1. SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT :
SUATU PENGANTAR KEARAH FILSAFAT ILMU
Oleh: Budi Setiawan1
(PJMK MKWU: Filsafat Ilmu & Logika)
1. Sejarah Perkembangan Pemikiran Yunani Kuno: Dari
Mitos ke Logos
Secara historis kelahiran dan perkembangan pemikiran Yunani
Kuno(sistem berpikir) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan
kelahiran dan perkembangan filsafat, dalam hal ini adalah
sejarah filsafat. Dalam tradisi sejarah filsafat mengenal 3 (tiga)
tradisi besar sejarah, yakni tradisi: (1) Sejarah Filsafat India
(sekitar2000 SM dewasa ini), (2) Sejarah Filsafat Cina (sekitar
600 SM dewasa ini), dan (3) Sejarah Filsafat Barat (sekitar
600 SM dewasa ini).
Dari ketiga tradisi sejarah tersebut di atas, tradisi Sejarah
Filsafat Barat adalah basis kelahiran dan perkembangan ilmu
(scientiae/science/sain) sebagaimana yang kita kenal sekarang
ini. Titik-tolak dan orientasi sejarah filsafat baik yang
diperlihatkan dalam tradisi Sejarah Filsafat India maupun Cina
disatu pihak dan Sejarah Filsafat Barat dilain pihak, yakni
1
Makalah ini disampaikan dalam Interenship Dosen Filsafat Ilmu yang diselenggarakan oleh MKWU
Universitas Airlangga, Surabaya, 28-29 Juli 2010
1
2. semenjak periodesasi awal sudah memperlihatkan titik-tolak
dan orientasi sejarah yang berbeda. Pada tradisi Sejarah Fisafat
India dan Cina, lebih memperlihatkan perhatiannya yang besar
pada masalah-masalah keagamaan, moral/etika dan cara-
cara/kiat untuk mencapai keselamatan hidup manusia di dunia
dan kelak keselamatan sesudah kematian.
Sedangkan pada tradisi Sejarah Filsafat Barat semenjak
periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik: 600 SM 400 SM),
para pemikir pada masa itu sudah mulai mempermasalahkan
dan mencari unsur induk (arch辿) yang dianggap sebagai asal
mula segala sesuatu/semesta alam Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa air
merupakan arch辿, sedangkan Anaximander (sekitar 610 -540
SM) berpendapat arch辿 adalah sesuatu yang tak terbatas,
Anaximenes (sekitar 585 525 SM berpendapat udara yang
merupakan unsur induk dari segala sesuatu. Nama penting lain
pada periode ini adalah Herakleitos (賊 500 SM) dan Parmenides
(515 440 SM), Herakleitos mengemukakan bahwa segala
sesuatu itu mengalir (panta rhei) bahwa segala sesuatu itu
berubah terus-menerus/perubahan sedangkan Parmenides
menyatakan bahwa segala sesuatu itu justru sebagai sesuatu
yang tetap (tidak berubah).
2
3. Lain lagi Pythagoras (sekitar 500 SM) berpendapat bahwa
segala sesuatu itu terdiri dari bilangan-bilangan: struktur dasar
kenyataan itu tidak lain adalah ritme, dan Pythagoraslah
orang pertama yang menyebut/memperkenalkan dirinya sebagai
sorang filsuf, yakni seseorang yang selalu bersedia/mencinta
untuk menggapai kebenaran melalui berpikir/bermenung secara
kritis dan radikal (radix) secara terus-menerus.
Yang hendak dikatakan disini adalah hal upaya mencari unsur
induk segala sesuatu (arche), itulah momentum awal sejarah
yang telah membongkar periode myte (mythos/mitologi) yang
mengungkung pemikiran manusia pada masa itu kearah
rasionalitas (logos) dengan suatu metode berpikir untuk mencari
sebab awal dari segala sesuatu dengan merunut dari hubungan
kausalitasnya (sebab-akibat).
Jadi unsur penting berpikir ilmiah sudah mulai dipakai, yakni:
rasio dan logika (konsekuensi). Meskipun tentu saja ini arch辿
yang dikemukakan para filsuf tadi masih bersifat spekulatif
dalam arti masih belum dikembangkan lebih lanjut dengan
melakukan pembuktian (verifikasi) melalui observasi maupun
eksperimen (metode) dalam kenyataan (empiris), tetapi prosedur
3
4. berpikir untuk menemukannya melalui suatu bentuk berpikir
sebab-akibat secara rasional itulah yang patut dicatat sebagai
suatu arah baru dalam sejarah pemikiran manusia. Hubungan
sebab-akibat inilah yang dalam ilmu pengetahuan disebut
sebagai hukum (ilmiah). Singkatnya, hukum ilmiah atau
hubungan sebab-akibat merupakan obyek material utama dari
ilmu pengetahuan. Demikian pula kelak dengan tradisi
melakukan verifikasi melalui observasi dan eksperimen secara
berulangkali dihasilkan teori ilmiah.
Zaman keemasan/puncak dari filsafat Yunani Kuno/Klasik,
dicapai pada masa Sokrates (賊 470 400 SM), Plato (428-348
SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Sokrates sebagai guru dari
Plato maupun tidak meninggalkan karya tulis satupun dari hasil
pemikirannya, tetapi pemikiran-pemikirannya secara tidak
langsung banyak dikemukakan dalam tulisan-tulisan para
pemikir Yunani lainnya tetapi terutama ditemukan dalam karya
muridnya Plato. Filsafat Plato dikenal sebagai ideal (isme)
dalam hal ajarannya bahwa kenyataan itu tidak lain adalah
proyeksi atau bayang-bayang/bayangan dari suatu dunia ide
yang abadi belaka dan oleh karena itu yang ada nyata adalah
ide itu sendiri. Filsafat Plato juga merupakan jalan tengah dari
ajaran Herakleitos dan Parmenides. Dunia ide itulah yang
4
5. tetap tidak berubah/abadi sedangkan kenyataan yang dapat
diobservasi sebagai sesuatu yang senantiasa berubah. Karya-
Karya lainnya dari Plato sangat dalam dan luas meliputi logika,
epistemologi, antropologi (metafisika), teologi, etika, estetika,
politik, ontologi dan filsafat alam.
Sedangkan Aristoteles sebagai murid Plato, dalam banyak hal
sering tidak setuju/berlawanan dengan apa yang diperoleh dari
gurunya (Plato). Bagi Aristoteles ide bukanlah terletak dalam
dunia abadi sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato, tetapi
justru terletak pada kenyataan/benda-benda itu sendiri. Setiap
benda mempunyai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu
materi (hyl辿) dan bentuk (morf辿). Lebih jauh bahkan
dikatakan bahwa ide tidak dapat dilepaskan atau dikatakan
tanpa materi, sedangkan presentasi materi mestilah dengan
bentuk. Dengan demikian maka bentuk-bentuk bertindak di
dalam materi, artinya bentuk memberikan kenyataan kepada
materi dan sekaligus adalah tujuan (finalis) dari materi.
Aristoteles menulis banyak bidang, meliputi logika, etika,
politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pemikiran-
pemikirannya yang sistematis tersebut banyak menyumbang
kepada perkembangan ilmu pengetahuan
5
6. 2. Jaman Patristik dan Skolastik: Filsafat Dalam dan Untuk
Agama
Pada jaman ini dikenal sebagai Abad Pertengahan (400-1500 ).
Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan
(Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt.
Patres/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri
dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik
Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh Patristik Yunani ini
anatara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes
(185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius
(330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin antara lain Hilarius
(315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan
Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini
adalah falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin
memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran
paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh
dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang
berlandaskan akal-budi diabdikan untuk dogma agama.
Jaman Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus
diambil alih oleh Aristoteles.
6
7. Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya
beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, terutama melalui
Avicena (Ibn. Sina, 980-1037), Averroes (Ibn. Rushd,
1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles
demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai Sang
Filsuf sedangkan Averroes yang banyak membahas karya
Aristoteles dijuluki sebagai Sang Komentator. Pertemuan
pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan
filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir pada
masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan
Fransiskan.. Filsafatnya disebut Skolastik (Lt. scholasticus,
guru), karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam
sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu
kurikulum yang baku dan bersifat internasional. Inti ajaran ini
bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman dengan akal
budi. Pada masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama,
dengan melihat sebagai suatu kesetaraan antara satu dengan
yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu mengabdi
terhadap yang lain atau sebaliknya.
Sampai dengan di penghujung Abad Pertengahan sebagai abad
yang kurang kondusif terhadap perkembangan ilmu, dapatlah
diingat dengan nasib seorang astronom berkebangsaan Polandia
7
8. N. Copernicus yang dihukum kurungan seumur hidup oleh
otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya tentang pusat
peredaran benda-benda angkasa adalah matahari
(Heleosentrisme). Teori ini dianggap oleh otoritas Gereja
sebagai bertentangan dengan teori geosentrisme (Bumi sebagai
pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh
Ptolomeus semenjak jaman Yunani yang justru telah mendapat
mandat dari otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap
menjatuhkan kewibawaan Gereja.
3. Jaman Modern: Lahir dan Berkembangan Tradisi Ilmu
Pengetahuan
Jembatan antara Abad pertengahan dan Jaman Modern adalah
jaman Renesanse, periode sekitar 1400-1600. Filsuf-filsuf
penting dari jaman ini adalah N. Macchiavelli (1469-1527), Th.
Hobbes (1588-1679), Th. More (1478-1535) dan Frc. Bacon
(1561-1626). Pembaharuan yang sangat bermakna pada jaman
8
9. ini ((renesanse) adalah antroposentrismenya. Artinya pusat
perhatian pemikiran tidak lagi kosmos seperti pada jaman
Yunani Kuno, atau Tuhan sebagaimana dalam Abad
Pertengahan.
Setelah Renesanse mulailah jaman Barok, pada jaman ini tradisi
rasionalisme ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf antara
lain; R. Descartes (1596-1650), B. Spinoza (1632-1677) dan G.
Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas menekankan
pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi (ratio)
didalam mengembangkan pengetahuan manusia.
Pada abad kedelapan belas mulai memasuki perkembangan
baru. Setelah reformasi, renesanse dan setelah rasionalisme
jaman Barok, pemikiran manusia mulai dianggap telah
dewasa. Periode sejarah perkembangan pemikiran filsafat
disebut sebagai Jaman Pencerahan atau Fajar Budi (Ing.
Enlightenment, Jrm. Aufkl辰rung. Filsuf-filsuf pada jaman
ini disebut sebagai para empirikus, yang ajarannya lebih
menekankan bahwa suatu pengetahuan adalah mungkin karena
adanya pengalaman indrawi manusia (Lt. empeira,
pengalaman). Para empirikus besar Inggris antara lain J.
Locke (1632-1704), G. Berkeley (1684-1753) dan D. Hume
9
10. (1711-1776). Di Perancis JJ. Rousseau (1712-1778) dan di
Jerman Immanuel Kant (1724-1804)
Secara khusus ingin dikemukakan disini adalah peranan filsuf
Jerman Immanuel Kant, yang dapat dianggap sebagai inspirator
dan sekaligus sebagai peletak dasar fondasi ilmu, yakni dengan
mendamaikan pertentangan epistemologik pengetahuan antara
kaum rasionalisme versus kaum empirisme. Immanuel Kant
dalam karyanya utamanya yang terkenal terbit tahun 1781 yang
berjudul Kritik der reinen vernunft (Ing. Critique of Pure
Reason), memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan.
Dalam bukunya itu Kant memperkenalkan suatu konsepsi baru
tentang pengetahuan. Pada dasarnya dia tidak mengingkari
kebenaran pengetahuan yang dikemukakan oleh kaum
rasionalisme maupun empirisme, yang salah apabila masing-
masing dari keduanya mengkalim secara ekstrim pendapatnya
dan menolak pendapat yang lainnya. Dengan kata lain memang
pengetahuan dihimpun setelah melalui (aposteriori) sistem
penginderaan (sensory system) manusia, tetapi tanpa pikiran
murni (a priori) yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi
dan penataan dari rasio manusia. Menurut Kant, empirisme
mengandung kelemahan karena anggapan bahwa pengetahuan
10
11. yang dimiliki manusia hanya lah rekaman kesan-kesan (impresi)
dari pengalamannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia
merupakan hasil sintesis antara yang apriori (yang sudah ada
dalam kesadaran dan pikiran manusia) dengan impresi yang
diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting
bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa
yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu
tampil sebagai benda itu sendiri
4. Masa Kini: Suatu Peneguhan Ilmu Yang Otonom
Pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas perkembangan
pemikiran filsafat pengetahuan memperlihatkan aliran-aliran
besar: rasionalisme, empirisme dan idealisme dengan
mempertahankan wilayah-wilayah yang luas. Dibandingkan
dengan filsafat abad ketujuh belas dan abad kedelapan belas,
filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak
bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat tetapi wilayah
pengaruhnya lebih tertentu. Akan tetapi justru menemukan
bentuknya (format) yang lebih bebas dari corak spekulasi
filsafati dan otonom. Aliran-aliran tersebut antara laian:
positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neo-
kantianisme, neo-tomisme dan fenomenologi.
11
12. Berkaitan dengan filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang
tidak bisa dilewatkan adalah positivisme yang digagas oleh
filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran
manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap/fase, yaitu tahap: (1)
teologis, (2) Metafisis, dan (3) Positif-ilmiah. Bagi era manusia
dewasa (modern) ini pengetahuan hanya mungkin dengan
menerapkan metode-metode positif ilmiah, artinya setiap
pemikiran hanya benar secara ilmiah bilamana dapat diuji dan
dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti
sebagaimana berat, luas dan isi suatu benda. Dengan demikian
Comte menolak spekulasi metafisik, dan oleh karena itu ilmu
sosial yang digagas olehnya ketika itu dinamakan Fisika
Sosial sebelum dikenal sekarang sebagai Sosiologi. Bisa
dipahami, karena pada masa itu ilmu-ilmu alam (Natural
sciences) sudah lebih mantap dan mapan, sehingga banyak
pendekatan dan metode-metode ilmu-ilmu alam yang diambil-
oper oleh ilmu-ilmu sosial (Social sciences) yang berkembang
sesudahnya.
Pada periode terkini (kontemporer) setelah aliran-aliran
sebagaimana disebut di atas munculah aliran-aliran filsafat,
misalnya : Strukturalisme dan Postmodernisme.
Strukturalisme dengan tokoh-tokohnya misalnya Cl. L辿vi-
12
13. Strauss, J. Lacan dan M. Faoucault. Tokoh-tokoh
Postmodernisme antara lain. J. Habermas, J. Derida. Kini oleh
para epistemolog (ataupun dari kalangan sosiologi pengetahuan)
dalam perkembangannya kemudian, struktur ilmu pengetahuan
semakin lebih sistematik dan lebih lengkap (dilengkapi dengan,
teori, logika dan metode sain), sebagaimana yang dikemukakan
oleh Walter L.Wallace dalam bukunya The Logic of Science in
Sociology. Dari struktur ilmu tersebut tidak lain hendak
dikatakan bahwa kegiatan keilmuan/ilmiah itu tidak lain adalah
penelitian (search dan research). Demikian pula hal ada dan
keberadaan (ontologi/metafisika) suatu ilmu /sain berkaitan
dengan watak dan sifat-sifat dari obyek suatu ilmu /sain dan
kegunaan/manfaat atau implikasi (aksiologi) ilmu /sain juga
menjadi bahasan dalam filsafat ilmu. Setidak-tidaknya hasil
pembahasan kefilsafatan tentang ilmu (Filsafat Ilmu) dapat
memberikan perspektif kritis bagi ilmu /sain dengan
mempersoalkan kembali apa itu:pengetahuan?, kebenaran?,
metode ilmiah/keilmuan?, pengujian/verifikasi? dan sebaliknya
hasil-hasil terkini dari ilmu /sain dan penerapannya dapat
memberikan umpan-balik bagi Filsafat Ilmu sebagai bahan
refleksi kritis dalam pokok bahasannya (survey of sciences)
sebagaimana yang dikemukakan oleh Whitehead dalam
bukunya Science and the Modern World (dalam Hamersma,
13
14. 1981:48)
PUSTAKA:
Gordon, Scott. 1991. The history and philosophy of social
science. New York: Routledge.
Hamersma, Harry,. 1981. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Lanur, Alex ,. 1985. Logika: Selayang Pandang. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius
Sonny Keraf, A. dan Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan:
Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Wallace, Walter L. 1971. The Logic of Science in Sociology.
New York: Aldine Publishing Company
Wedberg, Anders. 1982. A History of Philosophy. Oxford:
Clarendon Press. Volume 1 & 2.
14