Analisis beban jembatan Sarjito II Yogyakarta meliputi berat sendiri, beban mati tambahan, beban lalu lintas, gaya rem, beban pejalan kaki, pengaruh temperatur, dan beban angin. Jembatan dirancang untuk menanggung berat beton, aspal, air hujan, serta beban tambahan seperti penerangan dan pemeliharaan. Beban lalu lintas terdiri atas beban merata dan garis yang mempengaruhi balok lantai. Gaya rem didistribusikan
Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai data geometri, profil baja, pembebanan, dan perhitungan gempa untuk analisis jembatan rangka baja. Data geometri mencakup jenis, lebar, dan tinggi jembatan serta profil baja yang digunakan. Pembebanan meliputi beban mati, hidup, angin, serta gempa yang dihitung berdasarkan standar nasional.
Dokumen tersebut membahas perencanaan struktur gording atap bangunan. Pertama, dilakukan perhitungan beban mati, hidup, air hujan dan angin yang bekerja pada dua potongan atap dengan kemiringan berbeda. Kemudian, dilakukan kombinasi pembebanan berdasarkan standar untuk mendapatkan beban terbesar yang akan digunakan dalam perencanaan. Profil baja CNP16 dipilih untuk menopang gording berdasarkan kontrol bent
Laporan ini memberikan ringkasan hasil uji penetrasi lapangan dengan SPT untuk proyek pembangunan resort di Ternate. Penelitian dilakukan di 6 titik bor dengan kedalaman 4,5 meter, yang menunjukkan lapisan tanah berupa urugan limestone dan campuran lempung dengan kepadatan bervariasi. Analisis data SPT digunakan untuk menentukan kepadatan tanah dan saran perbaikan desain fondasi.
Ringkasan dokumen tersebut adalah rencana proyek pembangunan gedung bioskop dengan menghitung beban hidup lantai dan atap, kategori risiko bangunan, tebal plat lantai, kelas situs, koefisien respon gempa, perhitungan beban tiap lantai, rencana tata letak struktur, perhitungan massa total struktur, perhitungan periode fundamental struktur, koefisien respon seismik, gaya geser dasar seismik, dan respon spektr
Dokumen tersebut berisi soal ujian akhir semester mengenai perencanaan lengkung jalan. Terdapat data lengkung jalan seperti radius lengkung, lebar jalan, kemiringan melintang, dan kecepatan rencana. Siswa diminta menghitung panjang lengkung, panjang transisi, dan kenaikan luar jalan, menggambar sketsa lengkung, diagram superelevasi, dan penampang melintang, serta menentukan stationing titik awal, akhir lengkung, dan titik
The document is a structural design project for the concrete foundation of a mosque floor plan. It includes the preliminary design, load calculations, structural analysis, and design of reinforced concrete beams. Key details include:
- Floor plan dimensions and material properties
- Dead and live load calculations
- Maximum bending moments and shear forces for different beam spans
- Design of beams for the span with the highest bending moment, checking capacity, ductility, and reinforcement spacing
Dokumen tersebut membahas tentang slump test yang digunakan untuk mengetahui kekentalan adukan beton dengan mengukur penurunan tinggi beton setelah dikeluarkan dari kerucut Abram. Slump test harus dilakukan untuk setiap truk mixer beton karena kualitas beton dari masing-masing truk bisa berbeda, dan hasil uji slump dibandingkan dengan standar yang ditetapkan untuk setiap jenis pekerjaan konstruksi.
The document provides calculations for determining the required reinforcement of a concrete beam (balok) with the following information:
- Concrete compressive strength is 20 MPa
- Steel yield strength is 400 MPa
- Beam dimensions are 25cm x 40cm
- Loads include wall weight, floor finish weight, and live loads from balconies
Bending moments are calculated at different points along the beam due to the varying loads. Required steel reinforcement is then determined based on the bending moment values and reinforcement ratios from code tables. Reinforcement amounts are provided for three sections of the beam labeled A-B, B-C, and C-D.
Perkerasan Jalan Raya Lentur dan Kaku, metode Analisis dan Manual
ANGGOTA KELOMPOK :
DHANES PRABASWARA ( I 0112029)
AYU ISMOYO SOFIANA ( I 0113021)
MUHAMMAD BUDI SANTOSO( I 0113080)
RAKE ADIUTO ( I 0113105)
SITI DWI RAHAYU ( I 0113124)
PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG TAHAN GEMPASumarno Feriyal
油
Dokumen tersebut merupakan laporan desain struktur gedung bertulang tahan gempa yang mencakup perencanaan awal struktur (preliminary design), analisis beban gempa, analisis beban gravitasi, desain balok, pelat, kolom, dan hubungan strukturnya. Tujuan desain adalah merancang gedung perpustakaan yang mampu tahan gempa dengan menggunakan kapasitas desain.
Dokumen tersebut membahas tentang metode pembangunan pondasi sumuran. Pondasi sumuran digunakan untuk menyalurkan beban bangunan ke lapisan tanah yang lebih dalam dan keras, dan dibangun dengan menggunakan cincin beton yang diturunkan secara bertahap ke dalam tanah hingga mencapai lapisan yang kuat. Metode pembangunannya meliputi pemasangan cincin beton, penggalian, dan pengisiannya dengan beton.
Dokumen tersebut memberikan ringkasan perhitungan void slab untuk jembatan fly over di Yogyakarta. Terdapat 7 jenis beban yang dipertimbangkan dalam perhitungan, yaitu: 1) berat sendiri, 2) beban mati tambahan, 3) beban lalu lintas, 4) beban pejalan kaki, 5) gaya rem, 6) beban angin, 7) pengaruh temperatur. Dokumen ini menjelaskan rumus dan asumsi yang digunakan dalam menghitung besaran momen dan
Ringkasan dokumen tersebut adalah rencana proyek pembangunan gedung bioskop dengan menghitung beban hidup lantai dan atap, kategori risiko bangunan, tebal plat lantai, kelas situs, koefisien respon gempa, perhitungan beban tiap lantai, rencana tata letak struktur, perhitungan massa total struktur, perhitungan periode fundamental struktur, koefisien respon seismik, gaya geser dasar seismik, dan respon spektr
Dokumen tersebut berisi soal ujian akhir semester mengenai perencanaan lengkung jalan. Terdapat data lengkung jalan seperti radius lengkung, lebar jalan, kemiringan melintang, dan kecepatan rencana. Siswa diminta menghitung panjang lengkung, panjang transisi, dan kenaikan luar jalan, menggambar sketsa lengkung, diagram superelevasi, dan penampang melintang, serta menentukan stationing titik awal, akhir lengkung, dan titik
The document is a structural design project for the concrete foundation of a mosque floor plan. It includes the preliminary design, load calculations, structural analysis, and design of reinforced concrete beams. Key details include:
- Floor plan dimensions and material properties
- Dead and live load calculations
- Maximum bending moments and shear forces for different beam spans
- Design of beams for the span with the highest bending moment, checking capacity, ductility, and reinforcement spacing
Dokumen tersebut membahas tentang slump test yang digunakan untuk mengetahui kekentalan adukan beton dengan mengukur penurunan tinggi beton setelah dikeluarkan dari kerucut Abram. Slump test harus dilakukan untuk setiap truk mixer beton karena kualitas beton dari masing-masing truk bisa berbeda, dan hasil uji slump dibandingkan dengan standar yang ditetapkan untuk setiap jenis pekerjaan konstruksi.
The document provides calculations for determining the required reinforcement of a concrete beam (balok) with the following information:
- Concrete compressive strength is 20 MPa
- Steel yield strength is 400 MPa
- Beam dimensions are 25cm x 40cm
- Loads include wall weight, floor finish weight, and live loads from balconies
Bending moments are calculated at different points along the beam due to the varying loads. Required steel reinforcement is then determined based on the bending moment values and reinforcement ratios from code tables. Reinforcement amounts are provided for three sections of the beam labeled A-B, B-C, and C-D.
Perkerasan Jalan Raya Lentur dan Kaku, metode Analisis dan Manual
ANGGOTA KELOMPOK :
DHANES PRABASWARA ( I 0112029)
AYU ISMOYO SOFIANA ( I 0113021)
MUHAMMAD BUDI SANTOSO( I 0113080)
RAKE ADIUTO ( I 0113105)
SITI DWI RAHAYU ( I 0113124)
PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG TAHAN GEMPASumarno Feriyal
油
Dokumen tersebut merupakan laporan desain struktur gedung bertulang tahan gempa yang mencakup perencanaan awal struktur (preliminary design), analisis beban gempa, analisis beban gravitasi, desain balok, pelat, kolom, dan hubungan strukturnya. Tujuan desain adalah merancang gedung perpustakaan yang mampu tahan gempa dengan menggunakan kapasitas desain.
Dokumen tersebut membahas tentang metode pembangunan pondasi sumuran. Pondasi sumuran digunakan untuk menyalurkan beban bangunan ke lapisan tanah yang lebih dalam dan keras, dan dibangun dengan menggunakan cincin beton yang diturunkan secara bertahap ke dalam tanah hingga mencapai lapisan yang kuat. Metode pembangunannya meliputi pemasangan cincin beton, penggalian, dan pengisiannya dengan beton.
Dokumen tersebut memberikan ringkasan perhitungan void slab untuk jembatan fly over di Yogyakarta. Terdapat 7 jenis beban yang dipertimbangkan dalam perhitungan, yaitu: 1) berat sendiri, 2) beban mati tambahan, 3) beban lalu lintas, 4) beban pejalan kaki, 5) gaya rem, 6) beban angin, 7) pengaruh temperatur. Dokumen ini menjelaskan rumus dan asumsi yang digunakan dalam menghitung besaran momen dan
Dokumen ini berisi perhitungan struktur slab lantai jembatan di Yogyakarta. Termasuk perhitungan berat sendiri, beban tambahan, beban truk, beban angin, dan pengaruh temperatur untuk mendapatkan momen pada slab. Kemudian dilakukan pemilihan tulangan lentur positif dan negatif berdasarkan momen tersebut dengan mempertimbangkan mutu beton dan baja serta tebal slab.
Dokumen tersebut merupakan analisis struktur under pass di Gejayan Fly Over Yogyakarta tahun 2008. Analisis mencakup perhitungan beban yang meliputi berat sendiri, beban mati tambahan, beban truk, dan tekanan tanah. Dilakukan analisis mekanika struktur menggunakan program SAP2000 untuk menentukan gaya aksial, momen, dan gaya geser ultimit. Hasil analisis digunakan untuk merancang pembebanan plat atas dan plat dinding under pass.
Dokumen tersebut membahas perhitungan pelat lantai kendaraan untuk konstruksi trotoar yang meliputi perhitungan tebal pelat, kontrol ketebalan terhadap geser dua arah, pembebanan pelat oleh beban mati, beban hidup, dan kombinasi pembebanan. Hasil perhitungan menunjukkan momen maksimum sebesar 34,79 kN pada lapangan dan 30,83 kN pada tumpuan untuk kombinasi pembebanan 5 dan 6.
Desain Jembatan (By Anton H.P. ST., MT).pdfNhkHabit
油
Dokumen tersebut membahas tentang desain jembatan dan perkenalan software, mencakup aspek-aspek perencanaan jembatan seperti acuan normatif, pokok-pokok perencanaan, penentuan muatan dan lebar jembatan, kombinasi pembebanan, tahapan analisis struktur, teori dasar perhitungan struktur, dan contoh soal latihan.
Laporan ini membahas permodelan struktur jembatan komposit yang terdiri dari kombinasi baja dan beton. Terdapat analisis pembebanan yang mencakup berat sendiri, beban mati tambahan, beban lalu lintas, gaya rem, beban pejalan kaki, dan beban angin. Pemodelan struktur dan analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 untuk menentukan kapasitas struktur.
Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang analisis batang lentur murni pada diafragma jembatan sepanjang 9 meter. Ringkasan utamanya adalah bahwa hasil perhitungan menunjukkan nilai momen ultimate lebih besar daripada nilai momen nominal yang dapat ditahan struktur, sehingga struktur jembatan tidak kuat. Untuk memperkuatnya, jembatan dilengkapi dengan sistem eksternal prestressing.
Laporan ini memberikan ringkasan hasil perhitungan struktur box culvert berdimensi 2 x 3 m yang akan dibangun di Jombang. Perhitungan struktur meliputi analisis plat atas, plat bawah, dan dinding dengan mempertimbangkan berbagai kombinasi beban sesuai standar. Hasilnya menunjukkan momen dan gaya geser maksimum pada setiap elemen masih di bawah kapasitas struktur.
Dokumen tersebut merangkum perencanaan struktur pelat lantai dan tangga pada gedung apartemen. Mencakup perhitungan beban yang bekerja, penentuan tebal pelat, dan modelisasi pelat lantai menggunakan elemen shell pada program SAP2000. Juga menjelaskan perencanaan dimensi dan pembebanan untuk tiga tipe tangga yang ada."
Dokumen tersebut merangkum perencanaan struktur pelat lantai dan tangga pada gedung apartemen. Mencakup perhitungan beban yang bekerja, penentuan tebal pelat, dan modelisasi pelat lantai menggunakan elemen shell pada program SAP2000. Juga menjelaskan perencanaan dimensi dan pembebanan untuk tiga tipe tangga yang ada."
Geishas Revenge Slot Gacor! Bukti Kemenangan di Kajian4DKAJIAN4D
油
Kemenangan kembali hadir dari game bertema Jepang Geishas Revenge! Bukti WD cair langsung tanpa kendala. Member setia Kajian4D membuktikan akun gacor benar-benar nyata!
Kenapa Main di Kajian4D? Slot RTP tinggi, peluang menang lebih besar
Proses withdraw cepat & anti drama
Bonus member baru & harian
Layanan 24/7 nonstop
ッ Jangan cuma jadi penonton, waktunya kamu buktikan sendiri hoki kamu di Kajian4D!
Akun Scatter Auto Gacor! Main 3 Menit Langsung Dapat FreespinKAJIAN4D
油
Akun SCATTER Khusus Kajian4D
Main tanpa ribet, tanpa pola! Cukup sekali deposit, langsung gas 30x manual spin, dan SCATTER muncul otomatis!
Keunggulan Utama:
Akun khusus SCATTER
Main 3 menit langsung freespin ッ
Maxwin tanpa nunggu pola panjang
Cocok untuk pemula yang ingin cuan cepat
Coba sensasi akun gacor yang sudah terbukti bikin banjir SCATTER dan MAXWIN! Jangan sampai ketinggalandaftar sekarang di Kajian4D dan rasakan sendiri bedanya!
Klaim akun spesial ini sekarang!
Zombie Outbreak Slot: Bukti Kemenangan Gacor di Kajian4D Hari Ini!KAJIAN4D
油
Satu lagi kemenangan besar berhasil dibuktikan oleh member Kajian4D, kali ini dari slot bertema menegangkan Zombie Outbreak! Dengan RTP tinggi dan gameplay seru, member hanya butuh momen tepat untuk meraih maxwin.
Wild Bandito Slot Gacor! Jackpot Pecah di Kajian4D!KAJIAN4D
油
Sensasi kemenangan di Wild Bandito hanya di Kajian4D!
Salah satu game slot gacor yang siap kasih maxwin besar! RTP tinggi, fitur Scatter mudah pecah, dan peluang jackpot makin besar!
ー Kenapa Harus Main di Kajian4D?
Slot Gacor dengan RTP hingga 98% Dijamin lebih sering menang!
Withdraw Kilat & Tanpa Ribet Proses WD cepat langsung cair!
Deposit Mudah via QRIS, Bank Lokal & E-Wallet
Layanan 24/7 Tim support selalu siap membantu!
Ayo gabung & buktikan sendiri keseruannya di Kajian4D!
Bocoran Slot Gacor Hari Ini! Maxwin dengan Gates of Olympus, Lucky Neko & Koi...KAJIAN4D
油
Bocoran slot gacor terbaru di Kajian4D! Mau tahu game mana yang paling banyak kasih jackpot hari ini? Gates of Olympus, Lucky Neko, dan Koi Gate siap memberikan kemenangan besar dengan RTP tinggi dan fitur maxwin terbaik!
ー Kenapa Main di Kajian4D?
Bocoran Slot Gacor Setiap Hari Lebih mudah tembus maxwin!
Bonus New Member 50% Modal kecil, hasil besar!
Proses Deposit & Withdraw Kilat Cair dalam hitungan menit!
Support 24/7 Siap membantu kapan saja!
Jangan sampai ketinggalan! Klaim bonusmu sekarang dan raih jackpot di Kajian4D! ッ
TAIPAN99 | SITUS PERMAINAN KARTU DIGITL YANG TERBAIK DAN TERPERCAYA YANG PALI...TAIPAN 99
油
TAIPAN99 adalah situs permainan kartu yang paling di minati di indonesi dan negara tetangga dengan winrate yang tinggi dan new member yang sering menang membuat situs TAIPAN99 yang paling di minati di kalangan remaja, dan orang tua untuk login ke situs TAIPAN99 cukup mudah dengan ketik TAIPAN99 di google, cukup mudah bukan? tunggu apa lagi buruan daftar sekarang dan raih kemenangan yang sesungguhnya.
TAIPAN99 | SITUS PERMAINAN KARTU DIGITL YANG TERBAIK DAN TERPERCAYA YANG PALI...TAIPAN 99
油
54678070 sarjito-bridge
1. ANALISIS BEBAN JEMBATAN
JEMBATAN SARJITO II YOGYAKARTA
DATA JEMBATAN
A. SISTEM STRUKTUR
PARAMETER KETERANGAN
Klasifikasi Jembatan Klas I Bina Marga
Tipe Jembatan Rangka beton portal lengkung
Jumlah bentang 3 bentang
Panjang bentang tengah 75 m
Panjang bentang tepi 35 m
Panjang total jembatan 145 m
1. Struktur Atas (Upper Structure)
Terdiri atas : Slab lantai kendaraan, yang menjadi kesatuan monolit dengan balok dan
kolom yang membentuk rangka beton portal lengkung.
2. Struktur bawah (Sub Structure)
Terdiri atas Abutment dengan Fondasi Footplat dan Pier dengan sistem fondasi Borpile.
Beban Jembatan 1
2. 3. Dimensi Jembatan
Potongan Slab lantai kendaraan, Balok induk (Girder) dan Balok anak (Beam)
Tebal slab lantai jembatan h 0.25 m
Tebal lapisan aspal + over-lay ta 0.10 m
Tebal genangan air hujan th 0.05 m
Jarak antara kolom penyangga Lx 5.00 m
Jarak antara balok lantai s 1.70 m
Lebar jalur lalu-lintas b1 6.00 m
Lebar trotoar b2 1.50 m
Lebar median b3 0.50 m
Bentang jembatan tengah L1 75.00 m
Bentang jembatan tepi L2 35.00 m
Penampang memanjang rangka beton portal lengkung
Beban Jembatan 2
3. Penampang melintang rangka beton portal lengkung
4. Bahan Struktur
Mutu beton : K - 350
Kuat tekan beton fc' = 0.83 * K / 10 = 29.05 MPa
Modulus elastik Ec = 4700 * fc' = 25332 MPa
Angka poisson u = 0.2
Modulus geser G = Ec / [2*(1 + u)] = 10555 MPa
Koefisien muai panjang untuk beton, 竜 = 1.0E-05 / 尊C
Mutu baja :
Untuk baja tulangan dengan > 12 mm : U - 39
Tegangan leleh baja, fy = 390 MPa
Untuk baja tulangan dengan 12 mm : U - 24
Tegangan leleh baja, fy = 240 MPa
Specific Gravity kN/m3
Berat beton bertulang 25.00
Berat beton tidak bertulang 24.00
Berat aspal 22.00
Berat jenis air 9.80
Berat timbunan tanah dipadatkan 17.20
Beban Jembatan 3
4. 5. Metode Perhitungan Struktur
Perencanaan struktur jembatan yang ekonomis dan memenuhi segi keamanan serta
rencana penggunaannya, merupakan suatu hal yang sangat penting. Oleh karena itu
diperlukan Analisis Struktur yang akurat dengan metode analisis yang tepat guna
mendapatkan hasil perencanaan yang optimal.
Metode perencanaan struktur yang digunakan ada dua macam, yaitu :
1. Metode perencanaan ultimit dengan pemilihan faktor beban ultimit sesuai peraturan
yang berlaku, yaitu :
a. SNI-03-1725-1989 : Tatacara Perencanaan Pembebanan Jalan Raya
b. SNI-03-2833-1992 : Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Jembatan
Jalan Raya
c. Pd. T-04-2004-B : Pedoman Perencanaan Beban Gempa Untuk Jembatan
2. Metode perencanaan tegangan ijin dengan beban kerja.
Perhitungan struktur jembatan rangka beton portal lengkung dilakukan dengan komputer
berbasis elemen hingga (finite element ) untuk berbagai kombinasi pembebanan yg me-
liputi berat sendiri, beban mati tambahan, beban lalu-lintas kendaraan (beban lajur, rem
pedestrian), dan beban pengaruh lingkungan (temperatur, angin, gempa) dengan pemo-
delan struktur 3-D (space-frame ). Metode analisis yang digunakan adalah analisis linier
metode matriks kekakuan langsung (direct stiffness matriks ) dengan deformasi struktur
kecil dan material isotropic. Program komputer yang digunakan untuk analisis adalah
SAP2000 V-11. Dalam program tersebut berat sendiri struktur dihitung secara otomatis.
Model struktur 3 D (Space Frame)
Beban Jembatan 4
5. I. ANALISIS BEBAN JEMBATAN
1. BERAT SENDIRI ( MS )
Faktor beban ultimit : KMS = 1.3
Berat sendiri ( self weight ) adalah berat bahan dan bagian jembatan yang merupakan
elemen struktural, ditambah dengan elemen non-struktural yang dipikulnya dan bersifat
tetap. Berat sendiri elemen struktural dihitung secara otomatis oleh Program SAP2000.
Elemen struktural jembatan
Elemen struktural terdiri dari balok lengkung, kolom, plat dinding, balok lantai, dan plat
lantai jembatan. Berat sendiri yang tidak termasuk elemen struktur adalah trotoar dan
pemisah jalur (median).
1.1. BERAT SENDIRI TROTOAR
Berat beton bertulang : wc = 25.00 kN/m3
Berat beton tidak bertulang : w'c = 24.00 kN/m3
Beban Jembatan 5
6. No Lebar Tinggi Shape w Berat
(m) (m) (kN/m3
) (kN/m)
1 0.85 0.25 1 25.00 5.313
2 0.25 0.55 1 25.00 3.438
3 0.85 0.20 0.5 25.00 2.125
4 0.60 0.20 1 25.00 3.000
5 0.30 0.20 1 24.00 1.440
6 Railing pipa galvanis 2.5" 1.250
Berat sendiri trotoar, QMS = 16.565 kN/m
1.2. BERAT SENDIRI PEMISAH JALUR (MEDIAN)
No Lebar Tinggi Shape w Berat
(m) (m) (kN/m3
) (kN/m)
1 0.50 0.40 1 24.00 4.800
Berat sendiri median (pemisah jalur), QMS = 4.800 kN/m
Beban Jembatan 6
7. 2. BEBAN MATI TAMBAHAN ( MA )
Faktor beban ultimit : KMA = 2.0
Beban mati tambahan ( superimposed dead load ), adalah berat seluruh bahan yang
menimbulkan suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen non-struktural, dan
mungkin besarnya berubah selama umur jembatan. Jembatan direncanakan mampu
memikul beban tambahan sebagai berikut.
2.1. BEBAN MATI TAMBAHAN PADA LANTAI JEMBATAN
No Jenis beban tambahan Tebal w Berat
(m) (kN/m3
) (kN/m2
)
1 Lapisan aspal + overlay 0.10 22.00 2.200
2 Genangan air hujan 0.05 9.80 0.490
qMA = 2.690 kN/m2
2.2. BEBAN MATI TAMBAHAN PADA TROTOAR
Berat tiang listrik (lights) untuk penerangan merupakan beban terpusat pada bagian tepi
jembatan (trotoar) yang dipasang pada setiap jarak 25 m.
PMA = 5.00 kN
Beban mati tambahan pada lantai jembatan
Beban mati tambahan pada lantai jembatan yang didistribusikan ke balok lantai
Beban Jembatan 7
8. Beban mati tambahan pada trotoar
4. BEBAN LAJUR "D" ( TD )
Faktor beban ultimit : KTD = 2.0
Beban lajur "D" terdiri dari beban terbagi merata (Uniformly Distributed Load), UDL dan
beban garis (Knife Edge Load), KEL seperti terlihat pada gambar.
UDL mempunyai intensitas q (kPa) yang besarnya tergantung pada panjang total L
yang dibebani dan dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
q = 8.0 kPa untuk L 30 m
q = 8.0 *( 0.5 + 15 / L ) kPa untuk L > 30 m
KEL mempunyai intensitas, p = 44.0 kN/m
Faktor beban dinamis (Dinamic Load Allowance) untuk KEL diambil sebagai berikut :
DLA = 0.4 untuk L 50 m
DLA = 0.4 - 0.0025*(L - 50) untuk 50 < L < 90 m
DLA = 0.3 untuk L 90 m
Lebar jalur lalu-lintas, b1 = 6.00 m
Panjang bentang jembatan bagian tengah, L1 = 75.00 m
Panjang bentang jembatan bagian tepi, L2 = 35.00 m
Panjang bentang rata-rata, Lav = 55.00 m
Panjang bentang maksimum, Lmax = 75.00 m
Beban Jembatan 8
9. Panjang bentang ekivalen, LE = ( Lav * Lmax ) = 64.226 m
Untuk LE > 30 m : q = 8.0 *( 0.5 + 15 / LE ) = 5.868 kPa
Beban merata (UDL) pada lantai jembatan :
qTD = [ 5.5 * q * 100% + ( b1 - 5.5 ) * q * 50% ] / b1 = 5.624 kN/m2
Beban garis (KEL) pada lantai jembatan : p = 44.00 kN/m
p = [ 5.5 * p * 100% + ( b1 - 5.5 ) * p * 50% ] / b1 = 42.17 kN/m
Faktor beban dinamis untuk 50 < LE < 90 m,
DLA = 0.4 - 0.0025*(LE - 50) = 0.364
PTD = ( 1 + DLA ) * p = 57.5337 kN/m
Beban merata (UDL) pada lantai jembatan
Beban merata (UDL) pada lantai jembatan yang didistribusikan ke balok lantai
Beban garis (KEL) pada lantai jembatan
Beban Jembatan 9
10. 5. GAYA REM ( TB )
Faktor beban ultimit : KTB = 2.0
Pengaruh pengereman dari lalu-lintas diperhitungkan sebagai gaya dalam arah me-
manjang, dan dianggap bekerja pada permukaan lantai jembatan. Besarnya gaya
rem arah memanjang jembatan tergantung panjang total jembatan (Lt) sebagai berikut :
Gaya rem, TTB = 250 kN untuk Lt 80 m
Gaya rem, TTB = 250 + 2.5*(Lt - 80) kN untuk 80 < Lt < 180 m
Gaya rem, TTB = 500 kN untuk Lt 180 m
Panjang total jembatan, Lt = L1 + 2 * L2 = 145 m
Untuk 80 m < Lt < 180 m maka :
Besarnya gaya rem yang bekerja (untuk 2 jalur lalu-lintas),
TTB = [ 250 + 2.5 * (Lt - 80) ] * 2 = 825 kN
Beban lajur "D" tanpa reduksi akibat panjang bentang (penuh) :
q = 8.0 kPa p = 44.0 kN
5% x Beban lajur "D" penuh tanpa faktor beban dinamis :
5% * TD = [ 0.05 * (q * b1 * Lt + 3 * p * b1) ] * 2 = 775.2 kN
Karena, TTB > 5% * TD
Maka diambil gaya rem, TTB = 825 kN
Gaya rem tsb. didistribusikan ke setiap joint pertemuan balok lantai jembatan dengan
jumlah joint, n = 270
Gaya rem pada setiap joint, TTB = 3.06 kN
Gaya rem pada lantai jembatan
Beban Jembatan 10
11. 6. PEMBEBANAN UNTUK PEJALAN KAKI ( TP )
Faktor beban ultimit : KTP = 2.0
Trotoar pada jembatan jalan raya direncanakan mampu memikul beban sbg. berikut :
A = luas bidang trotoar yang dibebani pejalan kaki (m2
)
Beban hidup merata pada trotoar :
Untuk A 10 m2
: q = 5 kPa
Untuk 10 m2
< A 100 m2
: q = 5 - 0.033 * ( A - 10 ) kPa
Untuk A > 100 m2
: q = 2 kPa
Panjang bentang ekivalen, LE = 64.226 m
Lebar satu trotoar, b2 = 1.50 m
Luas bidang trotoar, A = 2 * ( b2 * LE ) = 192.6785 m2
Intensitas beban pada trotoar, q = 2 kPa
Pembebanan jembatan untuk trotoar, QTP = q * b2 = 3.00 kN/m
Beban pedestrian (pejalan kaki)
6. PENGARUH TEMPERATUR (ET)
Faktor beban ultimit : KET = 1.2
Untuk memperhitungkan tegangan maupun deformasi struktur yang timbul akibat penga-
ruh temperatur, diambil perbedaan temperatur yang besarnya setengah dari selisih
antara temperatur maksimum dan temperatur minimum rata-rata pada lantai jembatan.
Temperatur maksimum rata-rata Tmax = 40 属C
Temperatur minimum rata-rata Tmin = 25 属C
T = Tmax - Tmin
Perbedaan temperatur pada lantai jembatan, T = 15 尊C
Koefisien muai panjang untuk beton, 留 = 1.0E-05 / 尊C
Beban Jembatan 11
12. Beban perbedaan temperatur 15属 C
7. BEBAN ANGIN ( EW )
Faktor beban ultimit : KEW = 1.2
Gaya akibat angin dihitung dengan rumus sebagai berikut :
TEW = 0.0006*Cw*(Vw)2
*Ab kN
Cw = koefisien seret = 1.25
Vw = Kecepatan angin rencana = 35 m/det
Ab = luas bidang samping jembatan (m2
)
Gaya angin didistribusikan merata pada bidang samping setiap elemen struktur yang
membentuk portal lengkung pada arah melintang jembatan. Lebar bidang kontak vertikal
untuk setiap elemen rangka samping struktur jembatan diambil yang terbesar.
Beban angin pada rangka jembatan lengkung untuk, b = 1.75 m
TEW = 0.0006*Cw*(Vw)2
* b = 1.608 kN/m
Beban garis merata tambahan arah horisontal pada permukaan lantai jembatan akibat
angin yang meniup kendaraan di atas jembatan dihitung dengan rumus :
TEW = 0.0012*Cw*(Vw)
2
kN/m dengan Cw = 1.2
TEW = 0.0012*Cw*(Vw)2
= 1.764 kN/m
Bidang vertikal yang ditiup angin merupakan bidang samping kendaraan dengan tinggi
2.00 m di atas lantai jembatan. h = 2.00 m
Jarak antara roda kendaraan x = 1.75 m
Transfer beban angin ke lantai jembatan, T'EW = [ 1/2*h / x * TEW ]
T'EW = 1.008 kN/m
Beban Jembatan 12
13. Distribusi beban angin pada bidang rangka samping jembatan dan transfer beban angin
akibat kendaraan di atas lantai jembatan adalah seperti gambar berikut.
Beban angin samping dan transfer beban angin
8. BEBAN GEMPA ( EQ )
Faktor beban ultimit : KEQ = 1.0
8.1. METODE STATIK EKIVALEN
Beban gempa rencana dihitung dengan rumus :
TEQ = Kh * I * Wt
Kh = C * S
TEQ = Gaya geser dasar total pada arah yang ditinjau (kN)
Kh = Koefisien beban gempa horisontal
I = Faktor kepentingan
Wt = Berat total jembatan yang berupa berat sendiri dan beban mati tambahan
= PMS + PMA kN
C = Koefisien geser dasar untuk wilayah gempa, waktu getar, dan kondisi tanah
S = Faktor tipe struktur yang berhubungan dengan kapasitas penyerapan energi
gempa (daktilitas) dari struktur jembatan.
Waktu getar struktur dihitung dengan rumus :
T = 2 * * [ WTP / ( g * KP ) ]
WTP = berat sendiri struktur dan beban mati tambahan (kN)
g = percepatan grafitasi (= 9.81 m/det2
)
KP = kekakuan struktur yang merupakan gaya horisontal yang diperlukan untuk
menimbulkan satu satuan lendutan (kN/m)
Waktu getar struktur jembatan dihitung dengan komputer menggunakan Program SAP-
2000 dengan pemodelan struktur 3-D (space frame ) yang memberikan respons berba-
gai ragam (mode ) getaran yang menunjukkan perilaku dan fleksibilitas sistem struktur.
Beban Jembatan 13
14. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur jembatan mempunyai waktu getar struktur
yang berbeda pada arah memanjang dan melintang, sehingga beban gempa rencana
statik ekivalen yang berbeda harus dihitung untuk masing-masing arah.
Dari hasil analisis diperoleh waktu getar struktur sebagai berikut :
Arah melintang jembatan, T = 1.43127 detik (mode-1)
Arah memanjang jembatan, T = 0.90442 detik (mode-2)
Beban Jembatan 14
15. Koefisien geser dasar untuk wilayah gempa 3 (Yogyakarta)
8.1.1. KOEFISIEN GEMPA ARAH Y (MELINTANG) JEMBATAN
Waktu getar alami, T = 1.43127 detik
Kondisi tanah dasar sedang (medium).
0.00
0.05
0.10
0.15
0.20
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0
Waktu getar, T (detik)
Koefisiengeserdasar,C
Tanah keras
Tanah sedang
Tanah lunak
Beban Jembatan 15
16. Lokasi di wilayah gempa : Zone-3 maka, C = 0.10
Untuk struktur jembatan dengan daerah sendi plastis berupa beton bertulang dan
bangunan atas bersatu dengan bangunan bawah), tetapi waktu getar strukturnya cukup
pendek sehingga struktur hanya dapat berperilaku daktail terbatas (semi daktail), ma-
ka diambil faktor tipe bangunan, S = 2
Koefisien beban gempa horisontal, Kh = C * S = 0.20
Untuk jembatan yang memuat > 2000 kendaraan / hari, jembatan pada jalan raya
utama atau arteri, tetapi terdapat route alternatif, maka diambil faktor kepentingan,
I = 1.0
TEQ = Kh * I * Wt TEQy = 0.200 *Wt
8.1.2. KOEFISIEN GEMPA ARAH X (MEMANJANG) JEMBATAN
Waktu getar alami, T = 0.90442 detik
Kondisi tanah dasar sedang (medium).
Lokasi di wilayah gempa : Zone-3 maka, C = 0.14
Untuk struktur jembatan dengan daerah sendi plastis berupa beton bertulang dan
bangunan atas bersatu dengan bangunan bawah), tetapi waktu getar strukturnya cukup
pendek sehingga struktur hanya dapat berperilaku daktail terbatas (semi daktail), ma-
ka diambil faktor tipe bangunan, S = 2
Koefisien beban gempa horisontal, Kh = C * S = 0.28
Untuk jembatan yang memuat > 2000 kendaraan / hari, jembatan pada jalan raya
utama atau arteri, tetapi terdapat route alternatif, maka diambil faktor kepentingan,
I = 1.0
TEQ = Kh * I * Wt TEQx = 0.280 *Wt
Gaya gempa arah memanjang maupun arah melintang jembatan didistribusikan secara
otomatis ke setiap joint oleh Program SAP2000.
8.2. METODE DINAMIK RESPONSE SPECTRUM
Metode Dinamik (Response Spectrum) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut.
Besar beban gempa ditentukan oleh percepatan gempa rencana dan massa total
struktur. Massa total struktur terdiri dari berat sendiri struktur dan beban hidup yang
dikalikan dengan faktor reduksi 0,5.
Percepatan gempa diambil dari data zone 4 Peta Wilayah Gempa Indonesia menu-
Beban Jembatan 16
17. rut Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, 1992 dg memakai spektrum respons
seperti pada Tabel 1. Percepatan grafitasi diambil, g = 981 cm/det2
.
Analisis dinamik dilakukan dengan metode superposisi spectrum response. dengan
mengambil response maksimum dari 4 arah gempa, yaitu 0, 45, 90, dan 135 derajat.
Digunakan number eigen NE = 3 dengan mass partisipation factor 90 % dengan
kombinasi dinamis (CQC methode).
Karena hasil dari analisis spectrum response selalu bersifat positif (hasil akar),
maka perlu faktor +1 dan 1 untuk mengkombinasikan dengan response statik.
Tabel 1. Nilai spectrum
Waktu Nilai
getar spectrum
0.00 0.18
0.50 0.18
0.80 0.15
1.00 0.13
1.30 0.10
1.50 0.10
2.00 0.10
3.00 0.10
9. PENGARUH SUSUT DAN RANGKAK (SR)
Faktor Beban Ultimit : KSR = 1.0
3.1. PENGARUH RANGKAK (CREEP)
Regangan akibat creep, 竜cr = ( fc / Ec) * kb * kc * kd * ke * ktn
kb = koefisien yang tergantung pada pemakaian air semen (water cement ratio).
Untuk beton normal dengan faktor air semen, w = 0.45
Cement content = 3.5 kN/m3
Dari Kurva 6.1 (NAASRA Bridge Design Specification) diperoleh :
kb = 0.75
kc = koefisien yang tergantung pada kelembaban udara,
untuk perhitungan diambil kondisi kering dengan kelembaban udara < 50 %.
Dari Tabel 6.5 (NAASRA Bridge Design Specification) diperoleh :
0.00
0.05
0.10
0.15
0.20
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0
Waktu getar, T (detik)
Koefisiengeserdasar,C
Beban Jembatan 17
18. kc = 3
kd = koefisien yang tergantung pada derajat pengerasan beton saat dibebani dan pd.
suhu rata-rata di sekelilingnya selama pengerasan beton.
Karena grafik pada gambar 6.4 didasarkan pada temperatur 20属 C, sedangkan
temperatur rata-rata di Indonesia umumnya lebih dari 20属 C, maka perlu ada ko-
reksi waktu pengerasan beton sebagai berikut :
Jumlah hari dimana pengerasan terjadi pada suhu rata-rata T,
t = 28 hari
Temperatur udara rata-rata, T = 27.5 属C
Umur pengerasan beton terkoreksi saat dibebani :
t' = t * (T + 10) / 30 = 35 hari
Dari Kurva 6.4 (NAASRA Bridge Design Specification) untuk semen normal tipe I
diperoleh : kd = 0.938
ke = koefisien yang tergantung pada tebal teoritis (em)
Luas penampang balok 800/1750, A = 1.40 m2
Keliling penampang balok yang berhubungan dengan udara luar,
K = 5.100 m
em = 2 * A / K = 0.549 m
Dari Kurva 6.2 (NAASRA Bridge Design Specification) diperoleh :
ke = 0.734
ktn = koefisien yang tergantung pada waktu ( t ) dimana pengerasan terjadi dan tebal
teoritis (em).
Untuk, t = 28 hari em = 0.549 m
Dari Kurva 6.4 (NAASRA Bridge Design Specification) untuk semen normal tipe I
diperoleh : ktn = 0.2
Kuat tekan beton, fc' = 29.05 MPa
Modulus elastik beton, Ec = 25332.08 MPa
Regangan akibat creep, 竜cr = ( fc' / Ec ) * kb * kc * kd * ke * ktn = 0.00036
3.1. PENGARUH SUSUT (SHRINKAGE)
Regangan akibat susut, 竜su = 竜b * kb * ke * kp
竜b = regangan dasar susut (basic shrinkage strain ).
Untuk kondisi kering udara dengan kelembaban < 50 %,
Dari Tabel 6.4 (NAASRA Bridge Design Specification) diperoleh :
Beban Jembatan 18
19. 竜b = 0.00038
kb = koefisien yang tergantung pada pemakaian air semen (water cement ratio) untuk
beton dengan faktor air semen, w = 0.45
Cement content = 3.5 kN/m3
Dari Kurva 6.1 (NAASRA Bridge Design Specification) diperoleh :
kb = 0.75
ke = koefisien yang tergantung pada tebal teoritis (em) ke = 0.734
kp = koefisien yang tergantung pada luas tulangan baja memanjang non prategang.
Presentase luas tulangan memanjang terhadap luas tampang balok rata-rata :
p = 2.50%
kp = 100 / (100 + 20 * p) = 0.995
竜su = 竜b * kb * ke * kp = 0.000208
Regangan akibat susut dan rangkak, 竜sr = 竜sh + 竜cr = 0.00021
Beban Jembatan 19
20. 10. KOMBINASI PADA KEADAAN ULTIMIT
Aksi / Beban Faktor KOMBINASI
Beban 1 2 3 4
A. Aksi Tetap
Berat sendiri KMS 1.30 1.30 1.30 1.30
Beban Mati Tambahan KMA 2.00 2.00 2.00 2.00
Pengaruh susut dan rangkak KSR 1.00 1.00 1.00 1.00
B. Aksi Transien
Beban Lajur "D" KTD 2.00 1.00 1.00
Gaya Rem KTB 2.00 1.00 1.00
Beban Trotoar KTP 2.00
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh Temperatur KET 1.00 1.20 1.20
Beban Angin KEW 1.00 1.20
Beban Gempa KEQ 1.00
10. KOMBINASI BEBAN KERJA
Aksi / Beban Faktor KOMBINASI
Beban 1 2 3 4
A. Aksi Tetap
Berat sendiri KMS 1.00 1.00 1.00 1.00
Beban Mati Tambahan KMA 1.00 1.00 1.00 1.00
Pengaruh susut dan rangkak KSR 1.00 1.00 1.00 1.00
B. Aksi Transien
Beban Lajur "D" KTD 1.00 1.00 1.00
Gaya Rem KTB 1.00 1.00 1.00
Beban Trotoar KTP 1.00 1.00
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh Temperatur KET 1.00 1.00
Beban Angin KEW 1.00
Beban Gempa KEQ 1.00
Kelebihan Tegangan yang diperbolehkan 0% 25% 40% 50%
Beban Jembatan 20