandang bahwa propagasi gelombang langsung merupakan line of sight, maka
radius bumi seakan-akan berbeda dengan radius bumi sesungguhnya (actual earth
radius ). Sebagai gantinya, dalam penggambaran radius bumi dibuat radius ekuivalen
(equivalent earth radius), dengan tujuan sekali lagi agar lintasan propagasi gelombang
radio dapat digambarkan secara lurus.
Parameter yang menyatakan perbandingan antara radius bumi ekuivalen
(equivalent earth radius) dengan bumi sesungguhnya (actual earth radius ), disebut
dengan faktor kelengkungan; faktor K.
Dinyatakan :
18. Dimana :
ae = radius bumi ekuivalen (equivalent earth radius ) , dan
a = radius bumi sesungguhnya (actual earth radius ).
Pada kondisi atmosfir normal, dalam perhitungan radius bumi ekuivalen
biasanya digunakan K = 4/3. Bila kita menggunakan K = 4/3 dan dengan mengalikan
radius bumi yang sesungguhnya dengan harga K tersebut, maka pada waktu memetakan
lintasan propagasi gelombang, kita dapat memodifikasi kurvatur bumi sedemikian rupa ,
sehingga lintasan rad io dapat digambarkan secara garis lurus (straight line). Gambar 6-9
menunjukkan hasil modifikasi kurvatur bumi untuk radius bumi ekuivalen untuk harga
K = 4/3, yang disebut dengan Profile Lintasan atau Path Profile K = 4/3.
Gambar 6-9: Kurvatur bumi dari radius bumi ekuivalen untuk
harga K = 4/3
6.5.2 Daerah Fresnel Pertama
Daerah Fresnel pertama merupakan hal yang patut diperhatikan dalam
perencanaan lintasan gelombang radio line of sight. Daerah ini sebisa mungkin harus
19. bebas dari halangan pandangan (free of sight obstruction), karena bila tidak , akan
menambah redaman lintasan.
Untuk memahami daerah Fresnel pertama, marilah diikuti keterangan berikut
ini. Gambar 6-10 menunjukkan 2 (dua) bekas lintasan propagasi gelombang radio dari
pemancar (T x) ke penerima (Rx), yaitu berkas lintasan langsung ( direct ray ) dan berkas
lintasan pantulan (reflected ray ), yang mempunyai radius F1 dari garis lintasan
langsung. Jika berkas lintasan pantulan mempunyai panjang setengah kali lebih panjang
dari berkas lintasan langsung, dan dianggap bumi merupakan pemantul ya ng sempurna
(koefisien pantul = -1, artinya gelombang datang d an gelombang pantul berbeda fasa
180 derajat), maka pada saat tiba di penerima akan mempunyai fasa yang sama dengan
gelombang langsung. Akibatnya akan terjadi intensitas kedua gelombang pada saa t
mencapai antena penerima akan saling menguatkan.
Gambar 6-10: Daerah Fresnel pertama di sekitar lintasan langsung
Berdasarkan Gambar 6-10 dan keterangan di atas, F1 disebut sebagai radius
daerah Fresnel pertama , yang dirumuskan dengan:
dimana : F1 = radius daerah Fresnel pertama (m)
20. f = frekuensi kerja (GHz)
d1 = jarak antara Tx dengan halangan (km)
d2 = jarak antara Rx dengan halangan (km)
d = d1+ d2 = jarak antara Tx dan Rx (km)
Untuk daerah Fresnel pertama di tengah lintasan d = d1+ d2, dan d1 = d2 =1/2 d,
sehingga:
Di daerah yang dekat dengan antena, misal d1 dar i antena :
Gambar 6-11: Pemetaan daerah-daerah Fresnel
Sedangkan untuk radius daerah Fresnel kedua , daerah Fresnel ketiga, dan
seterusnya seperti diilustrasikan pada Gambar 6-11, dinyatakan dengan rumusan
21. berikut:
n = 1,2,3, … . Atau secara singkat dinyatakan:
dimana F1 = radius daerah Fresnel pertama (m)
Merancang ketinggian antena
Diket ahui profil lintasan ( path profile) seperti pada Gambar 6-12. Jarak antara Tx (pada
titik A) dan Rx (pada titik B) adalah 50 Km. Pada jarak 20 Km dari A, terdapat bukit
dengan ketinggian tertentu. Rancanglah ketinggian antena pada Tx dan Rx, agar lintasan
tersebut bisa digunakan untuk mentransmisikan gelombang pada frekuensi 3 GHz
secara line of sight .
Contoh 6-1: