Dokumen tersebut membahas tentang Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut siswa sekolah dasar di Indonesia. UKGS melakukan pelayanan kesehatan gigi melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. UKGS dilaksanakan di sekolah melalui pendidikan kesehatan gigi, sikat gigi bersama, pemberian fluorida, dan pengobatan gigi.
Latar belakang: Karies gigi merupakan penyakit jaringan gigi yang ditandai
dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi mulai dari email, dentin
dan meluas ke arah pulpa. Berdasarkan hasil RISKESDAS tahun 2018, ditemui
prevalensi gigi berlubang/rusak/karies untuk Provinsi Sulawesi Selatan sebesar
55,5%, salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, Kabupaten Jeneponto
juga ditemukan prevalensi yang cukup besar yaitu 48,27% yang didominasi oleh
usia 5-9 tahun. Pengetahuan yang baik akan memberikan dampak perilaku
kesehatan gigi dan mulut yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan:
meningkatkan pengetahuan siswa SDN 82 Bontokatangka terhadap kesehatan gigi
dan mulut. Metode: Penyuluhan dengan teknik demonstrasi dan ceramah di
hadapan siswa menggunakan media flichart, model studi, sikat gigi dan pasta gigi
serta mengukur tingkat pengetahuan dengan kuisioner pre-test dan post-test.
Jumlah responden sebanyak 36 anak SDN 82 Bonto Katangka, Kec. Tarowang,
Kab. Jeneponto. Hasil: Sejumlah 36 responden mengalami peningkatan
pengetahuan dari kurang menjadi baik setelah diberikan penyuluhan yaitu sebesar
36,2%. Simpulan: Seluruh responden mengalami peningkatan pengetahuan
mengenai kesehatan gigi dan mulut.
zxcvbnm
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media boneka tangan terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa usia 9-10 tahun di SDN Ngebel Gede II Sleman Yogyakarta. Penyakit gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Penyuluhan sebelumnya menggunakan poster dan model gigi, namun belum pernah menggunakan boneka tangan. Peneliti bermaksud menguji
1. Karies gigi merupakan masalah kesehatan utama pada anak sekolah usia 6-12 tahun. Faktor yang mempengaruhinya antara lain pola makan yang kaya karbohidrat terutama makanan manis, dan kebiasaan menggosok gigi.
2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makanan jajanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada siswa SD di Bandung. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan
Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Darma Wanita Kelurahan Dana Kecamatan Watopute Kabupaten Muna. Dokumen menjelaskan tentang tingginya prevalensi karies gigi pada balita di daerah tersebut yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu ter
Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Darma Wanita Kelurahan Dana Kecamatan Watopute Kabupaten Muna. Dokumen menjelaskan tentang tingginya prevalensi karies gigi pada balita di daerah tersebut yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu ter
Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Darma Wanita Kelurahan Dana Kecamatan Watopute Kabupaten Muna. Dokumen menjelaskan tentang tingginya prevalensi karies gigi pada balita di daerah tersebut yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu ter
Penelitian ini mengkaji hubungan status sosial ekonomi orang tua dengan kejadian karies pada gigi sulung anak usia 4-5 tahun di beberapa TK di Kota Padang. Hasilnya menunjukkan bahwa responden dengan status sosial ekonomi tidak miskin dan status karies baik lebih dominan. Namun, secara statistik tidak ditemukan hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan kejadian karies pada anak. Disarankan
1. PKMM ini bertujuan meningkatkan kesehatan gigi siswa SD melalui kalender perawatan gigi interaktif
2. Kalender ini akan digunakan untuk mengingatkan siswa dan orang tua akan pentingnya perawatan gigi rutin
3. Diharapkan siswa lebih peduli terhadap kesehatan gigi setelah menggunakan kalender perawatan gigi ini
Proposal ini menawarkan kerja sama pelayanan kesehatan gigi dan mulut di SD Negeri di Kota Pontianak. Program pelayanan akan memberikan edukasi kesehatan gigi, pencegahan penyakit, perawatan gigi, dan rujukan ke dokter gigi. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan menurunkan angka penyakit gigi serta memberikan perawatan gigi yang dibutuhkan bagi siswa. Biaya program se
1. Dokumen tersebut membahas program UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) untuk meningkatkan kesehatan gigi siswa SD.
2. Status kesehatan gigi anak Indonesia masih buruk dengan tingginya angka gigi berlubang dan penyakit mulut.
3. Program UKGS diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan menurunkan angka penyakit gigi.
Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018. Masalah kesehatan gigi terbesar di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit sebesar 45,3%, sedangkan masalah mulut terbesar adalah gusi bengkak sebesar 14%. Mayoritas penduduk Indonesia memiliki perilaku menyikat gigi yang baik tetapi hanya sedikit yang menyikat gigi pada wak
UKGS adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang ditujukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan gigi siswa di sekolah dengan melakukan upaya promotif dan preventif secara perorangan. Program ini berjalan sejak 1951 namun hasil survei masih menunjukkan tingkat karies gigi yang tinggi pada anak usia di bawah 12 tahun. Fokus program di sekolah karena sekolah merupakan tempat yang tepat untuk mengubah perilaku siswa men
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Batuwarno Wonogiriarifdudat1
油
Dokumen tersebut membahas tentang pelaksanaan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di Wilayah UPTD Puskesmas Batuwarno Kabupaten Wonogiri. UKGS bertujuan untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut siswa melalui kegiatan promosi, preventif, dan kuratif yang melibatkan peran guru, tenaga kesehatan, dan orang tua siswa. Kegiatan utama UKGS antara lain pendidikan kesehatan gigi, sikat
Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Darma Wanita Kelurahan Dana Kecamatan Watopute Kabupaten Muna. Dokumen menjelaskan tentang tingginya prevalensi karies gigi pada balita di daerah tersebut yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu ter
Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Darma Wanita Kelurahan Dana Kecamatan Watopute Kabupaten Muna. Dokumen menjelaskan tentang tingginya prevalensi karies gigi pada balita di daerah tersebut yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu ter
Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Darma Wanita Kelurahan Dana Kecamatan Watopute Kabupaten Muna. Dokumen menjelaskan tentang tingginya prevalensi karies gigi pada balita di daerah tersebut yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu ter
Penelitian ini mengkaji hubungan status sosial ekonomi orang tua dengan kejadian karies pada gigi sulung anak usia 4-5 tahun di beberapa TK di Kota Padang. Hasilnya menunjukkan bahwa responden dengan status sosial ekonomi tidak miskin dan status karies baik lebih dominan. Namun, secara statistik tidak ditemukan hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan kejadian karies pada anak. Disarankan
1. PKMM ini bertujuan meningkatkan kesehatan gigi siswa SD melalui kalender perawatan gigi interaktif
2. Kalender ini akan digunakan untuk mengingatkan siswa dan orang tua akan pentingnya perawatan gigi rutin
3. Diharapkan siswa lebih peduli terhadap kesehatan gigi setelah menggunakan kalender perawatan gigi ini
Proposal ini menawarkan kerja sama pelayanan kesehatan gigi dan mulut di SD Negeri di Kota Pontianak. Program pelayanan akan memberikan edukasi kesehatan gigi, pencegahan penyakit, perawatan gigi, dan rujukan ke dokter gigi. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan menurunkan angka penyakit gigi serta memberikan perawatan gigi yang dibutuhkan bagi siswa. Biaya program se
1. Dokumen tersebut membahas program UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) untuk meningkatkan kesehatan gigi siswa SD.
2. Status kesehatan gigi anak Indonesia masih buruk dengan tingginya angka gigi berlubang dan penyakit mulut.
3. Program UKGS diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan menurunkan angka penyakit gigi.
Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018. Masalah kesehatan gigi terbesar di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit sebesar 45,3%, sedangkan masalah mulut terbesar adalah gusi bengkak sebesar 14%. Mayoritas penduduk Indonesia memiliki perilaku menyikat gigi yang baik tetapi hanya sedikit yang menyikat gigi pada wak
UKGS adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang ditujukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan gigi siswa di sekolah dengan melakukan upaya promotif dan preventif secara perorangan. Program ini berjalan sejak 1951 namun hasil survei masih menunjukkan tingkat karies gigi yang tinggi pada anak usia di bawah 12 tahun. Fokus program di sekolah karena sekolah merupakan tempat yang tepat untuk mengubah perilaku siswa men
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Batuwarno Wonogiriarifdudat1
油
Dokumen tersebut membahas tentang pelaksanaan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) di Wilayah UPTD Puskesmas Batuwarno Kabupaten Wonogiri. UKGS bertujuan untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut siswa melalui kegiatan promosi, preventif, dan kuratif yang melibatkan peran guru, tenaga kesehatan, dan orang tua siswa. Kegiatan utama UKGS antara lain pendidikan kesehatan gigi, sikat
Scenario Planning Bonus Demografi 2045 Menuju Satu Abad Indonesia EmasDadang Solihin
油
Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, yaitu Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan, kajian ini menekankan pentingnya membangun Indonesia yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan di tahun 2045. Dalam konteks itu, optimalisasi angkatan kerja dan pemanfaatan bonus demografi menjadi faktor krusial untuk mencapai visi tersebut.
Masukan untuk Peta Jalan Strategis Keangkasaan IndonesiaDadang Solihin
油
Tujuan penyusunan naskah masukan untuk peta jalan strategis keangkasaan Indonesia ini adalah untuk meningkatkan kedaulatan dan pemanfaatan wilayah angkasa Indonesia dalam rangka memperkuat Ketahanan Nasional dan Visi Indonesia Emas 2045.
1. PAPER
Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku menyikat gigi pada
anak usia sekolah SD Inpres perumnas 1 Makassar
DISUSUN OLEH :
NAMA : NOLLA DWI UTAMI
NIM : P01770022083
KELAS : 1B TINGKAT 1
DOSEN PEMBIMBING :
IZTIN SYARIFAHMA'NI, M.PD
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KEMENKES BENGKULU
JURUSAN PROMOSI KESEHATAN
TAHUN 2022
2. ABSTRAK
Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku menyikat gigi pada anak usia
sekolah SD Inpres perumnas 1 Makassar (dibimbing oleh Suriyani, Nofianty).
Kesehatan gigi dan mulut merupakan penunjang tercapainya kesehatan tubuh
yang optimal. Kondisi kesehatan gigi dan mulut yang terpelihara akan berpengaruh pada
peningkatan kualitas hidup dan produktifitas sumber daya manusia.
Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan
dengan perilaku menyikat gigi pada anak usia sekolah SD Inpres Perumnas 1Makassar.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey analitik dengan
pendekatan cross sectional study untuk melihat hubungan tingkat pengetahuan dengan
perilaku menyikat gigi pada anak usia sekolah SD Inpres Perumnas 1 Makassar. Jumlah
responden dalam penelitian ini sebanyak 60 orang. Data diuji statistic chi square dengan
tingkat signifikan < 0,004.
Hasil penelitian ini adalah didapatkan sebagian besar tingkat pengetahuan baik
sebanyak
24 (40,0%) responden dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 36
(60,0%). Dan perilaku menyikat gigi responden Kategori Baik 23 (38,3%) responden
dan kategori kurang 37 (61,7%) responden dan ada hubungan tingkat pengetahuan
dengan perilaku menyikat gigi pada anak usia sekolah SD Inpres Perumnas 1 Makassar.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan tingkat pengetahuan
dengan perilaku menyikat gigi pada anak usia sekolah SD Inpres perumnas 1 Makassar.
Oleh karena itu diharapkan kepada siswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang
kesehantan gigi dan perilaku menyikat gigi, agar terhindar dari berbagai penyakit gigi
dan gangguan masalah gigi.
Kata kunci : pengetahuan, perilaku menyikat gigi
Kepustakaan : 8 Buku (2014-2018) dan 12 jurnal (tahun 2016-2019)
3. BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan penunjang tercapainya kesehatan tubuh
yang optimal. Kondisi kesehatan gigi dan mulut yang terpelihara akan berpengaruh
pada peningkatan kualitas hidup dan produktifitas sumber daya manusia. Upaya
pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus dilakukan sejak dini pada usia sekolah
dasar mengingat penyakit gigi dan mulut berada pada peringkat sepuluh besar
penyakit yang terbanyak dan tersebar di berbagai wilayah(Ramadhani, 2018).
Pada usia anak sekolah dasar diperlukan untuk usaha untuk menjaga
kesehatan gigi dan mulut secara berkala, baik dalam penyuluhan pemeriksaan dan
perawatan kesehatan gigi mulut, oleh orang tua, sekolah dan instansi pemerintah
terkait. (wahyuni & hidayat, 2017).
Penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi
dan penyakit periodontal. World Health Organization (WHO) 2017, karies gigi di
wilayah Asia Selatan-Timur mencapai 75%-90% terserang karies gigi di seluruh
dunia 60-90% anak mengalami karies gigi. Prevalensi karies terus menurun di
negara maju sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia ada
kecenderungan kenaikan (Gultom, 2017).
Berdasarkan riset kesehatan dasar (indonesia basis health research) pada
tahun 2018, sebanyak 57% dari penduduk provinsi jawa tengah masih mengalami
kesehatan gigi dan mulut dengan 9,5% penduduk mendapatkan perawatan dan
pengobatan.
Presentasi mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut sebesar 93%
ditemukan pada kelompok usia 6-12 tahun, karena pada usia 6-12 tahun sebagian
besar masih memiliki kebiasaan menggosok gigi yang keliru yaitu saat mandi pagi
dan mandi soreh. Hal ini dibuktikan bahwa kebiasaan benar menggosok gigi anak
usia sekolah hanya 2% (BPPK, 2018). Ditemukan bahwa 91, 1% orang indonesia
menggosok gigi setiap hari. Namun hanya 7, 3% dari keseluruhan melakukan
penggosokan gigi dengan benar. Fakta yang terjadi 72,1% penduduk indonesia
memiliki masalah gigi berlubang dan 46,5% diantaranya tidak merawat gigi
4. berlubang (lubis & Nugrahaeni, 2018). Cara menyikat gigi yang benar sangat
penting diajarkan kepada anak- anak karena sangat mempengaruhi tingkat
kebersihan giginya. Usia anak-anak merupakan saat yang ideal untuk melatih
kemampuan motoric 4 seorang anak. Namun faktanya, di Sulawesi Selatan
penduduk yang berusia 10 tahun yang menyikat gigi dengan benar hanya 5,6%,
dengan data spesifik (10-14 tahun 4,9%, 15-24 tahun 5,9%, 25-34 tahun 6,1%, 45-
54 tahun 5,1%). Ini menunjukkan bahwa anak-anak masih kurang mendapat
pengetahuan tentang cara menyikat gigi yang benar dan menjadikan ini menjadi
salah satu faktor utama dalam tingginya kerusakan gigi pada anak (kasang,
2016).Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit gigi berlubang antara lain karena
struktur gigi, mikroorganisme mulut, lingkungan subtract (makanan), dan
lamanya waktu makanan menempel didalam mulut. Faktor lain adalah usia, jenis
kelamin, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, lingkungan, kesadaran dan perilaku
yang berhubungan dengan kesehatan gigi (Hermawan, 2016).
Sering kita jumpai, kondisi seseorang yang mengeluh sakit gigi kemudian
datang dan berobat kedokter gigi dalam keadaan terlambat. Kunjungan penderita
kepuskesmas rata-rata sudah dalam keadaan lanjut untuk berobat, sehingga dapat
diartikan bahwa tingkat kesadaran masyarakat pada umumnya untuk berobat sedini
mungkin masih belum dapat dilaksanakan. Di indonesia kesadaran orang dewasa
untuk datang ke dokter gigi kurang dari 7 % dan pada anak-anak hanya sekitar 4 %
kunjungan (Lukihardianti, 2011).
Dampak positif apabila dilakukan perawatan gigi yaitu tidak terasa sakit
radang gusi, tidak ada karies, saat mengunyah tidak tidak terasa nyeri, leher gigi
tidak kelihatan, tidak goyang, tidak terdapat plak, warna gigi putih kekuningan tidak
terdapat karang, mahkota gigi utuh. Kelalaian merawat mulut dan gigi dapat
menimbulkan dampak negatif yang menganggu aktifitas sehari- hari. Dapat
menimbulkan karies gigi pada anak yang dibiarkan tidak dilakukan perawatan akan
dapat masalah kesehatan seperti adanya rasa nyeri, gangguan tidur. Jika tidak
dilakukan perawatan akan menimbulkan rasa sakit pada gigi yang berakibat
melakukan kegiatan anak tidak hadir ke sekolah dan nafsu makan menurun sehingga
mengakibatkan gangguan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, orang tua perlu
melakukan stimulus pada anak untuk perkembangan motoric terutama melakukan
5. gosok gigi. (Khasana & Susanto, 2018).
Menurut penelitian Pontunuwu dalam Afiati dkk (2014) menjelaskan bahwa
pengetahuan yang tepat mempengaruhi perilaku kesehatan dalam meningkatkan
kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut. Namun, pengetahuan seseorang
tentang perilaku memelihara kesehatan gigi dan mulut seringkali terdapat
ketidakselarasan. Kenyataan yang lain dapat ditunjukkan pada perilaku masyarakat
yang mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan gigi. Menurut Suratri dkk (2016)
pengetahuan dan sikap ibu terhadap kesehatan atau perawatan gigi dan mulut anak
cukup baik akan tetapi perilakunya yang belum sesuai dengan pengetahuan dan
sikapnya, ini terlihat pada hanya 50% anak yang sakit gigi dibawa berobat ke
pelayanan gigi dan mulut (Gayatri, 2017).
Pada saat pengambilan data awal pada tanggal 28 Oktober 2019 di SD Inpres
Prumnas 1 Makassar yang berlokasi di Jln Bonto DG Ngirate didapatkan jumlah
siswa kelas IV sebanyak 39 Siswa, kelas V sebanyak 32 Siswa dan VI sebanyak 32
siswa, di SD inpres perumas 1 Makassar, Berdasarkan observasi nampak perawatan
giginya yang kurang bersih.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku menyikat Gigi di SD Inpres
Perumnas 1 Makassar.
B. Rumusan masalah
Dari uraian latar belakang diatas penulis dapat merumuskan inti
permasalahan dari pokok bahasan utama penelitian ini, yaitu Apakah ada
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Menyikat Gigi pada anak usia
sekolah SD Inpres Perumnas 1 Makassar?
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Adapun tujuan umum pada penelitian ini adalah diketahuinya hubungan tingkat
pengetahua tentang kesehatan gigi dengan perilaku menyikat gigi pada anak usia
sekolah SD Inpres Prumnas 1 Makassar.
6. 2. Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus dalam penilitain ini adalah.
a. Diketahuinya tingkat pengetahuan kesehatan gigi pada siswa di SD Inpres
Perumnas 1 Makassar.
b. Diketahui perilaku menyikat gigi pada siswa di SD Inpres Perumnas 1
Makassar.
c. Diketahui hubungan tingkat pengetahua tentang prilaku menyikat gigi pada
anak usia sekolah SD Inpres Perumnas 1 Makassar.
D. Manfaat penelitian
Manfaat yang diharapkan dapat dipetik dari hasil penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoritis
Bagi pembaca, penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan
tentang pentingnya menyikat gigi guna mencegah terjadinya berbagai masalah
atau gangguan dalam gigi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru dan segenap manajemen pendidikan di SD Inpres Perumnas 1
Makassar, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan
dalam meningkatkan penegetahuan siswa budaya hidup sehat
b. Bagi siswa di SD Inpres Perumnas 1 Makassar hasil penelitian ini
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan
perilaku menyikat gigi, agar terhindar dari berbagai penyakit gigi dan
gangguan atau masalah dalam kesehatan gigi.
c. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
bahan referensi dan pembandingan penelitian selanjutnya
7. BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Gigi
1. GIgi
Gigi adalah tulang keras dan kecil-kecil berwarna putih yang tumbuh tersusun,
berakar didalam gusi dan berfungsi untuk mengunyah dan mengigit. Menurut
ircham Machfoedz (2013) tugas dari gigi adalah
a. Untuk berbicara
Kehilangan gigi akan menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk
berbicara terutama gigi bagian depan. Pengucapan huruf tertentu seperti F, V
dan S pun terdengar aneh.
b. Untuk mengunyah makanan
Bersama dengan lidah dan bibir, gigi melakukan fungsi pengunyahan Fungsi
ini meliputi kombinasi pemotongan, perobekan, penghalusan makanan. Di
pindah kekiri, kanan, tengah seperti mixer atau blender supaya tercerna
dengan halus dimulut sebelum dimasukkan ke organ pencernaan mulut.
c. kecantikan
Ini jelas, senyum orang yang gigi depannya tanggal akan terlihat sedikit
kurang menarik, dibandingkan senyum orang dengan gigi yang utuh.
2. Anatomi gigi
Gambar 2.1 anatomi Gigi (sumber : Tarigan, 2016)
Struktur gigi pada manusia terbagi dua bagian yaitu bagian mahkota dan
bagian akar. Pada bagian mahkota merupakan bagian gigi yang terlihat dalam
8. mulut, sedangkan pada bagian akar merupakan bagian yang tertanam didalam
tulang rahang (Tarigan, 2016)
Menurut Tarigan tahun 2016, pada bagian gigi manusia terstruktur
tersusun atas 4 (empat) jaringan yakni:
a. Mahkota merupakan bagian yang menonjol dari rahang.
b. Leher merupakan bagian yang terletak antara mahkota dengan bagian akar
gigi.
c. Akar merupakan bagian yang tertanam didalam rahang.
d. Email dikenal juga dengan istilah Enamel, merupakan jaringan yang
berfungsi untuk melindungi tulang gigi dengan zat yang sangat keras yang
berada di bagian paling luar gigi manusia. Warna email gigi pun sebenarnya
tidak putih mutlak, kebanyakan lebih mengarah keabu-abuan dan semi
translusen. Kecuali pada kondisi enamel yang abnormal seringkali
menghasilkan warna yang menyimpang dari warna enamel yang cenderung
mengarah ke warna gelap.
e. Tulang dikenal dengan istilah dentin yaitu tulang yang merupakan lapisan
yang berada pada pada lapisan setelah email yang dibentuk dari zat kapur.
Dentim juga merupakan bagian terluas dari struktur gigi, meliputi seluruh
panjang gigi mulai dari mahkota hingga akar. Dentin pada mahkota gigi
dentin dilapisi oleh enamel, sedangkan dentin pada akar gigi dentin yang
dilapisi enamel, sedangkan dentin pada akar gigi dilapisi oleh semen.
f. Rongga gigi adalah rongga yang di dalamnya terdapat pembuluh darah
kapiler dan serabut-serabut syaraf.
g. Rongga gigi adalah rongga yang didalamnya terdapat pembuluh darah
kapiler dan serabut-serabut syaraf.
h. Pulp adalah rongga yang terdapat didalamnya terdapat pembuluh darah
kapiler serabut-serabut saraf.
3. Tugas gigi
Sesuai dengan tugas gigi, maka dikenal empat gigi, yaitu :
a. Gigi seri. Gigi ini ada empat buah diatas dan dibawah. Seluruhnya delapan,
terletak didepan. Tugasnya untuk memotong dan menggunting makanan.
Akarnya satu.
9. b. Gigi taring Gigi ini ada empat, seluruhnya diatas dua dibawah dua, terletak
di sudut mulut bentuk mahkotanya runcing, guna mencabik makanan. Akar
giginya hanya satu.
c. Geraham kecil Gigi ini merupakan pengganti gigi geraham sulung.
d. Seperti kita ketahui pada gigi sulung tidak memiliki geraham kecil, di
belakang gigi taring. Ada delapan, atas empat, bawah empat, tugasnya
membantu atau bersama-sama geraham besar menghaluskan makanan. Akar
gigi geraham kecil ini semua satu, kecuali yang atas delapan, memiliki dua
akar.
e. Geraham besar Terletak dibelakang gigi geraham kecil jumlahnya dua belas.
Atas enam bawah enam. Masing-masing sisi tiga buah permukaan lebar dan
bertonjol-tonjol. Gunanya untuk menggiling makanan. gigi ini yang dibawah
akarnya dua, yang atas tiga. Sedangkan gigi geraham terakhir, seringkali
ketiga akarnya bersatu menjadi satu.
B. Cara Menyikat Gigi
1. Standar Oprasional Prosedur (SOP)
a. Menyikat gigi
Pengertian : adalah tindakan membersihkan rongga mulut dan gigi dari
semua kotoran makanan dengan menggunakan sikat gigi.
Tujuan : - Mencegah penyakit gigi dan mulut.
- Mencegah penyakit yang penularannya melalui
- Untuk menanamkan kebiasaan menyikat gigi yang baik
dan benar kepada anak sejak dini.
Peralatan : - sikat gigi
- Pasta gigi
- gelas untuk berkumur yang berisi air
b. Prosedur pelaksanaan :
1) Ambil sikat dan pasta gigi, peganglah sikat gigi dengan cara sendiri
(yang penting nyaman untuk dipegang), oleskan pasta gigi di sikat gigi
yang sudah dipegang dan kumur-kumur.
10. 2) Sikat gigi (gigi depan dengan cara menjalankan sikat gigi pelan- pelan
dan naik turun. Kenapa harus pelan-pelan karena biasanya orang yang
menyikat gigi secara kasar, akan mengakibatkan gusi lecet dan berdarah.
3) Langkah selanjutnya gosok bagian gigi sebalah kanan dan kiri. Cara
mengaplikasikannya hampir sama dengan menyikat gigi depan, yaitu
gosok perlahan dengan irama naik turun. Jika susah mengosok naik turun
bisa menggosok biasa namun dengan durasi lebih lama, karena
mengosok dengan cara naik turun walaupun pelan-pelan akan lebih cepat
menghilangkan sisa makanan yang mempel.
4) Setelah selesai menggosok area gigi bagian kanan, kiri dan depan, maka
langkah selanjutnya adalah membersihkan/menyikat gigi bagian dalam
(gigi geraham). Usahakan sikat dengan cara pelan-pelan namun kotoran
tak ada yang tertinggal karena biasanya plak kuning terjadi di area ini
jika gosok giginya tidak bersih. Caranya, gunakanan ujung bulu sikat
untuk menjangkau area gigi geraham dengan sedikit tekanan sampai
ujung sikat sedikit melungkung.
5) Langkah terakhir gosok gigi dalam (gigi tengah) dengan cara menegakan
lurus sikat gigi, lalu sikat gerakkan sikat keatas kebawah.
2. Syarat-syarat sikat gigi memenuhi syarat:
a. Tangkai lurus dan mudah dipegang
b. Kepala sikat gigi kecil. Sebagai ancar-ancar paling besar sama dengan
jumlah lebar keempat gigi bawah. Kenapa harus kecil, sebab kalau besar
tidak dapat masuk kebagian-bagian yang sempit dan dalam.
c. Bulu sikat gigi harus lembut dan datar. bila sikat gigi terlalu besar, bulu
dapat tercabut sebagian.
3. Frekuensi menggosok gigi
Perawatan gigi sebenarnya dapat dilakukan dengan kebiasaan teratur dan
disiplin yaitu pada waktu pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum
makan (Kemenkes, 2012).
4. Pasta gigi
Flouride dibutuhkan oleh gigi untuk menjaga gigi dari kerusakan, namun
kadarnya harus diperhatikan. Flouride dapat menurunkan produksi asam dan
11. meningkatkan pembentukan mineral pada dasar enamel. Pasta gigi yang
sekarang beredar mengandung 0,15 % fluoride yang sebelumnya mengandung
0,10 % flouride.
5. Cara penyimpanan sikat gigi
Menyimpan sikat gigi Sesudah menyikat gigi maka harus bersih. Setelah itu
harus digantung dengan kepala dibawah. Bila disimpan, dibawah maka air tidak
segerah turun dan kuman yang tinggal akan berkembang biak. Tetapi dengan
digantung maka sikat gigi akan segerah kering dan bersih dari kuman. Tempat
yang basah memungkinkan kuman akan menempel dan berkembang biak.
6. Pemeriksaan kedokter gigi
Perilaku menjaga kesehatan yaitu dengan rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali.
Melakukan pemeriksaan gigi dan mulut setiap 6 bulan sekali adalah hal yang
penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dokter gigi dapat melakukan
pendeteksian dan penanganan dini terhadap masalah gigi dan mulut dalam tahap
awal.
7. Mengatur makanan
Anak-anak umumnya menyukai permen artinya apabila anak-anak terlalu
banyak mengkomsumsi permen, coklat, dan es krim jarang membersihkan gigi
setelah makan permen, dapat mengakibatkan permukaan gigi akan diubah oleh
kuman dengan bahan dari mulut diubah menjadi asam. Asam yang menempel
dipermukaan email diatas permukaan yang lunak itu, kuman-kuman akan
melubanginya makanan yang lengket dan manis juga memperbesar
kemungkinan terjadinya karies. Mikroorganisme yang berperan dalam
menyebabkan karies adalah bakteri. Sumber makanan yang baik dikomsumsi
untuk penguat gigi yaitu makanan yang mengandung kalsium, vitamin C dan
vitamin D seperti susu, telur dan buah-buahan. Protein seperti tempe, telur dan
daging dapat memperhambat proses karies. Memasuki usia sekolah, resiko anak
mengalami sakit gigi makin tinggi. Banyaknya jajanan disekolah, dengan jenis
makanan dan minuman yang manis mengancam kesehatan gigi anak
12. 8. Faktor-faktor mempengaruhi perilaku menyikat gigi
Faktor internal merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi dari dalam diri
seseorang, seperti usia, pengalaman dan motivasi anak hal ini dapat dijelaskan
yaitu.
a. Usia
Usia merupaka faktor mempengaruh perawatan gigi pada anak. Semakin
bertambah usia seseorang maka berbanding lurus pengetahuan yang dimiliki.
b. Pengalaman
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara
mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi masa lalu. Anak usia sekolah tidak akan
mengkomsumsi permen tampa menggosok gigi setelahnya apabila ia belum
memiliki atau melihat orang lain. Ia akan mengantisivasi hal yang dapat
terjadi apabila kegiatan tersebut dilakukan.
c. Motivasi anak
Anak usia sekolah memiliki tanggu jawab dalam melakukan sesuatu
namun anak usia sekolah memiliki motivasi rendah dalam memperhatikan
penampilan dan bau mulut sampai mereka usia remaja. Faktor eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi dari luar diri seseorang. Faktor
yang berasal dari lingkungan sekitar
(Notoadmodjo, 2010)
1) Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor mempengaruhi pengetahuan
seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang,
dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal
buruk tergantung pada sifat kelompoknya.
2) Orang tua
Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan anggota
keluarganya terutama anak. Orang tua harus memiliki pengetahuan yang
cukup tentang kesehatan gigi dan mulut serta karies gigi.
3) Tingkat pendidikan
13. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pebelajaran untuk
meningkatkan kemampuan tertentu, sehingga sasaran pendidikan turut
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pebelajaran untuk
meningkatkan kemampuan tertentu, sehingga sasaran pendidikan turut
pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami
pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi
pengetahuan seseorang makin baik pula pengetahuanya.
4) Fasilitas kesehatan
Fasilitas kesehatan sangat berpengaruh baik dalam kesehatan gigi dan
mulut.
5) Penghasilan
Status ekonomi sebagai faktor resiko terhadap karies terutama pada
masyarakat yang rendah, hal ini disebabkan mahalnya perawatan gigi.
6) Sosial budaya
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat
mempengaruhi pengetahuan persepsi, dan sikap seseorang terhadap
sesuatu. Apabila dalam keluarga jarang melakukan kebiasaan gosok gigi
sebelum tidur, maka itu dapat berdampak kebiasaan dalam perilaku anak
yang mengikuti orang tuanya.
14. BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasional
Analitik. Dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Study, yaitu jenis
penelitian yang menekankan waktu pengukuran/observasi data variabel independen
dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Dengan studi ini, akan diperoleh
prevalensi atau efek suatu fenomena (variabel dependen) dihubungkan dengan
penyebab (variabel independen) (Nursalam, 2017).
B. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016). Pada
penelitian ini populasi target adalah siswa kelas IV dan V yang sekolah di SD
Inpres Perumnas 1 Makassar dengan jumlah siswa sebanyak
2. Sampel
Sampel terdiri atas bagian populasi yang terjangkau yang dapat
dipergunakan sebagai subjek peneliatan melalui sampling (Nursalam, 2017).
Pada penelitian ini sampel menggunakan rumus Slovin pengambilan sampel
dilakukan sebagai berikut :
Keterangan :
n = Besar Sampel
N = Besar Populasi
d = Tingkat kepercayan atau ketepatan diinginkan dengan nilai 0,05
Jadi jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah :
15. Berdasarkan rumus diatas maka jumlah sampel yang akan di ambil dari
populasi adalah 60 orang siswa. Namun tidak menutup kemungkinan jumlah
sampel tersebut akan berkurang sehubung dengan kriteria sampel yang diajukan
oleh peneliti. Adapun kriteria sampel yang dimaksud adalah :
1. Kriteria Inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Siswa kelas IV dan V SD Inpres Prumnas 1 Makassar
b. Siswa yang bersedia menjadi responden.
2. Kriteria Ekslusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
c. Siswa yang tidak hadir selama waktu pengambilan data.
d. Siswa dalam keadaan sakit sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan
pengambilan data.
3. Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili
populasi yang ada. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini akan
ditentukan dengan metode Non-probability sampling melalui teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling
dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang
dikehendaki (Nursalam, 2017).
16. C. Variabel Penelitian
Variabel merupakan suatu gejala yang mempunyai variasi, digunakan
sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek antara satu dengan lainnya dalam
kelompok tersebut. Variabel menjadi fokus yang akan diamati oleh peneliti
(Sugiyono, 2013). Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Variabel Independen
Variabel independen (bebas) adalah variabel yang mempengaruhi atau nilainya
menentukan variabel lain. Variabel independen pada penelitian ini adalah tingkat
pengetahuan.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi nilainya
Ditentukan oleh variable lain. Variable dependen pada penelitian ini adalah
perilaku menggosok gigi.
17. BAB IV
HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres Perumnas 1 Makassar. Jenis
penelitian yang digunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross
sectional study. Jumlah populasi siswa SD Inpres Perumnas 1 Makassar adalah 71
siswa, pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive
Sampling dengan jumlah sebesar 60 siswa. Instrumen pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan kuesioner dan observasi. Pengumpulan data dilakukan
mulai pada tanggal 16 januari 2020. Data terkumpul selanjutnya di editing, coding,
tabulasi dan dianalisis. Hasil penelitian ini berupa hasil analisis univariat dari
masing-masing variable yang diteliti, analisis bivariat berupa korelasi antara
masing-masing variable dependent dan variable dependent.
1. Karakteristik Responden
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SD Inpres Perumnas 1 Makassar maka
diperoleh data terkait karakteristik responden yaitu umur, jenis dan kelamin
sebagai berikut:
a. Distrubusi frekuensi berdasarkan umur
Tabel 5.1
Distrubusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden
SD Inpres Perumnas 1 Makassar
Berdasarkan hasil distrubusi frekuensi umur responden yaitu memilki umur 11
tahun yaitu 30 responden (50,0%) Dan frekuensi umur 12 tahun yaitu 30
responden (50,0%).
18. b. Distrubusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin
Tabel 5.1
Distrubusi Frekuensi Berdasarkan Jenis kelamin Responden
SD Inpres Perumnas 1 Makassar
Berdasarkan hasil ditrubusi frekuensi jenis kelamin laki-laki memiliki ditrubusi
sebanyak 35 responden (58,3%) dan frekuensi perempuan 25 responden
(41,7%).
2. Analisi univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variable yang diteliti. pada analisa univariat dan ini data
katergori dapat dijelaskan dengan angka atau nilai jumlah data presentase setiap
kelompok
a. Distribusi frekuensi berdasarkan Tingkat pengetahuan responden
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Siswa SD Inpres
Perumnas 1 Makassar
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi Tingkat pengetahuan Di SD Inpres
Perumnas 1 Makassar dari 60 Responden. Responden yang tingkat
pengetahuan baik sebanyak 24 responden (40,0%) sedangkan responden
19. yang tingkat pengetahuan kurang baik sebanyak 36 responden (60,0%).
b. Distribusi frekuensi Berdasarkan perilaku menyikat gigi
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Berdasarkan perilaku menyikat gigi di SD Inpres
Perumnas 1 Makassar
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi perilaku menyikat gigi Di SD Inpres
Perumnas 1 Makassar dari 60 responden. Responden dengan menyikat gigi
dengan baik sebanyak 23 responden (38,3%) sedangkan responden yang
menyikat gigi kurang baik sebanyak 37 responden (61,7%).
3. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel
independent (Tingkat pengetahuan ) dan variabel dependent (Perilaku menyikat
gigi) dengan uji statistik dengan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat
kemaknaan 留 = 0,05.
Tabel 5.4
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Menyikat Gigi Pada
Anak Usia Sekolah Di SD Inpres Perumnas 1 Makassar
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa 60 responden yang tingkat
pengetahuan baik sebanyak 24 responden (40,0%), dengan perilaku menyikat
gigi baik sebanyak 15 responden (25,0%) dan perilaku menyikat gigi kurang
baik sebanyak 9 responden (15,0%) sedangkan tingkat pengetahuan kurang baik
20. 36 responden (60, 0%) dan Perilaku baik 8 responden (13, 3%). Sedangkan
perilaku menyikat gigi kurang baik 28 responden (46,7).
Berdasarkan hasil analisis uji statistik dengan menggunakan uji Chi
Square dengan nilai value = 0,004 jika dibandingkan dengan 留 = 0,05 maka
value < 留 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Ha diterima. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini terdapat hubungan
antara Tingkat pengetahuan dengan perilaku menyikat gigi pada anak usia
sekolah SD Inpres perumnas 1 Makassar
21. BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang Hubungan Tingkat
Pengetahuan dengan Perilaku menyikat gigi di SD Inpres Perumnas Makassar, maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Terdapat Tingkat pengetahuan kurang sebanyak 36 (60,0%) responden.
2. Terdapat Perilaku menyikat gigi kurang sebanyak 37 (61,7%) responden .
3. Terdapat Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku menyikat gigi
pada anak usia sekolah SD Inpres perumnas 1 Makassar dengan hasil analisa
data menggunakan uji chi-square dengan nilai p=0,004留 <(0,05).
22. DAFTAR PUSTAKA
Nurlinda, 2020. Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku menyikat gigi pada
anak usia sekolah SD Inpres perumnas 1 Makassar. (https://stikespanak
kukang.ac.id/assets/uploads/alumni/ac16b6460a3572c693234c0206ff34a7.pdf.
Diunduh (03-08-2022)