Dokumen tersebut membahas potensi sosial media sebagai alat agitasi. Pertama, ditegaskan bahwa memanfaatkan sosial media seperti iklan biasa belum memaksimalkan potensinya. Kemudian dijelaskan bahwa salah satu kekuatan media adalah pengalaman bersama. Selanjutnya dibahas karakteristik Twitter yang memungkinkan siapa saja bersuara namun hanya segelintir yang berpengaruh. Akhirnya dis
1 of 20
More Related Content
Potensi Social Media Lebih Besar dari Yang Selama Ini Digunakan - sebagai Media Agitasi
2. Antusiasme pelaku dan pengguna
social media untuk marketing sangat
besar, namun jangan-jangan kita
belum benar-benar tahu seperti apa
memanfaatkan potensi tersebut.
Menggunakan social media layaknya
Iklan Baris bisa saja dilakukan, tapi itu
tidak memanfaatkan potensi yang
sebenarnya. Jadi seperti apa
sebenarnya potensi sosial media?
Pertama saya ingin memaparkan latar
belakang situasinya.
3. Salah satu kekuatan media adalah ‘shared experience’. Karena
itulah amphitheater dibuat melingkar: penonton tidak hanya
menikmati pertunjukan, tapi juga menikmati situasi berada di
tengah penonton lain.
7. Social Media Presence
Symbolizes Social Mobility
Indonesia GDP percapita* increases
Continuously positive GDP trend over the year
Break
USD 2000
Break
USD 3000
Break
USD 3500
Break
USD 1000
Indonesia is on top 5 in almost every social media and messaging platform,
even though the internet penetration is only 24% and although mobile
penetration at 115%, smartphone is only 23%
Source: On Device Report 2013
9. Siapapun boleh bersuara di Twitter, tapi kenyataannya sekarang ada kesenjangan yang sangat
besar: segelintir akun memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding mayoritas akun lain. Ini
fenomena yang disebut Power Law Distribution.
10. Siapapun boleh datang dengan topik, tapi kenyataannya para pengguna twitter terbawa dari satu
topik ke topik lain dengan cepat. Topik yang homogen, intens, namun cepat berganti.
11. Dengan jumlah karakter yang terbatas, para peserta diskusi tidak punya banyak
kesempatan untuk mengelaborasi argumen. Yang lebih menontjol hanya sentimen dan
pemihakannya saja.
12. Dengan beberapa karakteristik itu, bagaimanapun twitter tetap dianggap sebagai sumber
informasi yang cepat, beragam, dan menggambarkan apa yang jadi perhatian masyarakat. Tidak
jarang perbincangan di twitter kemudian diangkat oleh media lain hingga menjadi pertahian
khayalak yang lebih luas.
13. Kata Om @awemany iklan seharusnya fokus pada feeling.
Lalu feeling seperti apa yang bisa dieksploitasi dan apa yang bisa dituju dari sana?
18. Ini mungkin klaim yang besar, tapi saya lihat social media dapat digunakan secara sistematis
untuk mengarahkan dan memperkuat agenda apa yang penting, norma-norma seperti estetika,
persetujuan, dukungan, bahkan nilai-nilai kebenaran.
19. Dengan pandangan ini, pengukuran yang biasa diukur seperti impresi dan jumlah klik juga tidak
cukup lagi untuk menggambarkan kesuksesan sebuah kampanye di social media.
20. Sebuah brand tidak lagi cukup punya point of difference sebagai sebuah
produk, tapi harus memiliki point of view