Dokumen tersebut membahas dampak psikologis yang dialami individu yang beragama Kristen Protestan ketika mengikuti ritual adat "Onen Neu Hit Fatu Makana" di Desa Lasi. Beberapa dampak psikologis yang dijelaskan adalah perasaan cemas, gelisah, takut, dan stres. Dokumen ini juga menjelaskan cara yang digunakan untuk mengatasi dampak psikologis tersebut, seperti mengontrol emosi, meningkatkan kepercayaan diri, dan men
1 of 12
Download to read offline
More Related Content
TUGAS AKHIR DEVRI MARIA M. NUBAN. 802011049
1. DAMPAK PSIKOLOGIS MENGIKUTI RITUAL ADAT (ONEN)
PADA INDIVIDU YANG MEMELUK AGAMA KRISTEN
PROTESTAN DI DESA LASI KABUPATEN TIMOR TENGAH
SELATAN
PEMBIMBING UTAMA
Dr. Chr. Hari Soetjiningsih, MS.
TUGAS AKHIR
OLEH
DEVRI MARIA MAGDALENA NUBAN
802011049
2. Dalam kehidupan manusia konflik tidak bisa dihindari karena konflik
adalah salah satu esensi dari kehidupan. Konflik terjadi dalam
sisitem sosial bahkan dalam diri seseorang
Dalam menjalankan ritual adat ada beberapa praktek adat dan
dianggap bertentangan dengan nilai agama, namun ritual-ritual ini
telah menjadi tradisi yang tidak bisa ditingggalkan.
Tatacara melaksanakan ritual onen ini memunyai cara khusus namun
ada beberapa warga desa yang memiliki perbedaaan persepsi,
sehingga ritual ini dianggap bertentangan dengan nilai agama yang
dianut selama ini.
PENDAHULUAN
3. Bagaimana dampak psikologis yang
dialami oleh individu yang memeluk
agama Kristen Protestan ketika
mengikuti ritual adat Onen Neu Hit Fatu
Makana Fatu Lopo?
Cara mengatasi dampak psikologis
yang dialami oleh individu yang
memeluk agama Kristen Protestan
ketika mengikuti ritual adat Onen Neu
Hit Fatu Makana Fatu Lopo?
Rumusan Masalah
Untuk mengetahui bagaimana dampak
psikologis yang dialami oleh individu yang
memeluk agama Kristen Protestan ketika
mengikuti ritual adat Onen Neu Hit Fatu
Makana Fatu Lopo.
Untuk mengetahui dampak psikologis yang
dialami oleh individu yang memeluk agama
Kristen Protestan ketika mengikuti ritual adat
Onen Neu Hit Fatu Makana Fatu Lopo.
Tujuan Penelitian
4. Kualitatif
METODE PENELITIAN
Partisipan penelitian
Partisipan penelitian berjumlah 3
orang dewasa yang berusia 51, 54
dan 64 tahun
Partisipan penelitian merupakan
orang asli atau masyarakat pribumi
di desa Lasi.
Pertisipan harus beragama kristen
protestan
Berdasarkan wawancara awal
partisipan harus mengalami konflik
Teknik Pengumpulan
Data
Wawancara
Observasi
Dokumentasi
Uji Keabsahan data
Triangulasi
Member Chek
Analisis Data
Reduction Data
Penyajian Data
ConclusionDrawing/verific
ation
5. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada 29 April 2015 diketahui
bahwa para partisipan sudah dua hingga tiga kali mengikuti ritual
onen yang dilakukan. Keikutsertaan para partisipan juga karena ada
paksaan. Menurut P1 jika tidak mengikuti ritual maka akan
menghadapai banyak tantangan dalam hidupnya. Sedangkan P2
saat mengukuti ritual merupakan dorongan keinginan dari dalam
dirinya, namun ketakuan yang P2 rasakan terkait pada struktur ritual
yang dilakukan berbeda dengan ritual yang yang dilakukan oleh para
leluhur. Sedangkan menurut P3 ritual onen ini bertentangan dengan
ajaran agama yang dianaut selama ini.
Saat seseorang dalam keadaan konflik maka akan terlihat dari
reaksi individu dan sangat berpengaruh pada interaksi atau pola
komunikasi seseorang yang menunjukan ketidaksenangan, keadaan
takut, cepat marah saat individu tersebut dihadapakan pada keadaan
yang tidak menyenagkan (Wirawan, 2010).
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
6. Dampak Konflik Dalam Diri Individu Saat Mengikuti Ritual
Onen
Konflik yang dialami oleh ketiga partisipan adalah cemas, gelisah,
takut dan adanya perasaan tidak suka (emosi negatif) atau juga
keadaan stres.
Kecemasan memiliki reaksi seperti reaksi emosional, reaksi kofnitif
dan reaksi fisiologis. Reaksi emosional yang timbul pada ketiga
partisipan dapat dilihat pada P1 dan P3, yang mana dari hasil
wawancara P1 dan P3 mengikuti ritual onen karena keterpakasaan
menyebabkan kecemasan
Reaksi kofnitif terjadi pada ketiga partisipan dari hasil wawancara
dan observasi ditunjukan dari perilaku mereka ketika perasaan yang
mereka rasa tidak bisa diungkapkan, membuat para partisipan
semakin tertekan dan menunjukan perilaku seperti melirik kerah kiri
dan kanan mereka secara berulangkali, tidak menyanyi saat semua
orang yang mengikuti ritual melakukan pujian dan beberapa kali
meninggalkan tempat ritual.
Sedangkan reaksi fisiologis yang dirasakan oleh ketiga partisipan
dari hasil wawancara diketahui bahwa saat mengikuti ritual onen
detak jantung P1, P2 dan P3 berdetak lebih cepat dari biasanya.
7. Emosi pada ketiga partisipan mempunyai emosi negatif
ketika mengikuti ritual onen tersebut. Dalam emosi ada tiga
aspek dari emosi yang dikaji oleh peneliti yaitu emosi kerja,
emosi primer dan emosi sekunder.
Dari hasil wawancaradan observasi peneliti menemukan
bahwa pada P1, P2 dan P3 reaksi emosi yang sering terjadi
adalah reaksi emosi primer seperti rasa marah, sedih,
senang terkejut, dan ketidaksukaan akan sesuatu.
8. Stress juga dialami oleh P1 dan P2 ketika mengikuti ritual
onen, dari hasil wawancara dan observasi didapati karena
rasa ketika sukaan dan karena rasa ketidak nyamana ketika
mengikuti ritual menyebabkan P1 dan P2 tidak
berkomunikasi tetapi tetap mengikuti ritual hingga akhir. Hal
ini didukung dari hasil triangulasi sumber yang dinyatakan
istri dari P1 dan anak dari P2.
9. Saat individu dalam keadaan tertekan maka ia akan menggunakan
kebiasaan untuk menghindari masalah yang ia hadapi (Wijino, 2010).
Dari hasil wawancara dan observasi diketahui bahwa P1
menggunakan cara penguasaan diri, P2 menggunakan penguatan diri,
Selain menggunakan penguatan diri P2 juga menggunakan
pengendalaian diri. P3 menggunakan cara pengendalian diri dengan
cara menunjukan emosi positif ketika mengikuti ritual.
Koping yang digunakan oleh para partisipan, pada P1 dan P3 lebih
menggunakan koping yang berfokus pada emosi (emotion-focused
coping), sedangkan pada P2 lebih menggunakan coping yang berfokus
pada masalah (problem-focused coping).
CARA MENGATASI
10. Konflik dalam diri terjadi karena adanya pertentangan antara
perbedaan nilai yang dimiliki oleh individu dan nilai yang ada
dalam masyarakat, konflik dalam diri adalah dampak psikologis
yang dialami oleh individu ketika mengikuti ritual onen. Dalam
penelitian ini jenis konflik dalam diri yang terjadi yaitu konflik
personal versus masyarakat.
Ketidakselarasan dalam pikiran individu yang harus menaati
peraturan dalam masyarakat menyebabkan seseorang mengalami
kecemasan, emosi negatif dan stres.
Namun ketidak nyamana tersebut harus diatasi agar tidak
menimbulkan konflik yang lebih besar lagi. Ada berbagaicara
mengatasi konflik yaitu mengontrol emosi yang negatif dan
berusaha menunjukan emosi yang positif, meningkatkan kekuatan
dalam diri seseorang atau dengan menunjukan kepercayaan diri
dan memilih alternatif untuk mengindari konflik yang dihadapi
yaitu dengan koping.
KESIMPULAN
11. Diharapkan agar mengkaji lebih
mendalam mengenai gambaran
konflik dalam diri yang dialami
oleh individu ketika mengikuti
suatu ritual adat.
Hasil penelitian ini mengkaji
bagaimana dampak psikologis
dan cara mengatsi konflik dalam
diri individu yang taat pada
agama ketika mengikuti ritual
adat.
Bagi peneliti selanjutnya Bagi para pembaca
SARAN