際際滷

際際滷Share a Scribd company logo
Presentation hama
KELOMPOK 4
   ANGGOTA :
     Mutiara Noor F
     Renny Setiawati
     Sausan Rihhadatulaisy
     Yulgea Della A
     Zahrina Maryam
PETA KONSEP


BENTUK PENGENDALIAN
       HAMA




                      VARIETAS TAHAN HAMA
BENTUK PENGENDALIAN HAMA HAYATI
        Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati
adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme
pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini
diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga
sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen. Dalam hal
penggunaan dan pengendalian mikroorganisme (termasuk virus),
pengertian organisme yang berguna diperluas yaitu meliputi makhluk hidup
termasuk yang bersel tunggal, virion, dan bahan genetik.
Menurut Rosichon, pengendalian biologi memiliki keunggulan lebih ramah
lingkungan. Pasalnya, penggunaan insektisida dapat dikurangi bahkan tidak
digunakan sama sekali. Kendali demikian, kunci dari pengendalian hama
secara biologi adalah mengenal terlebih dahulu aspek biologi dari serangga
itu sendiri.
Informasi tersebut menjadi penting untuk menentukan saat yang tepat
untuk pengendalian hama.Pengendalian hayati, walaupun usahanya
memerlukan waktu yang cukup lama dan berspektrum sempit (inangnya
spesifik), tetapi banyak keuntungannya, antara lain aman, relatif permanen,
dalam jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan
menyebabkan pencemaran lingkungan. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa
musuh-musuh alami mempunyai peranan yang sangat besar dalam
membantu kita untuk menekan perkembangan hama tanaman.
      Pengendalian hama yang hanya menggunakan pestisida saja dengan
spektrum luas dan terus-menerus sebenarnya tidak baik dari segi ekologi.
Oleh karena itu dalam pengelolaan hama, cara pengendalian hayati perlu
ditingkatkan dan penggunaan pestisida hendaknya dilakukan secara
bijaksana agar keseimbangan alami tidak terganggu. Hanya saja, kata
Rosichon, kelemahan dari pengendalian biologi adalah penerapannya di
level petani. Pengendalian biologi yang membutuhkan teknik khusus masih
dikuasai para peneliti.
VARIETAS TAHAN HAMA
       Para ahli genetika tanaman mencoba untuk merekayasa tanaman agar tahan
terhadap serangan hama dengan cara menemukan sifat-sifat tahan yang ada pada
sebuah tumbuhan (tanaman), kemudian memaanfaatkan sifat-sifat tahan tadi untuk
mengembangkan sebuah varietas yang (lebih) tahan atau paling tidak mengurangi
dampak kerusakan akibat serangan hama. Orang pertama yang tercatat sukses
mengembangkan tanaman yang tahan terhadap hama adalah C.V. Riley, pioner
entomolog di Amerika Serikat, yang pada tahun 1870-an menemukan dan mencoba
bibit anggur yang tahan terhadap serangan kutu Daktulosphaira vitifoliae yang kala
itu menjadi hama utama pada anggur.
       Di Indonesia, penggunaan varietas tahan hama sudah jamak. Misalnya, pada
tahun 1990-an, petani padi di Indonesia dan Asia mengenal istilah Varietas Unggul
Tahan Wereng (VUTW) yang dikembangkan oleh ilmuwan Indonesia dan IRRI Los
Banos, Filipina. Dan hingga saat ini, pengembangan varietas tahan ini dilakukan
secara terus-menerus, karena banyak kejadian yang menunjukkan gejala dan
bahkan fakta bahwa varietas tahan tersebut dapat dipatahkan oleh hama, misalnya
pada kasus perkembangan koloni biotipe Wereng Batang Coklat yang sanggup
menyerang varietas yang semula dianggap tahan. Dalam hal ini, manusia diajak
berlomba melawan hama (misalnya WBC) untuk mempertahankan atau
mengikhlaskan tanaman padi (dari pemangsaan oleh WBC).
Chilocorus

More Related Content

Presentation hama

  • 2. KELOMPOK 4 ANGGOTA : Mutiara Noor F Renny Setiawati Sausan Rihhadatulaisy Yulgea Della A Zahrina Maryam
  • 3. PETA KONSEP BENTUK PENGENDALIAN HAMA VARIETAS TAHAN HAMA
  • 4. BENTUK PENGENDALIAN HAMA HAYATI Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen. Dalam hal penggunaan dan pengendalian mikroorganisme (termasuk virus), pengertian organisme yang berguna diperluas yaitu meliputi makhluk hidup termasuk yang bersel tunggal, virion, dan bahan genetik. Menurut Rosichon, pengendalian biologi memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan. Pasalnya, penggunaan insektisida dapat dikurangi bahkan tidak digunakan sama sekali. Kendali demikian, kunci dari pengendalian hama secara biologi adalah mengenal terlebih dahulu aspek biologi dari serangga itu sendiri.
  • 5. Informasi tersebut menjadi penting untuk menentukan saat yang tepat untuk pengendalian hama.Pengendalian hayati, walaupun usahanya memerlukan waktu yang cukup lama dan berspektrum sempit (inangnya spesifik), tetapi banyak keuntungannya, antara lain aman, relatif permanen, dalam jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa musuh-musuh alami mempunyai peranan yang sangat besar dalam membantu kita untuk menekan perkembangan hama tanaman. Pengendalian hama yang hanya menggunakan pestisida saja dengan spektrum luas dan terus-menerus sebenarnya tidak baik dari segi ekologi. Oleh karena itu dalam pengelolaan hama, cara pengendalian hayati perlu ditingkatkan dan penggunaan pestisida hendaknya dilakukan secara bijaksana agar keseimbangan alami tidak terganggu. Hanya saja, kata Rosichon, kelemahan dari pengendalian biologi adalah penerapannya di level petani. Pengendalian biologi yang membutuhkan teknik khusus masih dikuasai para peneliti.
  • 6. VARIETAS TAHAN HAMA Para ahli genetika tanaman mencoba untuk merekayasa tanaman agar tahan terhadap serangan hama dengan cara menemukan sifat-sifat tahan yang ada pada sebuah tumbuhan (tanaman), kemudian memaanfaatkan sifat-sifat tahan tadi untuk mengembangkan sebuah varietas yang (lebih) tahan atau paling tidak mengurangi dampak kerusakan akibat serangan hama. Orang pertama yang tercatat sukses mengembangkan tanaman yang tahan terhadap hama adalah C.V. Riley, pioner entomolog di Amerika Serikat, yang pada tahun 1870-an menemukan dan mencoba bibit anggur yang tahan terhadap serangan kutu Daktulosphaira vitifoliae yang kala itu menjadi hama utama pada anggur. Di Indonesia, penggunaan varietas tahan hama sudah jamak. Misalnya, pada tahun 1990-an, petani padi di Indonesia dan Asia mengenal istilah Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW) yang dikembangkan oleh ilmuwan Indonesia dan IRRI Los Banos, Filipina. Dan hingga saat ini, pengembangan varietas tahan ini dilakukan secara terus-menerus, karena banyak kejadian yang menunjukkan gejala dan bahkan fakta bahwa varietas tahan tersebut dapat dipatahkan oleh hama, misalnya pada kasus perkembangan koloni biotipe Wereng Batang Coklat yang sanggup menyerang varietas yang semula dianggap tahan. Dalam hal ini, manusia diajak berlomba melawan hama (misalnya WBC) untuk mempertahankan atau mengikhlaskan tanaman padi (dari pemangsaan oleh WBC).