際際滷

際際滷Share a Scribd company logo
SEMANTIK LEKSIKAL
     Semantik leksikal menyangkut makna leksikal. Bidang yang meneliti semantik leksikal
menurut asas-asasnya disebut Leksikologi. Makna leksikal dapat juga diartikan makna yang
sesuai dengan acuannya, makna yang sesuai dengan hasil observasi panca indera, atau makna
yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Menurut Lyons (1977) The noun lexeme
is of course related to the words lexical and lexicon, (we can think of lexicon as having
the same meaning as vocabulary or dictionary), yang berarti bahwa leksem berhubungan
dengan kata leksikal dan leksikon, dimana leksikon itu sendiri mengacu pada makna yang
terdapat di dalam kamus. Dalam semantik leksikal diselidiki makna yang ada pada leksem-
leksem dari suatu bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut
makna leksikal. Leksem adalah istilah-istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik untuk
menyebutkan satuan bahasa bermakna. Istilah leksem ini kurang lebih dapat dipadankan dengan
istilah kata yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis dan yang lazim
didefinisikan sebagai satuan gramatikal bebas terkecil.
     Secara leksikologis, semantik leksikal mencakup pokok-pokok sebagai berikut:
1.   Makna dan referensi
     Makna leksikal lazimnya dipandang sebagai sifat kata sebagai unsur leksikal. Misalnya kata
     roti memiliki makna tertentu, namun selain itu kata roti juga memiliki sifat tertentu
     yaitu referensi (kemampuan roti mengacu pada makanan tertentu. Yang diacu disebut
     dengan referen.
2.   Denotasi dan konotasi
     Denotasi adalah referensi terhadap sesuatu yang ekstralingual menurut makna yang
     bersangkutan. Sedangkan konotasi adalah arti yang muncul pada penutur akibat penilaian
     afektif dan emosional. Misalnya denotasi kata penjara adalah kemampuan kata tersebut
     untuk bereferensi pada sebuah penjara, sedangkan makna konotasinya bersifat negatif
     karena penghuni penjara tidak dapat bertindak sesuai kehendaknya sendiri.
3.   Analisis ekstensiol dan intensiol
     Makna ekstensiol adalah makna pragmatis. Menurut makna ekstensiol, kata X mengacu
     pada hal-hal yang bersifat ekstralingual, misalnya kata perabot mengacu pada perabot
     yang bermacam-macam. Menurut makna intensional kata X terdiri atas sifat-sifat semantik
tertentu, misalnya kata perabot secara intensional mengandung unsur semantik sebagai
     perlengkapan rumah tangga.
4.   Analisis Komponensial
     Dalam setiap bahasa, banyak kata tidak memiliki maknanya sendiri-sendiri, lepas dari
     makna kata lainnya, tetapi memiliki makna yang berperanan hanya karena memiliki
     hubungan dengan kata-kata lainnya. Analisis ini menggunakan asas pembeda yang kita
     temukan dalam fonologi, yang artinya identitas fonem adalah identitas pembeda. Namun,
     asas pembeda ini juga berlaku dalam menganalisis hubungan kata-kata secara semantis,
     yaitu di dalam kelompok unsur-unsur leksikal tertentu.
5.   Makna dan Pemakaian
     Analisis ini membedakan antara makna (leksikal) atau disebut juga sebagai makna harfiah
     atau kanonik, dengan pemakaiannya sebagai makna nonkanonik. Contoh dari pemakaian
     nonkanonik adalah metafora dan metonimi.
6.   Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim
     a) Dua istilah atau lebih yang maknanya sama atau mirip, tetapi bentuknya berlainan,
         disebut sinonim. Di antara istilah sinonim itu salah satunya ditentukan sebagai istilah
         baku atau yang diutamakan.
           Misalnya : gulma sebagai padanan weed lebih baik daripada tumbuhan pengganggu
     b) Antonim adalah dua kata yang maknanya berlawanan.
           Misalnya : besar dan kecil.
     c) Istilah homonim berupa dua istilah, atau lebih, yang sama ejaan dan lafalnya, tetapi
         maknanya berbeda, karena asalnya berlainan. Istilah homonim dapat dibedakan menjadi
         homograf dan homofon. Istilah homograf ialah istilah yang sama ejaannya, tetapi
         berbeda lafalnya.
           Misalnya : teras inti dengan teras 'lantai datar di muka rumah' Istilah homofon
           ialah istilah yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya. Misalnya : bank tempat
           menyimpan uang dengan bang sapaan untuk kakak laki-laki
     d) Istilah hiponim ialah bentuk yang maknanya terangkum dalam hipernim, atau
         superordinatnya yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata mawar,melati, cempaka.
         Misalnya, masing-masing disebut hiponim terhadap kata bunga yang menjadi hipernim
         atau superordinatnya.

More Related Content

Semantik leksikal

  • 1. SEMANTIK LEKSIKAL Semantik leksikal menyangkut makna leksikal. Bidang yang meneliti semantik leksikal menurut asas-asasnya disebut Leksikologi. Makna leksikal dapat juga diartikan makna yang sesuai dengan acuannya, makna yang sesuai dengan hasil observasi panca indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Menurut Lyons (1977) The noun lexeme is of course related to the words lexical and lexicon, (we can think of lexicon as having the same meaning as vocabulary or dictionary), yang berarti bahwa leksem berhubungan dengan kata leksikal dan leksikon, dimana leksikon itu sendiri mengacu pada makna yang terdapat di dalam kamus. Dalam semantik leksikal diselidiki makna yang ada pada leksem- leksem dari suatu bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut makna leksikal. Leksem adalah istilah-istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik untuk menyebutkan satuan bahasa bermakna. Istilah leksem ini kurang lebih dapat dipadankan dengan istilah kata yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis dan yang lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal bebas terkecil. Secara leksikologis, semantik leksikal mencakup pokok-pokok sebagai berikut: 1. Makna dan referensi Makna leksikal lazimnya dipandang sebagai sifat kata sebagai unsur leksikal. Misalnya kata roti memiliki makna tertentu, namun selain itu kata roti juga memiliki sifat tertentu yaitu referensi (kemampuan roti mengacu pada makanan tertentu. Yang diacu disebut dengan referen. 2. Denotasi dan konotasi Denotasi adalah referensi terhadap sesuatu yang ekstralingual menurut makna yang bersangkutan. Sedangkan konotasi adalah arti yang muncul pada penutur akibat penilaian afektif dan emosional. Misalnya denotasi kata penjara adalah kemampuan kata tersebut untuk bereferensi pada sebuah penjara, sedangkan makna konotasinya bersifat negatif karena penghuni penjara tidak dapat bertindak sesuai kehendaknya sendiri. 3. Analisis ekstensiol dan intensiol Makna ekstensiol adalah makna pragmatis. Menurut makna ekstensiol, kata X mengacu pada hal-hal yang bersifat ekstralingual, misalnya kata perabot mengacu pada perabot yang bermacam-macam. Menurut makna intensional kata X terdiri atas sifat-sifat semantik
  • 2. tertentu, misalnya kata perabot secara intensional mengandung unsur semantik sebagai perlengkapan rumah tangga. 4. Analisis Komponensial Dalam setiap bahasa, banyak kata tidak memiliki maknanya sendiri-sendiri, lepas dari makna kata lainnya, tetapi memiliki makna yang berperanan hanya karena memiliki hubungan dengan kata-kata lainnya. Analisis ini menggunakan asas pembeda yang kita temukan dalam fonologi, yang artinya identitas fonem adalah identitas pembeda. Namun, asas pembeda ini juga berlaku dalam menganalisis hubungan kata-kata secara semantis, yaitu di dalam kelompok unsur-unsur leksikal tertentu. 5. Makna dan Pemakaian Analisis ini membedakan antara makna (leksikal) atau disebut juga sebagai makna harfiah atau kanonik, dengan pemakaiannya sebagai makna nonkanonik. Contoh dari pemakaian nonkanonik adalah metafora dan metonimi. 6. Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim a) Dua istilah atau lebih yang maknanya sama atau mirip, tetapi bentuknya berlainan, disebut sinonim. Di antara istilah sinonim itu salah satunya ditentukan sebagai istilah baku atau yang diutamakan. Misalnya : gulma sebagai padanan weed lebih baik daripada tumbuhan pengganggu b) Antonim adalah dua kata yang maknanya berlawanan. Misalnya : besar dan kecil. c) Istilah homonim berupa dua istilah, atau lebih, yang sama ejaan dan lafalnya, tetapi maknanya berbeda, karena asalnya berlainan. Istilah homonim dapat dibedakan menjadi homograf dan homofon. Istilah homograf ialah istilah yang sama ejaannya, tetapi berbeda lafalnya. Misalnya : teras inti dengan teras 'lantai datar di muka rumah' Istilah homofon ialah istilah yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya. Misalnya : bank tempat menyimpan uang dengan bang sapaan untuk kakak laki-laki d) Istilah hiponim ialah bentuk yang maknanya terangkum dalam hipernim, atau superordinatnya yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata mawar,melati, cempaka. Misalnya, masing-masing disebut hiponim terhadap kata bunga yang menjadi hipernim atau superordinatnya.