際際滷

際際滷Share a Scribd company logo
Novels "Sepucuk Surat Cinta untuk Rauzatul Zahra"
TENTANG PENULIS 
Mukhlisin adalah sebuah 
nama yang diberikan oleh 
kedua orang tua dari seorang 
ibu dan ayah, pada 9 
September 1994, la ia dikenal 
sebagai sosok orang pendiam, 
murah senyum, dan ikhlas. 
Namun dibalik itu semuan 
semenjak dia beranjak 
dewasa dia sudah 
menyelesaikan sekolahnya di 
SD Negeri Parom, MTsN 
Jeuram dan MAN Jeuram, dan sekarang dia sudah 
beranjak di dunia Kampus yakni di Fakultas kesehatan 
Masyarakat Universitas Teuku Umar maulaboh Aceh 
Barat. Beberapa penghargaan berhasil 
diraihnya, antara lain, Juara umum di SD Negeri Parom, 
Juara kelas di MTsN Jeuram, dan MAN Jeuram 
Tak jarang terkadang ia juga diundang untuk berbicara 
di forum-forum resmi seperti Sosialisasi dan Pelatihan- 
Pelatihan, baik dalam kapasitasnya sebagai Pemateri 
maupun motivator.
Mukhlisin atau suka disapa dengan nama Muklis ini ber 
alamat di Desa Parom Kec. Seunagan Kab. Nagan Raya. 
Hobby : Mendengar, Menulis, 
Membaca, dan 
Menyampaikan. 
Motto : Hidup ini indah jika 
kita indahkan, buatlah orang 
disekitar kita itu tertawa, 
walau kita jadi bahan 
tertawaan. 
PENGANTAR PENERBIT 
Sekapur Sirih dari Penulis 
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
Bismillaahirrahmaanirrahiim, 
subhanallah,alhamdulillaah, 
lailahaillallah,allahu akabar, 
wash shalatu wassalaamu'ala rasuulillaah! 
Dalam hidup ini tak ada yang lebih saya cintai dari 
Allah dan Rasul-Nya. Lakal hamdu wasy syukru ya 
Rabb. Duhai Tuhanku, kepada-Mu hamba bersimpuh, 
hamba sangat bersyukur telah Engkau anugerahi rasa 
CINTA yang indah ini. 
Rasa Cinta yang indah inilah yang membuat saya
merasa hidup ini dengan segala suka dan dukanya terasa 
indah. 
Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan 
mencintai saya dengan segala nikmat yang telah 
diberikan kepada saya. Nikmat yang saya sadari 
maupun yang tidak saya sadari. Selain nikmat rasa cinta 
kepada Allah dan Rasul-Nya, nikmat yang rasakan 
sangat agung 
adalah nikmat indahnya mengenal Islam. Islam, yang 
ruhnya adalah ruh cinta kepada semesta alam. 
Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan 
mencintai saya dengan segala anugerah yang telah 
diberikan kepada saya. Di antara anugerah yang 
membuat saya merasa begitu disayang Allah adalah 
anugerah suka membaca dan menulis. Dengan banyak 
membaca saya semakin mengenal Allah, semakin 
mengenal Rasul-Nya, semakin mengenal sifat dan jati 
diri orang-orang besar yang saleh dan mulia. 
Dengan membaca saya merasakan bisa melipat 
ruang dan waktu. Saya bisa merasakan hidup di 
berbagai 
tempat dan saat. Saya bisa menghayati berbagai macam 
perasaan jiwa. Saya bisa merasakan ketulusan Abu 
Bakar 
saat menemani hijrah Baginda Rasul. Saya bisa 
merasakan dahsyatnya doa Baginda Nabi saat berdoa
sambil menangis menjelang Perang Badar. Saya bisa 
merasakan kesedihan kota Madinah saat Rasulullah 
wafat. Saya bisa merasakan rasa pilu tiada tara saat 
Sayyidina Husein, cucu Rasulullah Saw. dibantai di 
Karbala. Saya bisa merasakan semangat Imam Bukhari 
saat bertahun-tahun mengembara mengumpulkan 
hadishadis 
sahih. Saya bisa merasakan kobaran keberanian 
tiada tara saat mendengarkan pidato Thariq bin Ziyad 
saat membakar kapal-kapal tentaranya begitu menginjak 
tanah Andalusia. 
Dengan membaca saya bisa merasakan indahnya 
musim semi di Istana Al Hamra. Saya bisa merasakan 
dahsyatnya rasa rindu Majnun pada Laela. Saya bisa 
mencium aroma darah yang menggenang di Kota 
Baghdad karena pembantaian yang dilakukan oleh 
Tentara Tartar. Saya juga merasakan aroma yang sama 
ketika Amerika melakukan pembantaian yang sama di 
Baghdad. Saya bisa merasakan perasaan hancur seorang 
ayah di Palestina yang anak kesayangannya ditembak 
mati di pangkuannya oleh Tentara Israel, seperti yang 
dialami ayah Muhammad Al Dorrah. Saya bisa 
merasakan 
ketegangan hidup bergelut dengan laut dan ikan hiu 
sendirian berhari-hari dan bermalam-malam seperti 
yang
dialami Pak Tua dalam The Old Man and The Sea. Saya 
bisa merasakan rasa patriot tiada tara yang dirasakan 
oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamirkan 
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Itulah setetes perasaan yang saya dapat dari membaca. 
Masih ada ribuan perasaan dan pengalaman dari 
membaca yang tidak mungkin saya ceritakan di sini. 
Inilah satu anugerah yang saya rasakan sangat indah, 
saya rasakan betapa Tuhan sangat mencintai saya. 
Dan dengan menulis saya merasakan kenikmatan 
yang tidak kalah dengan kenikmatan membaca. Dengan 
menulis saya bisa menciptakan perasaan saya sendiri. 
Saya bisa mengajak jiwa saya semangat, bahagia, sedih, 
haru, bergetar dan lain sebagainya. Dan saya bisa 
mengajak orang lain merasakan apa yang saya rasakan. 
Dengan menulis saya bisa mengajak jiwa saya semangat 
ketika sedang melemah. Saya bisa mengajak jiwa saya 
optimis memandang terang cahaya ketika sedang 
merasa 
sedih dan redup. Dengan menulis saya seolah bisa 
mengobati diri saya sendiri ketika saya sedang sakit. 
Dan 
dengan menulis saya merasa lebih berdaya. Saya merasa 
menemukan ruang yang pas untuk mengajak diri sendiri 
dan orang lain berusaha menjadi lebih baik dan berdaya.
Dan dengan menulis saya merasakan betapa Tuhan 
begitu 
mencintai saya. Allahu akbar! 
Kali ini saya menulis sebuah novel yang berjudul 
SEPUCUK SURAT CINTA UNTUK RAUZATUL 
ZAHRA Perlu sidang pembaca ketahui bahwa 
sesungguhnya novel ini saya coba tulis berdasarakan 
Realita dan fakta yang saya alami sekarang ini 
begitulah. Saya hanya bisa merencanakan, tapi hasilnya, 
Allah jualah yang menentukan. Baiklah!  
Dalam novel sebagian isinya saya angkat dari kisah 
Nyata. saya mencoba menulis tentang indahnya 
ketegaran dan ketulusan. Saya juga mencoba 
membahas tindakan ringkasan atau petikan dari roman-roman 
Cinta. 
Meskipun berbentuk petikan atau ringkasan, namun 
roman "Dalam Cinta" ini insya Allah sudah 
menyuguhkan jalinan cerita yang utuh. 
Saya juga mencoba mengajak para generasi muda untuk 
optimis menatap masa depan. Memang belum detil 
dalam novel ini. Karena baru pertama kali menulis dan 
ini adalah ringkasannya. Lebih detilnya insya Allah ada 
dalam novel sesungguhnya yang masih dalam proses 
pematangan. 
Sesungguhnya, novel ini merupakan hasil riset kecil 
saya terhadap beberapa kehidupan Pribadi, mahasiswa 
dan siswa. saya juga mengucapkan terima kasih kepada 
mereka yang berperan dan berjasa bagi lahimya karya 
saya ini.
Pertama dengan rasa cinta mendalam saya sampaikan 
rasa terima kasih kepada kawan-kawan di SMA 1 
Beutong, Safwani, odi, Hermansyah, Pedi, Andri, 
musliadi, dan yang teristimewa untukmu Rauzatul 
Zahra.. 
Juga kepada siapa saja, yang dengan tulus telah 
mendoakan saya dan mengapresiasi karya-karya saya. 
Kepada mereka semua saya sampaikan jazakumullah 
khairal jaza'. Wassalamu'alaikum. 
Meulaboh, 5 November - 2014 
Mukhlisin
DAFTAR ISI 
Tentang Penulis 
Pengantar Penerbit 
Bab 1 : Detik-Detik Itu ..
BAB 1 
Detik-Detik Itu 
Awal dari sebuah akhir, begitulah ceritaku dan kiasan 
yang ku buat untuk memaknai sebuah CINTA. CINTA adalah 
seberkas cahaya yang terang dalam kegelapan, dari bab-bab 
baru yang akan tertulis dalam lembaran buku kehidupan 
seorang anak manusia. Lembar-lembar kisah kehidupan 
yang pasti sangat berbeda dengan sebelumnya.
Cinta ini adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam 
hidup seseorang sebut saja (Muklis). Setiap detik menjelang 
nya merambat begitu lamban , dilautan hati yang penuh 
bunga. Senyum bertebaran di wajah-wajah cerah, yang kian 
berseri seiring mendekatnya detik-detik penuh sejarah itu. 
Muklis, masih ingat gak detik2 itu ? seakan hati selau 
bertanya. Detik2 disaat berjumpa dengannya saat pertama 
kali, sebut saja (Zahra), detik-detik yang seolah tak kunjung 
tiba, namun berlalu secepat angin bertiup. Sungguh 
semuanya masih melekat di pelupuk mataku, kau pandang 
dia dengan seksama, lalu ikrarpun mengalir dalam jiwa,
menghiliri hari itu dengan penuh syukur dan sebentuk rasa 
yang tak terdefinisikan. 
Hanya allah yang tahu apa yang mengendap jauh di dasar 
jiwaku pagi itu, ada langit yang masih biru ada cicit burung 
dan lambaian bunga tanjung dihalaman namun saat itu aku 
tahu, mulai hari ini setiap pagi, siang dan sore hariku takkan 
sama lagi, aku adalah seorang yang bukan dulu lagi yang tak 
mengenal yang namanya CINTA. 
Detik-detik itu sungguh sebuah momentum sederhana yang 
memiliki energy potensial dahsyat untuk mengubah 
kehidupan dua anak manusia yang akan menjadi Sosok 
manusia yang saling mencintai, benarkan Muklis ? dia 
adalah goresan pertama dari lembaran-lembaran kosong 
yang menunggu untuk kita bubuhi kisah bersamanya, inilah 
awal dari sebuah kerja besar yang telah menunggu dan 
kamu lakukan di saat itu di SMA 3 Kuala Kec, Seunagan Kab. 
Nagan Raya. 
Pada saat yang sama, Cinta adalah kata terakhir yang tertulis 
dalam bab-bab di masa itu, inilah akhir dari segala hal yang 
bersifat kesendirian. Tidak akan lagi kita merasa bahagia 
atau sedi sendiri, bahkan tidak akan bias kita melakukan 
banyak hal hanya untuk menuruti keinginan sendiri. Kini 
telah hadir orang yang kita Cintai yang memperhatikan dan 
perlu diperhatikan, tempat curahan hati, berbagi rasa, 
canda, tangis bahagia. Dan seseorang itu adalah Kamu
(Rauzatul Zahra) Aku Mencintaimu dengan sepenuh hatiku 
I Love you Forever hanya itu dan tak bisa kututupi. 
Zahra, Salam Sejatera buat dirimu, tak sanggup dan 
tak kuasa aku membendung hempasan haru biru yang 
melucuti seluruh kekuatanku, tepat beberapa detik setelah 
mengenalmu waktu itu. Hanyut aku dalam sebuah 
kenyataan yang mengambangkan diri ini antara ada dan 
tiada. Aku sadar, kamu sebuah pendakian telah 
menghampar di hadapan kita dan aku hanya seorang hamba 
yang lemah. 
Sebuah kesadaran lain menjentikkan aku dari 
sejurus keterpanaan, kenyataan, Cinta ini tidak hanya 
sebatas dan sekedar ucapan atau simbolis, namun lebih dari 
itu Cinta yang sesungguhnya adalah penyatuan dua anak 
manusia atas nama Allah yang setelah detik-detik ijab qabul 
segala hal yang haram antara mereka sebelumnya menjadi 
Halal. Zahra, inilah penyatuan dua insan yang masing-masing 
telah tumbuh dalam lingkungan, budaya, dan cara hidupnya 
sendiri yang punya latar belakang kehidupan, cara pandang, 
sifat dan sikap masing-masing. Penyatuan dua jiwa yang 
nantinya akan saling menyalaraskan ritme cita, cinta, rasa, 
harapan yang sebelumnya adalah hak perseoranagn dari 
mereka karena aku tahu ini bukan hal yang mudah. Lantas 
dalam hatiku berkata Good Luck. Sebuah pernyataan yang
penuh makna betapa Allah memberi kemudahan bagi 
mereka Cinta dan taat kepada Alla swt. 
Zahra, kau adalah mutiara jiwa yang menebarkan 
keindahan tanpa henti buatku, diwaktu-waktu hening sering 
aku melihat dirimu dan baying-bayangmu selalu 
memotivasiku untuk lebih maju. Cinta yang ku bangun 
bukanlah cinta layaknya roman picisan atau kisah 
sentimentil first love at first sight. Tetapi sebuah cinta yang 
didasari Cinta kepada Allah, sesungguhnya hal inilah yang 
menguatkan cinta dan kasih saying karena Allah yang 
menumbuh rasa cinta di hati manusia. 
Nilai kecintaan kita akan teruji manakala kita harus 
memilih dan memilah untuk memberi yang terbaik bagi kita. 
Misalnya ketika kita berhadapan dengan kondisi yang tidak 
menyenangkan dengan pendidikan, pekerjaan atau aktifitas-aktifitas 
lain dengan kawan, kerabat dan siapapun. Tugas 
berat memang, namun perlu selalu di ingat bahwa kita 
tengah membangun sebuah peradaban kecil (Cinta). Kita 
pasti pernah menyesal tidak lulus ujian, tidak memenangkan 
sebuah kejuaraan atau tidak kita dapatkan sesuatu benda 
yang kita harapkan namun penyesalan itu datang. 
nah, bagaiaman setelah penyesalan itu datang ??? 
simak kisah selanjutnya di Bab berikutnya.. Bersambung

More Related Content

Novels "Sepucuk Surat Cinta untuk Rauzatul Zahra"

  • 2. TENTANG PENULIS Mukhlisin adalah sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tua dari seorang ibu dan ayah, pada 9 September 1994, la ia dikenal sebagai sosok orang pendiam, murah senyum, dan ikhlas. Namun dibalik itu semuan semenjak dia beranjak dewasa dia sudah menyelesaikan sekolahnya di SD Negeri Parom, MTsN Jeuram dan MAN Jeuram, dan sekarang dia sudah beranjak di dunia Kampus yakni di Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar maulaboh Aceh Barat. Beberapa penghargaan berhasil diraihnya, antara lain, Juara umum di SD Negeri Parom, Juara kelas di MTsN Jeuram, dan MAN Jeuram Tak jarang terkadang ia juga diundang untuk berbicara di forum-forum resmi seperti Sosialisasi dan Pelatihan- Pelatihan, baik dalam kapasitasnya sebagai Pemateri maupun motivator.
  • 3. Mukhlisin atau suka disapa dengan nama Muklis ini ber alamat di Desa Parom Kec. Seunagan Kab. Nagan Raya. Hobby : Mendengar, Menulis, Membaca, dan Menyampaikan. Motto : Hidup ini indah jika kita indahkan, buatlah orang disekitar kita itu tertawa, walau kita jadi bahan tertawaan. PENGANTAR PENERBIT Sekapur Sirih dari Penulis Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bismillaahirrahmaanirrahiim, subhanallah,alhamdulillaah, lailahaillallah,allahu akabar, wash shalatu wassalaamu'ala rasuulillaah! Dalam hidup ini tak ada yang lebih saya cintai dari Allah dan Rasul-Nya. Lakal hamdu wasy syukru ya Rabb. Duhai Tuhanku, kepada-Mu hamba bersimpuh, hamba sangat bersyukur telah Engkau anugerahi rasa CINTA yang indah ini. Rasa Cinta yang indah inilah yang membuat saya
  • 4. merasa hidup ini dengan segala suka dan dukanya terasa indah. Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan mencintai saya dengan segala nikmat yang telah diberikan kepada saya. Nikmat yang saya sadari maupun yang tidak saya sadari. Selain nikmat rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, nikmat yang rasakan sangat agung adalah nikmat indahnya mengenal Islam. Islam, yang ruhnya adalah ruh cinta kepada semesta alam. Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan mencintai saya dengan segala anugerah yang telah diberikan kepada saya. Di antara anugerah yang membuat saya merasa begitu disayang Allah adalah anugerah suka membaca dan menulis. Dengan banyak membaca saya semakin mengenal Allah, semakin mengenal Rasul-Nya, semakin mengenal sifat dan jati diri orang-orang besar yang saleh dan mulia. Dengan membaca saya merasakan bisa melipat ruang dan waktu. Saya bisa merasakan hidup di berbagai tempat dan saat. Saya bisa menghayati berbagai macam perasaan jiwa. Saya bisa merasakan ketulusan Abu Bakar saat menemani hijrah Baginda Rasul. Saya bisa merasakan dahsyatnya doa Baginda Nabi saat berdoa
  • 5. sambil menangis menjelang Perang Badar. Saya bisa merasakan kesedihan kota Madinah saat Rasulullah wafat. Saya bisa merasakan rasa pilu tiada tara saat Sayyidina Husein, cucu Rasulullah Saw. dibantai di Karbala. Saya bisa merasakan semangat Imam Bukhari saat bertahun-tahun mengembara mengumpulkan hadishadis sahih. Saya bisa merasakan kobaran keberanian tiada tara saat mendengarkan pidato Thariq bin Ziyad saat membakar kapal-kapal tentaranya begitu menginjak tanah Andalusia. Dengan membaca saya bisa merasakan indahnya musim semi di Istana Al Hamra. Saya bisa merasakan dahsyatnya rasa rindu Majnun pada Laela. Saya bisa mencium aroma darah yang menggenang di Kota Baghdad karena pembantaian yang dilakukan oleh Tentara Tartar. Saya juga merasakan aroma yang sama ketika Amerika melakukan pembantaian yang sama di Baghdad. Saya bisa merasakan perasaan hancur seorang ayah di Palestina yang anak kesayangannya ditembak mati di pangkuannya oleh Tentara Israel, seperti yang dialami ayah Muhammad Al Dorrah. Saya bisa merasakan ketegangan hidup bergelut dengan laut dan ikan hiu sendirian berhari-hari dan bermalam-malam seperti yang
  • 6. dialami Pak Tua dalam The Old Man and The Sea. Saya bisa merasakan rasa patriot tiada tara yang dirasakan oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itulah setetes perasaan yang saya dapat dari membaca. Masih ada ribuan perasaan dan pengalaman dari membaca yang tidak mungkin saya ceritakan di sini. Inilah satu anugerah yang saya rasakan sangat indah, saya rasakan betapa Tuhan sangat mencintai saya. Dan dengan menulis saya merasakan kenikmatan yang tidak kalah dengan kenikmatan membaca. Dengan menulis saya bisa menciptakan perasaan saya sendiri. Saya bisa mengajak jiwa saya semangat, bahagia, sedih, haru, bergetar dan lain sebagainya. Dan saya bisa mengajak orang lain merasakan apa yang saya rasakan. Dengan menulis saya bisa mengajak jiwa saya semangat ketika sedang melemah. Saya bisa mengajak jiwa saya optimis memandang terang cahaya ketika sedang merasa sedih dan redup. Dengan menulis saya seolah bisa mengobati diri saya sendiri ketika saya sedang sakit. Dan dengan menulis saya merasa lebih berdaya. Saya merasa menemukan ruang yang pas untuk mengajak diri sendiri dan orang lain berusaha menjadi lebih baik dan berdaya.
  • 7. Dan dengan menulis saya merasakan betapa Tuhan begitu mencintai saya. Allahu akbar! Kali ini saya menulis sebuah novel yang berjudul SEPUCUK SURAT CINTA UNTUK RAUZATUL ZAHRA Perlu sidang pembaca ketahui bahwa sesungguhnya novel ini saya coba tulis berdasarakan Realita dan fakta yang saya alami sekarang ini begitulah. Saya hanya bisa merencanakan, tapi hasilnya, Allah jualah yang menentukan. Baiklah! Dalam novel sebagian isinya saya angkat dari kisah Nyata. saya mencoba menulis tentang indahnya ketegaran dan ketulusan. Saya juga mencoba membahas tindakan ringkasan atau petikan dari roman-roman Cinta. Meskipun berbentuk petikan atau ringkasan, namun roman "Dalam Cinta" ini insya Allah sudah menyuguhkan jalinan cerita yang utuh. Saya juga mencoba mengajak para generasi muda untuk optimis menatap masa depan. Memang belum detil dalam novel ini. Karena baru pertama kali menulis dan ini adalah ringkasannya. Lebih detilnya insya Allah ada dalam novel sesungguhnya yang masih dalam proses pematangan. Sesungguhnya, novel ini merupakan hasil riset kecil saya terhadap beberapa kehidupan Pribadi, mahasiswa dan siswa. saya juga mengucapkan terima kasih kepada mereka yang berperan dan berjasa bagi lahimya karya saya ini.
  • 8. Pertama dengan rasa cinta mendalam saya sampaikan rasa terima kasih kepada kawan-kawan di SMA 1 Beutong, Safwani, odi, Hermansyah, Pedi, Andri, musliadi, dan yang teristimewa untukmu Rauzatul Zahra.. Juga kepada siapa saja, yang dengan tulus telah mendoakan saya dan mengapresiasi karya-karya saya. Kepada mereka semua saya sampaikan jazakumullah khairal jaza'. Wassalamu'alaikum. Meulaboh, 5 November - 2014 Mukhlisin
  • 9. DAFTAR ISI Tentang Penulis Pengantar Penerbit Bab 1 : Detik-Detik Itu ..
  • 10. BAB 1 Detik-Detik Itu Awal dari sebuah akhir, begitulah ceritaku dan kiasan yang ku buat untuk memaknai sebuah CINTA. CINTA adalah seberkas cahaya yang terang dalam kegelapan, dari bab-bab baru yang akan tertulis dalam lembaran buku kehidupan seorang anak manusia. Lembar-lembar kisah kehidupan yang pasti sangat berbeda dengan sebelumnya.
  • 11. Cinta ini adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam hidup seseorang sebut saja (Muklis). Setiap detik menjelang nya merambat begitu lamban , dilautan hati yang penuh bunga. Senyum bertebaran di wajah-wajah cerah, yang kian berseri seiring mendekatnya detik-detik penuh sejarah itu. Muklis, masih ingat gak detik2 itu ? seakan hati selau bertanya. Detik2 disaat berjumpa dengannya saat pertama kali, sebut saja (Zahra), detik-detik yang seolah tak kunjung tiba, namun berlalu secepat angin bertiup. Sungguh semuanya masih melekat di pelupuk mataku, kau pandang dia dengan seksama, lalu ikrarpun mengalir dalam jiwa,
  • 12. menghiliri hari itu dengan penuh syukur dan sebentuk rasa yang tak terdefinisikan. Hanya allah yang tahu apa yang mengendap jauh di dasar jiwaku pagi itu, ada langit yang masih biru ada cicit burung dan lambaian bunga tanjung dihalaman namun saat itu aku tahu, mulai hari ini setiap pagi, siang dan sore hariku takkan sama lagi, aku adalah seorang yang bukan dulu lagi yang tak mengenal yang namanya CINTA. Detik-detik itu sungguh sebuah momentum sederhana yang memiliki energy potensial dahsyat untuk mengubah kehidupan dua anak manusia yang akan menjadi Sosok manusia yang saling mencintai, benarkan Muklis ? dia adalah goresan pertama dari lembaran-lembaran kosong yang menunggu untuk kita bubuhi kisah bersamanya, inilah awal dari sebuah kerja besar yang telah menunggu dan kamu lakukan di saat itu di SMA 3 Kuala Kec, Seunagan Kab. Nagan Raya. Pada saat yang sama, Cinta adalah kata terakhir yang tertulis dalam bab-bab di masa itu, inilah akhir dari segala hal yang bersifat kesendirian. Tidak akan lagi kita merasa bahagia atau sedi sendiri, bahkan tidak akan bias kita melakukan banyak hal hanya untuk menuruti keinginan sendiri. Kini telah hadir orang yang kita Cintai yang memperhatikan dan perlu diperhatikan, tempat curahan hati, berbagi rasa, canda, tangis bahagia. Dan seseorang itu adalah Kamu
  • 13. (Rauzatul Zahra) Aku Mencintaimu dengan sepenuh hatiku I Love you Forever hanya itu dan tak bisa kututupi. Zahra, Salam Sejatera buat dirimu, tak sanggup dan tak kuasa aku membendung hempasan haru biru yang melucuti seluruh kekuatanku, tepat beberapa detik setelah mengenalmu waktu itu. Hanyut aku dalam sebuah kenyataan yang mengambangkan diri ini antara ada dan tiada. Aku sadar, kamu sebuah pendakian telah menghampar di hadapan kita dan aku hanya seorang hamba yang lemah. Sebuah kesadaran lain menjentikkan aku dari sejurus keterpanaan, kenyataan, Cinta ini tidak hanya sebatas dan sekedar ucapan atau simbolis, namun lebih dari itu Cinta yang sesungguhnya adalah penyatuan dua anak manusia atas nama Allah yang setelah detik-detik ijab qabul segala hal yang haram antara mereka sebelumnya menjadi Halal. Zahra, inilah penyatuan dua insan yang masing-masing telah tumbuh dalam lingkungan, budaya, dan cara hidupnya sendiri yang punya latar belakang kehidupan, cara pandang, sifat dan sikap masing-masing. Penyatuan dua jiwa yang nantinya akan saling menyalaraskan ritme cita, cinta, rasa, harapan yang sebelumnya adalah hak perseoranagn dari mereka karena aku tahu ini bukan hal yang mudah. Lantas dalam hatiku berkata Good Luck. Sebuah pernyataan yang
  • 14. penuh makna betapa Allah memberi kemudahan bagi mereka Cinta dan taat kepada Alla swt. Zahra, kau adalah mutiara jiwa yang menebarkan keindahan tanpa henti buatku, diwaktu-waktu hening sering aku melihat dirimu dan baying-bayangmu selalu memotivasiku untuk lebih maju. Cinta yang ku bangun bukanlah cinta layaknya roman picisan atau kisah sentimentil first love at first sight. Tetapi sebuah cinta yang didasari Cinta kepada Allah, sesungguhnya hal inilah yang menguatkan cinta dan kasih saying karena Allah yang menumbuh rasa cinta di hati manusia. Nilai kecintaan kita akan teruji manakala kita harus memilih dan memilah untuk memberi yang terbaik bagi kita. Misalnya ketika kita berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan dengan pendidikan, pekerjaan atau aktifitas-aktifitas lain dengan kawan, kerabat dan siapapun. Tugas berat memang, namun perlu selalu di ingat bahwa kita tengah membangun sebuah peradaban kecil (Cinta). Kita pasti pernah menyesal tidak lulus ujian, tidak memenangkan sebuah kejuaraan atau tidak kita dapatkan sesuatu benda yang kita harapkan namun penyesalan itu datang. nah, bagaiaman setelah penyesalan itu datang ??? simak kisah selanjutnya di Bab berikutnya.. Bersambung