Dokumen tersebut membahas tentang penyakit cacingan pada anak, termasuk pengertian cacingan, jenis-jenis cacing yang menyebabkannya, gejala dan dampaknya, serta cara penularan dan pencegahannya. Secara khusus ditekankan bahwa cacingan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang dan prestasi belajar pada anak karena menimbulkan anemia dan gangguan nutrisi.
Dokumen tersebut membahas tentang disentri, suatu penyakit radang usus yang ditandai dengan diare berdarah. Disentri disebabkan oleh bakteri seperti Shigella dan protozoa seperti Entamoeba histolytica. Gejalanya berupa diare berdarah disertai demam dan nyeri perut. Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan tinja sedangkan penatalaksanaannya meliputi pemberian cairan dan antibiotika.
Dokumen tersebut membahas tentang disentri, yaitu radang usus yang disebabkan oleh bakteri atau amoeba dan menyebabkan diare berdarah. Dokumen ini menjelaskan pengertian, gejala, penyebab, diagnosis, dan pengobatan dari penyakit disentri.
Parasitologi mempelajari parasit, organisme yang hidupnya menumpang dan merugikan inang. Parasit dapat berupa protozoa, helmint, atau artropoda yang dapat hidup di bagian luar atau dalam tubuh inang. Siklus hidup dan transmisi parasit dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis, dan sosial budaya. Diagnosa dan pengobatan parasit didasarkan pada habitatnya di tubuh inang.
Dokumen tersebut membahas mengenai penyakit menular yang disebabkan oleh polusi air, termasuk jenis penyakitnya seperti kolera, tifus, disentri, dan cara pencegahannya. Penyakit-penyakit tersebut dapat ditularkan melalui air yang tercemar oleh limbah manusia atau hewan. Untuk mencegah penularannya, diperlukan kebersihan lingkungan yang baik dan menjauhi konsumsi air atau makanan yang terkont
Bakteri Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, mulai dari bisul hingga infeksi darah. Bakteri ini umumnya hidup pada kulit dan hidung manusia secara normal tanpa menimbulkan masalah, namun dapat menjadi patogen jika sistem kekebalan tubuh melemah.
1. Bakteri streptococcus pneumonia masuk ke saluran nafas bagian atas dan dapat menyebabkan berbagai infeksi seperti meningitis, pneumonia, otitis, dan sinusitis. Bakteri ini lebih sering menginfeksi bayi karena sistem kekebalan tubuh bayi belum matang.
2. Salmonella merupakan bakteri gram-negatif yang dapat menyebabkan enteritis atau diare melalui invasi lapisan epitel usus halus. Bakteri ini umumnya masuk melalui konsumsi
Pengantar kuliah mikrobiologi-parasitologi untuk mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Semester 2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Cacingan pada anak dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan jangka pendek dan panjang, termasuk anemia dan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan zat besi dan gizi yang disebabkan oleh cacing yang menghisap darah dan nutrisi dari usus. Tiga jenis cacing yang paling sering menyebabkan infeksi cacingan pada anak adalah cacing pita, cacing tambang, dan cacing kremi, yang dapat masuk ke tubuh melalui ber
Dokumen tersebut membahas tentang narkoba, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan infeksi menular seksual (IMS). Narkoba dapat menyebabkan perubahan fisik dan perilaku seseorang. Faktor sosial, budaya, psikologis, dan biologis dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi. HIV ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, dan dari ibu ke anak. Pencegahan melalui perilaku seksual yang
Penyakit Balantidiasis disebabkan oleh parasit Balantidium coli yang menginfeksi saluran pencernaan. Parasit ini menyebabkan gejala gangguan pencernaan seperti diare dan nyeri perut. Penularannya terjadi melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung kista parasit. Pencegahannya meliputi hygiene dan sanitasi yang baik serta penyuluhan tentang kebersihan.
Dokumen tersebut membahas tentang penyakit cacingan pada anak, termasuk pengertian cacingan, jenis-jenis cacing yang menyebabkannya, gejala dan dampaknya, serta cara penularan dan pencegahannya. Secara khusus ditekankan bahwa cacingan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang dan prestasi belajar pada anak karena menimbulkan anemia dan gangguan nutrisi.
Modul ini membahas tentang parasitologi, khususnya protozoa. Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan organ pergerakannya, yaitu Rhizopoda, Flagelata, Ciliata, dan Sporozoa. Protozoa penting yang menyebabkan penyakit pada manusia dijelaskan morfologi, siklus hidup, gejala, diagnosis, dan pencegahannya. Diantaranya adalah Entamoeba histolytica yang menyebabkan amebiasis, serta Trichomonas
Bakteri Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, mulai dari bisul hingga infeksi darah. Bakteri ini umumnya hidup pada kulit dan hidung manusia secara normal tanpa menimbulkan masalah, namun dapat menjadi patogen jika sistem kekebalan tubuh melemah.
1. Bakteri streptococcus pneumonia masuk ke saluran nafas bagian atas dan dapat menyebabkan berbagai infeksi seperti meningitis, pneumonia, otitis, dan sinusitis. Bakteri ini lebih sering menginfeksi bayi karena sistem kekebalan tubuh bayi belum matang.
2. Salmonella merupakan bakteri gram-negatif yang dapat menyebabkan enteritis atau diare melalui invasi lapisan epitel usus halus. Bakteri ini umumnya masuk melalui konsumsi
Pengantar kuliah mikrobiologi-parasitologi untuk mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Semester 2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Cacingan pada anak dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan jangka pendek dan panjang, termasuk anemia dan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan zat besi dan gizi yang disebabkan oleh cacing yang menghisap darah dan nutrisi dari usus. Tiga jenis cacing yang paling sering menyebabkan infeksi cacingan pada anak adalah cacing pita, cacing tambang, dan cacing kremi, yang dapat masuk ke tubuh melalui ber
Dokumen tersebut membahas tentang narkoba, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan infeksi menular seksual (IMS). Narkoba dapat menyebabkan perubahan fisik dan perilaku seseorang. Faktor sosial, budaya, psikologis, dan biologis dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi. HIV ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, dan dari ibu ke anak. Pencegahan melalui perilaku seksual yang
Penyakit Balantidiasis disebabkan oleh parasit Balantidium coli yang menginfeksi saluran pencernaan. Parasit ini menyebabkan gejala gangguan pencernaan seperti diare dan nyeri perut. Penularannya terjadi melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung kista parasit. Pencegahannya meliputi hygiene dan sanitasi yang baik serta penyuluhan tentang kebersihan.
Dokumen tersebut membahas tentang penyakit cacingan pada anak, termasuk pengertian cacingan, jenis-jenis cacing yang menyebabkannya, gejala dan dampaknya, serta cara penularan dan pencegahannya. Secara khusus ditekankan bahwa cacingan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang dan prestasi belajar pada anak karena menimbulkan anemia dan gangguan nutrisi.
Modul ini membahas tentang parasitologi, khususnya protozoa. Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan organ pergerakannya, yaitu Rhizopoda, Flagelata, Ciliata, dan Sporozoa. Protozoa penting yang menyebabkan penyakit pada manusia dijelaskan morfologi, siklus hidup, gejala, diagnosis, dan pencegahannya. Diantaranya adalah Entamoeba histolytica yang menyebabkan amebiasis, serta Trichomonas
Bakteri Salmonella typhi menyebabkan penyakit demam tifoid. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan gejala seperti demam, sakit kepala, dan diare. Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan darah, uji Widal, atau biakan empedu. Pengobatan yang tepat untuk Salmonella typhi adalah antibiotik seperti kloramfenikol atau sefalosporin. Pencegahan meliputi menjaga kebersihan makanan
Dokumen tersebut membahas tentang masalah diare yang masih menjadi masalah kesehatan global terutama di negara berkembang. Diare sering menyerang anak-anak dan balita serta menjadi penyebab kematian kedua setelah radang paru bila tidak ditangani. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai faktor risiko, gejala, komplikasi, pencegahan, dan pengobatan diare.
1. Kecacingan merupakan masalah kesehatan mendasar di Indonesia yang menyerang sekitar 60% penduduk, terutama anak usia sekolah dasar. 2. Cacing dapat menyebabkan gangguan gizi, anemia, dan menurunnya pertumbuhan dan prestasi belajar anak. 3. Untuk mencegahnya perlu menjaga kebersihan lingkungan dan diri, serta memberikan obat anti cacing secara berkala.
Demam tifoid, disentri, dan difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri, yaitu Salmonella typhi, Shigella dysentriae, dan Corynebacterium diphtheriae. Ketiga penyakit ini menimbulkan gejala demam dan gangguan pencernaan serta dapat menular melalui kontak dengan orang atau benda terkontaminasi. Diagnosis didasarkan pada gejala klinis dan isolasi bakteri, sementara pengobatannya meliputi
2. Question:
1. Apakah bakteri bakteri-bakteri tersebut merupakan masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia? Mengapa? Penyakit apa yang disebabkan
oleh bakteri-bakteri tersebut?
2. Jelaskan bagaimana mekanisme penularan bakteri-bakteri tersebut
(kecuali Clostridiumbotolinum)dari penderita kepada orang lain?
3. Khusus untuk Clostridiumbotulinum, bagaimana mekanisme transmisi
bakteri tersbut dari sumbernya ke manusia.
4. Sajikan image dari bakteri-bakteri tersebut (untuk mengenali
morfologinya).
5. Jelaskan bagaimana mekanisme bakteri-balteri tersebut dapat
menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia, dan sebutkan gejala dan
tanda penyakit yang disebabkan oleh bakteri-bakteri tersebut.
6. Bagaimana cara memutuskan rantai penularan/transmisi penyakit yang
disebabkan oleh bakteri-bakteri tersebut?
7. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi bakteri-
bakteri tersebut? Apakah dapat diketahui keberadaan bakteri-bakteri
tersebut di makanan/minuman? Bila ya, bagaimana caranya?
4. 1. Apakah bakteri Salmonella typhi merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia?
Mengapa? Penyakit apa yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi tersebut?
Laporan kasus dari Indonesian One Health University
Network (INDOHUN), ternyata spesies salmonella
menempati peringkat ketiga presentasi tertinggi penyebab
utama penyakit yang menular melalui makanan baik pada
manusia maupun hewan.
Bakteri ini dapat menimbulkan berbagai masalah
kesehatan seperti diare dan demam tifoid
5. 2. Bagaimana mekanisme penularan bakteri
Salmonella typhi dari penderita kepada orang
lain?
6. 3. Jelaskan morfologi dari gambar bakteri Salmonella typhi !
• Bentuk dari bakteri Salmonella typhi adalah batang, tidak berspora,
ukuran 103,5 µm x 0,5-0,8 µm, besarnya koloni rata-rata 2-4 mm,
memiliki flagela peritrikh.
• Bakteri ini memfermentasikan glukosa dan manosa tanpa
membentuk gas tetapi tidak memfermentasikan laktosa dan
sukrosa.
• Isolat Salmonellatyphi pada media SSA (salmonella dan shigella
agar) ketika suhu 37oC maka menunjukkan koloni yang tampak
cembung, transparan dan memiliki bercak hitam dibagian pusat
• Bakteri Salmonellatyphi akan mati pada suhu 60oC selama 15 – 20
menit melalui pasteurisasi, pendidihan dan khlorinasi
7. 4. Bagaimana mekanisme bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Serta gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri tersebut!
Kuman menembus mukosa epitel usus, berkembang biak di lamina propina
Kemudian masuk ke dalam kelenjar getah bening mesenterium.
Setelah itu memasuki peredaran darah sehingga terjadi bakteremia pertama yang
asimomatis,
Lalu kuman masuk ke organ-organ terutama hepar dan sumsum tulang yang
dilanjutkan dengan pelepasan kuman dan endotoksin keperedaran darah sehingga
menyebabkan bakteremia kedua.
Kuman yang berada di hepar akan masuk kembali ke dalam usus kecil, sehingga
terjadi infeksi seperti semula dan sebagian kuman dikeluarkan bersama tinja
8. 4. Bagaimana mekanisme bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Serta gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri tersebut!
Gejala utama jika seseorang terkena salmonellosis adalah diare.
Orang yang terkena salmonellosis bisanya bisa buang air besar
(BAB) sebanyak 2-3 kali per hari. Namun, ada juga yang
mengalami diare yang parah, yakni bisa setiap 10-15 menit BAB.
Selain itu, bisa disertai juga kram perut, muntah, demam, dan
sakit kepala.
9. 5. Bagaimana cara memutus rantai penularan/trasmisi penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella Typhi?
Pencegahan ini terutama ketika menyiapkan makanan dan melakukan
perawatan untuk sang buah hati yang masih bayi. Masak makanan secara
menyeluruh, hindari konsumsi bahan makanan mentah, dan pastikan cuci buah
dan sayur hingga bersih sebelum dikonsumsi
Sering mencuci tangan, terutama setelah menggunakan kamar mandi dan
sebelum menyentuh makanan. Selalu sedia pembersih tangan yang
mengandung setidaknya 60 persen alkohol untuk berjaga-jaga bila air dan
sabun tidak tersedia.
Menjaga kebersihan diri sendiri bisa dilakukan agar tidak tertular penyakit
yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi.
10. 6. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh bakteri
Salmonella Typhi?
• Tes Widal termasuk salah satu bentuk pemeriksaan medis yang
dilakukan untuk memastikan diagnosis demam tifoid atau penyakit yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi
• Tes Widal menggunakan prinsip reaksi antigen-antibodi. Antibodi akan
bereaksi terhadap antigen yang dianggap sebagai benda asing, yaitu
dengan menghasilkan penggumpalan (aglutinasi).
• Jika seseorang terinfeksi oleh Salmonella typhi, tubuhnya akan
memproduksi antibodi terhadap kuman tersebut.
11. 7. Apakah dapat diketahui keberadaan dari bakteri Salmonella Typhi di makanan/minuman?
Bakteri Salmonella biasanya masuk ke tubuh melalui
makanan. Makanan itu terutama telur, daging sapi, daging
unggas, buah-buahan, dan air atau susu yang
terkontaminasi. Salmonella juga bisa masuk ke tubuh
seseorang, saat ia makan makanan atau minum minuman
yang tidak bersih.
12. 1. Apakah bakteri Vibrio Cholerae merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia?
Mengapa? Penyakit apa yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae tersebut?
Kolera adalah penyakit diare akut yang disebabkan oleh
infeksi bakteri Vibrio cholera serogrup 01 atau 0139 dalam
usus halus. Kolera bertanggung jawab terhadap 2,9 juta kasus
dan 95.000 kematian per tahun di seluruh dunia.
Gejala dan tanda-tanda yang biasanya muncul setelah
terpapar kolera adalah:
ï€ Diare
ï€ Mual dan muntah
ï€ Dehidrasi
ï€ Elektrolit tidak seimbang
ï€ Gula darah rendah (hipoglikemia)
13. 2. Bagaimana mekanisme penularan bakteri Vibrio
Cholerae dari penderita kepada orang lain?
• Mengonsumsi minuman atau makanan yang terkontaminasi
oleh bakteri kolera.
• Sumber kontaminasi seringkali adalah feses dari orang yang
sedang terinfeksi dan terbawa ke makanan dan minuman.
• Faktor risiko terjangkitnya kolera, antara lain sanitasi yang
buruk dan kelompok ekonomi sosial menengah ke bawah.
Penyakit ini umumnya tidak dapat tersebar dari orang ke
orang, sehingga kontak fisik dengan pengidap bukan
merupakan risiko terinfeksi kolera.
14. 3. Jelaskan morfologi dari gambar bakteri Vibrio Cholerae !
• Termasuk bakteri gram negative
• Berbentuk batang bengkok seperti koma dengan ukuran
panjang 2-4 um.
• Pada isolasi, menghasilkan katalase dan oksidase.
Bergerak sangat aktif karena mempunyai satu buah flagella
polar yang halus (monotrikh).
• Kuman ini tidak membentuk spora.
• Pada kultur dijumpai koloni yang cembung (convex), halus
dan bulat yang keruh (opaque) dan bergranul bila disinari.
15. 4. Bagaimana mekanisme bakteri Vibrio Cholerae dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Sertai gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri tersebut!
Ketika infeksi bakteri kolera terjadi, bakteri akan berkembang biak di
dalam usus kecil.
Perkembangbiakan bakteri kolera ini akan mengganggu
pencernaan manusia dengan cara mengganggu penyerapan air dan
mineral.
- Diare
- Mual muntah
- Dehidrasi
- Elektrolit tidak seimbang
- Gula darah rendah
Gejala dan tanda-tanda:
16. 5. Bagaimana cara memutus rantai penularan/trasmisi penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Vibrio Cholerae?
Selain kebersihan diri, kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi
juga perlu diperhatikan. Caranya adalah dengan:
ï€ Tidak membeli makanan yang tidak terjamin kebersihannya
ï€ Tidak mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang
ï€ Tidak mengonsumsi susu segar yang belum diolah
ï€ Minum air mineral botol atau air yang telah dimasak hingga mendidih
ï€ Mencuci bersih sayur dan buah sebelum dimakan
Melakukan vaksinasi kolera
17. 6. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh bakteri Vibrio
Cholerae?
ï€ Mulut terasa kering
ï€ Merasa sangat haus
ï€ Tubuh terasa lesu
ï€ Mudah marah
ï€ Jantung berdebar
Kolera dapat menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi.
Gejala-gejala dehidrasi akibat kolera yang harus diperhatikan antara lain:
ï€ Mata tampak cekung
ï€ Kulit berkerut dan kering
ï€ Urine yang keluar hanya sedikit
atau bahkan tidak ada
18. 7. Apakah dapat diketahui keberadaan dari bakteri Vibrio Cholerae di makanan/minuman?
Sumber makanan atau tempat yang paling sering
ditemukan perkembangan infeksi penyakit ini
adalah:
• Permukaan air
• Makanan laut
• Buah dan sayur
• Biji-bijian
19. 1. Apakah Shigella dysentriae merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia? Penyakit apa
yang disebabkan oleh bakteri-bakteri tersebut?
Dari Juni 1998 hingga November 1999, sebanyak 3.848 anak-
anak dan orang dewasa di Indonesia terinfeksi wabah penyakit
diare dan diidentifikasi dari delapan lokasi rumah sakit di
Medan, Padang, Batam, Jakarta, Denpasar (dua rumah sakit),
Pontianak, dan Makassar.
Shigella sp. adalah kuman patogen usus yang telah lama
dikenal sebagai agen penyebab penyakit disentri. Shigella
dysenteriae penyebab serius disentri basiler atau shigellosis,
adalah penyakit yang terbatas pada inang manusia dan primata
dan ditularkan melalui rute oral-fecal. Kuman ini bertahan
dalam produk makanan atau air yang terkontaminasi.
20. 2. Bagaimana mekanisme penularan bakteri
Shigella Dysentria dari penderita kepada orang
lain?
• Terdapat kuman Shigella di tangan dan kemudian
menyentuh makanan atau mulut.
• Mengkonsumsi makanan yang disiapkan oleh seseorang
yang terinfeksi dengan shigellosis. Makanan yang
dikonsumsi mentah cenderung terkontaminasi oleh kuman
Shigella. Kuman Shigella dapat mencemari buah-buahan
dan sayuran jika tanah terkontaminasi kotoran manusia.
• Menelan air (misalnya, air danau atau sungai) sambil
berenang atau minum air yang terkontaminasi dengan
kotoran (tinja) yang mengandung kuman.
• Pajanan feses selama kontak seksual dengan seseorang
yang sakit atau baru beberapa minggu pulih dari shigellosis.
21. 3. Jelaskan morfologi dari gambar bakteri Shigella Dysentria!
• Berbentuk batang dan tumbuh baik pada suasana aerob dan
fakultatif anaerob.
• Berukuran ukuran 0,5-0,7 um x 2-3 um.
• Pada pewarnaan gram akan bersifat negatif gram tidak
berflagel.
• Shigella dysentriae tipe I memproduksi eksotoksin tidak tahan
panas yang dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan
susunan saraf pusat.
• Eksotoksin merupakan protein yang bersifat antigenik
(merangsang produksi anti toksin) dan mematikan.
22. 4. Bagaimana mekanisme bakteri Shigella Dysentria dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Sertai gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri tersebut!
Shigella dysentriae menghasilkan eksotoksin yang mempunyai sifat
neurotoksik dan enterotoksik. Jadi, seseorang yang terjangkit shigellosis
dapat menderita kejang.
Eksotoksin ini adalah protein terlarut yang tidak tahan panas. Pada
manusia, eksotoksin ini juga menghambat apsorpsi gula dan asam
amonia pada usus kecil
Menimbulkan reaksi susunan saraf pusat (meningismus koma).
Toksin yang mengakibatkan perdarahan awal diare sangat besar, dan
infeksi pada usus besar mengakibatkan disentri dengan nanah dalam
tinja.
23. 4. Bagaimana mekanisme bakteri Shigella Dysentria dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Sertai gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri tersebut!
• Diare (terkadang berdarah)
• Demam
• Sakit perut dan kram perut yang parah
• Dehidrasi
• Selalu merasa ingin buang air besar bahkan ketika ususnya kosong
Gejala dan tanda-tanda:
24. 5. Bagaimana cara memutus rantai penularan/trasmisi penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Shigella Disentria?
• Cuci tangan dengan sabun dan air dengan baik
• Jika merawat seorang anak dengan popok yang menderita shigellosis,
segera buang popok yang kotor di tempat sampah yang tertutup. Cuci
tangan dan tangan anak dengan hati-hati dengan sabun dan air segera
setelah mengganti popok.
• Hindari menelan air dari kolam, danau, atau kolam renang yang tidak
dirawat.
• Saat bepergian ke luar negeri, ikuti panduan konsumsi makanan dan air
yang aman dan cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air.
• Hindari aktivitas seksual dengan seseorang yang mengalami diare atau
yang baru-baru ini (beberapa minggu) pulih dari shigellosis.
25. 6. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh bakteri Shigella
Dysentria?
• Pemeriksaan laboratorium sangat dianjurkan dalam mengetahui kuman S.
dysentriae.
• Bahan pemeriksaan yang paling baik untuk diagnosis adalah usap dubur atau
diambil dari tukak pada mukosa usus pada saat sedang dilakukannya
sigmoidoskopi.
• Bahan pemeriksaan lainnya adalah tinja segar.
26. 7. Apakah dapat diketahui keberadaan dari bakteri Shigella Dysentria di makanan/minuman?
• Penyebaran jenis bakteri ini pada umumnya melalui
orang/penjamah makanan yang memiliki higienitas yang
buruk dalam mengolah dan menyiapkan makanan.
• Shigella sering dijumpai pada pangan hewani yang
melalui proses pengolahan yang panjang atau pangan
yang tidak mengalami pemanasan.
28. 1. Apakah Staphylococcus aureus tersebut merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia?
Gejala awal yang ditimbulkan jika mengalami infeksi ini
adalah diare, nyeri dan kram perut, hingga mual dan muntah.
Staphylococcus aureus sebenarnya tidak berbahaya. Bakteri
jenis ini banyak ditemukan pada permukaan kulit, lubang
hidung, serta bagian tenggorokan dalam tubuh manusia dan
hewan. Namun lain ceritanya ketika bakteri sudah berpindah
ke makanan. Kembang biaknya akan semakin pesat dan
akhirnya menyebabkan infeksi.
29. 2. Bagaimana mekanisme penularan bakteri-
bakteri tersebut dari penderita kepada orang lain?
Terjadi ketika organisme ditransmisikan dari orang ke
orang yang terjadi melalui kontak langsung dengan kulit,
melalui lingkungan atau peralatan yang terkontaminasi.
Endogen
Eksogen
Terjadi ketika bakteri dari satu bagian tubuh seseorang
menyebar ke tempat yang lain. Mengajarkan individu untuk
mencuci tangan mereka dan mencegah mereka dari
menyentuh luka, kulit yang rusak atau menyentuh
perangkat invasif.
30. 3. Bagaimana transmisi bakteri Staphylococcus aureus dari sumbernya ke manusia?
Mode transmisi yaitu dapat melalui masuknya makanan yang mengandung
enterotoksin. Transmisi dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak
dengan lesi purulen atau dengan seorang pembawa.
Periode inkubasi bakteri dengan onset gejala setelah
mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi biasanya 30
menit hingga 8 jam.
Makanan dengan kurangnya higienitas (seperti memakai sarung tangan) akan
menimbulkan kemungkinan makanan tersebut terpapar oleh bakteri
Staphylococcus aureus.
31. 4. Jelaskan morfologi dari gambar bakteri Staphylococcus aureus !
• Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram-positif yang
berdiameter 0,5-1,5 μ , tidak membentuk spora dan tidak bergerak.
• Pada media biakan, bakteri ini berbentuk bulat yang terlihat tunggal,
berkelompok atau bankan dapat tersusun seperti rantai .Beberapa
strain dari bakteri ini memiliki kapsul.
• Kisaran suhu untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 12-
44°C, denganoptimum 37°C.
• Staphylococcus aureusresisten terhadap pembekuan dan bertahan
dengan baik dalam makanan yang disimpan di bawah -20°C. Namun,
kelangsungan hidup berkurang pada suhu -10 sampai 0°C.
• Mudah mati dalam pasteurisasi atau memasak. Pertumbuhan
Staphylococcus aureusterjadi pada pH optimal 7,4.
32. 5. Bagaimana mekanisme bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Sertai gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri – bakteri tersebut!
• Ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses.
• Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. aureus
adalahbisul, jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Infeksi yang
lebih berat diantaranyapneumonia, mastitis, plebitis, meningitis,
infeksi saluran kemih, osteomielitis, danendokarditis.
• S. aureus juga merupakan penyebab utama infeksi
nosokomial,keracunan makanan, dan sindroma syok toksik
33. 4. Bagaimana mekanisme bakteri S. Aureus dapat menyebabkan kerusakan
pada tubuh manusia? Serta gejala dan tanda penyakit yang disebabkan oleh
bakteri tersebut!
Gejala dan penyakit nya berbeda – beda:
a. Infeksi kulit: Bisul, Impetigo, Selulitis, Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS)
b. Keracunan makanan : mual, muntah, diare & demam.
c. Septikimia : demam dan menurunnya tekanan darah.
d. Septic arthritis : pembengkakan pada sendi, sakit di area yang terinfeksi , dan
demam.
e. Toxic Shock Syndrome : demam tinggi, mual & muntah, ruam di telapak tangan dan
telapak kaki yang mirip dengan luka bakar akibat paparan sinar matahari, linglung,
nyeri otot, diare, dan sakit perut.
f. MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) : benjolan berisi nanah &
demam, namun di sisi lain dapat menyababkan penderitanya sesak napas, pusing,
batuk , hingga nyeri dada.
g. Endokarditis : Apabila telah merusak bagian – bagian jantung, maka dokter dapat
melakukan operasi untuk mengatasinya.
34. 6. Bagaimana cara memutus rantai penularan/trasmisi penyakit yang disebabkan oleh S.
Aureus ?
Apabila tinggal bersama dengan seseorang yang sedang terinfeksi bakteri
S.aureus, hindarilah saling bertukar benda yang dapat menjadi media penularan
seperti pakaian, handuk, dan sikat gigi. Lalu cuci tangan dengan bersih setelah
berkontak dengan penderita.
Menjalani gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang bersih dan
bergizi, berolahraga secara teratur , dan menghindari rokok maupun
penyalahgunaan obat – obatan terlarang.
Menjaga diri untuk tetap higienis
35. 7. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh bakteri tersebut?
• Apabila terjadi gejala paling umum adalah ada area kulit yang merah, iritasi
atau terasa sakit, lepuhan yang berisi nanah, demam, mual, muntah, retching
(seperti muntah tetapi tidak mengeluarkan apa pun), kram perut, dan rasa
lemas.
• Dalam kasus-kasus yang lebih parah, dapat terjadi sakit kepala, kram otot,
dan perubahan yang nyata pada tekanan darah serta denyut nadi.
• Proses penyembuhan biasanya memerlukan waktu dua hari
36. 8. Apakah dapat diketahui keberadaan dari bakteri-bakteri tersebut di makanan/minuman?
• Ditemukan pada bahan makanan yang berprotein
tinggi seperti produk-produk telur dan daging.
• Produk makanan akan terkontaminasi oleh bakteri
S.aureus setelah dimakan, disebabkan karena
makanan tersebut kontak dengan makanan yang
tersentuh oleh tangan yang telah terinfeksi. Dapat
menyebabkan keracunan makanan.
• Makanan yang memerlukan banyak penanganan
selama penyiapannya dan yang disimpan dalam suhu
yang sedikit lebih tinggi setelah dimasak sering
menjadi penyebab kasus keracunan makanan
staphylococcal.
37. 1. Apakah bakteri-bakteri tersebut merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia?
Mengakibatkan penyakit botulisme yang disebabkan karena
makanan mengandung Bakteri tersebut. Penyakit botulisme
yang disebabkan tersebut dapat menimbulkan gejala – gejala
paralisis otot dan gangguan saluran cerna dan dapat berakhir
dengan kematian.
38. 2. Bagaimana transmisi bakteri Clostridium botilinum dari sumbernya ke manusia?
Racun atau toksin yang dihasilkan oleh C.botulinum sangat beracun bagi
manusia. Dosis letal diperkirakan sebesar 1 mikrogram.
Keadaan yang memudahkan terbentuknya toksin botulinum, antara
lain
(a) adanya spora/sel yang hidup dalam makanan,
(b) lingkungan anaerob dengan pH>5,
(c) penyimpanan yang lama pada suhu yang memungkinkan
pertumbuhan bakteri dan pembentukan racun,
(d) konsumsi makanan tanpa terlebih dahulu dimasak dengan
sempurna.
39. 3. Jelaskan morfologi dari Clostridium botulinum !
• Clostridium botulinum adalah bakteri anaerobik yang menyebabkan
botulisme.
• Organisme Gram-positif berbentuk batang, motil, dan memiliki spora
yang sangat tahan terhadap sejumlah tekanan lingkungan seperti
panas, asam tinggi dan dapat menjadi aktif dalam asam rendah.
• Tahan terhadap sejumlah tekanan lingkungan seperti panas, asam
tinggi dan dapat menjadi aktif dalam asam rendah (pH lebih dari 4,6)
serta kelembaban lingkungan tinggi dengan suhu berkisar antara 3 ° C
untuk 43 ° C (38 ° F sampai 110 ° F).
• Tujuh tipe botulisme (A, B, C, D, E, F dan G) yang dikenal, berdasarkan
ciri khas antigen dari racun yang diproduksi oleh setiap strain.
40. 4. Bagaimana mekanisme bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Sertai gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri – bakteri tersebut!
Melalui kontaminasi luka, mulut/makanan dan inhalasi. C. botulinum
yang sudah masuk dalam tubuh dapat memproduksi toksin dalam
saluran pencernaan atau jaringan tubuh yang luka karena
lingkungannya mendukung untuk pertumbuhannya.
Toksin masuk dalam aliran darah dan ditransportasikan menuju synaps
cholinergik perifer terutama neuromuscular junction.
Memasuki sel neuronal melalui receptor-mediated endocytosis. Light
chain dari toksin menyeberangi membran vesikel endocytic dan
memasuki sitoplasma.
Di dalam sitoplasma, light chain toksin memecah beberapa protein
yang membentuk synaptic fusion complex.
Toksin yang termakan dari makanan yang telah terpapar bakteri ini
akan segera terserap dalam saluran cerna.
41. 4. Bagaimana mekanisme bakteri Clostridium Botulinum dapat menyebabkan
kerusakan pada tubuh manusia? Serta gejala dan tanda penyakit yang
disebabkan oleh bakteri tersebut!
Penyakit biasanya bermula antara 12 dan 36 jam (kisaran 2 jam sampai
14 hari) sesuai mengkonsumsi makanan yang mengandung toksin
(durasi dapat memanjang hingga 16 minggu).
• Gejala pertama : gejala gastrointestinal, terutama pada jenis E yaitu
nausea, muntah, nyeri perut, dan distensi.
• Gejala neurologis awal berupa pandangan kabur, sulit menelan, sulit
berbicara, dan adanya kelemahan di berbagai otot.
• Untuk botulisme jenis A menunjukan gambaran yang atipikal, seperti
reaksi pupil 2 dari 6 penderita tetap normal dan menunjukkan
gambaran miastenia.
42. 5. Bagaimana cara memutus rantai penularan/trasmisi penyakit yang disebabkan oleh
bakteri-bakteri tersebut?
Pengawasan Rumah tangga/boga dengan pengasaman hingga pH < 4,6 dan
segera mendinginkan makanan, terutama makanan yang diasapkan,
dikalengkan, serta makanan setengah asin atau makanan segar.
Mengonsumsi makanan yang telah dipanaskan dan dimakan dengan tingkat
kelembaban tinggi, keasaman rendah, dan disimpan diatas suhu 100 celsius
Spora dari C.botulinum hanya dapat dihancurkan pada suhu yang lebih tinggi,
oleh karena itu perlu untuk mengurangi risiko terpapar bakteri tersebut
dengan cara mengonsumsi sajian yang telah matang.
43. 6. Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh bakteri tersebut?
• Kecepatan timbulnya gejala, keparahan dan lamanya penyakit tergantung
pada jumlah toksin dan tipe toksin yang masuk ke dalam tubuh.
• Pada botulismus yang disebabkan oleh makanan, gejala mulai tampak
beberapa jam sampai beberapa hari (2 – 8 hari) setelah tertelan makanan
yang terkontaminasi. Umumnya terjadi dalam 12 – 72 jam setelah makan.
• Gejala dari foodborne botulism yang disebabkan toksin C. Botulinum serotipe
A biasanya lebih parah dibandingkan dengan serotipe B dan E.
• Tipe toksin C. botulinum yang ditemukan pada manusia
dan sapi berbeda. Toksin tipe A secara dominan
ditemukan pada feses sapi sedangkan tipe E
ditemukan sebagai penyebab botulism pada manusia
yang terserang dan pakan hewan yang terkontaminasi.
44. 7. Apakah dapat diketahui keberadaan dari bakteri-bakteri tersebut di makanan/minuman?
• Kita dapat mengetahui bahwa terdapat kemungkinan
bakteri Clostridium botulinum dari sejak awal proses
penyiapan sajian makanan.
• Apabila kebersihan dan proses tidak diperhatikan
dengan baik maka akan menimbulkan toksin dari
bakteri ini.
• Higienitasan harus dijaga dan semua makanan harus
dipanaskan dan dimasak dalam tingkat kelembaban
tinggi, keasaman rendah, dan disimpan diatas suhu
100 celcius (terutama makanan yang
diawetkan/makanan kaleng produksi rumah tangga,
harus disiapkan dan direbus selama 10 menit
sebelum dihidangkan).
45. Kesimpulan
Penyakit bawaan makanan (foodborne disease), biasanya
bersifat toksik maupun infeksius, disebabkan oleh agens
penyakit yang masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi
makanan yang terkontaminasi. Penyakit kolera,
kampilobakteriosis, gastroenteritis E. coli, salmonellosis,
shigelosis, demam tifoid dan paratifoid, bruselosis, amoebiasis
dan poliomyelitis termasuk ke dalam foodborne disease. Pada
kasus foodborne disease mikroorganisme masuk bersama
makanan yang kemudian dicerna dan diserap oleh tubuh
manusia. Kasus foodborne disease dapat terjadi dari tingkat
yang tidak parah sampai tingkat kematian. Mikroorganisme
yang dapat menyebabkan foodborne disease antara lain Vibrio
cholerae, Salmonella typhi, Shigella dysentriae, Staphylococcus
aureus, Clostridium botulinum.
46. Sumber
Adelberg, Jawetz & Melnick. 2017. Mikrobiologi kedokteran jawetz, Melnick, & Adelberg, Ed.23, Translation of Jawetz, Melnick, and Adelberg’s Medical
Microbiology, 23thEd. Alih bahasa oleh Hartanto H, et. al. Jakarta: EGC.
Adelina. (2019). Begini cara mebaca tes widal tipes yang tepat. (online) Available at (Adelina, 2019). (Accessed on February, 13th 2019)
Aprilian, R. (2018). Dampak Salmonellosis terhadap Kesehatan, Sosial dan Ekonomi. (online) Available at
http://kesmavet.ditjenpkh.pertanian.go.id/index.php/berita/tulisan-ilmiah-populer/234-dampak-salmonellosis-terhadap-kesehatan-sosial-dan-ekonomi. (Accessed
on February, 13th 2019)
CDC, 2019. Shigella – Shigellosis : Diagnosis, Treatment, Prevention, Symtomps, Risk Factors. Available at : https://www.cdc.gov/shigella/index.html
Diyantoro, Shelly Wulandari. 2017. Deteksi Antibodi Salmonella Pullorum Dan Mycoplasma Gallisepticum Pada Anak Ayam (DOC) Pedaging Beberapa
Perusahaan Yang Dijual Di Kabupaten Lamongan. Surabaya: Universitas Airlangga.
Jurnal. BOTULISMUS: PATOGENESIS, DIAGNOSIS DAN PENCEGAHAN. LILY NATALIA dan A. PRIADI. Balai Besar Penelitian Veteriner, Jl. R.E. Martadinata
No. 30, Bogor 16114
Palupi, K.T dkk. 2010. Pengujian Staphylococcus aureus pada Daging Ayam Beku yang Dilalulintaskan Melalui Pelabuhan Penyeberangan Merak. Volume II,
Nomor 1, Desember 2010. Available at : https://media.neliti.com/media/publications/243122-pengujian-staphylococus-aureus-pada-dagi-0f9b2153.pdf
Pieper, Rembert et al. 2009. The Shigella dysenteriae serotype 1 proteome, profiled in the host intestinal environment, reveals major metabolic modifications and
increased expression of invasive proteins. NCBI: US National Institute of Health.
Pramana, Y. (2011). Bakteri Salmonella Typhi dan Demam Tyfoid. Studi Literatur. Stikes Istana Nusantara, Jakarta Timur.
Rizal, F. (2020). Selain tifus ini bakteri yang ditularkan bakteri Salmonella Typhi. (online) Available at https://www.halodoc.com/selain-tifus-ini-penyakit-yang-
ditularkan-bakteri-salmonella-typhi. (Accessed on February, 13th 2019).
Subekti, Decy dkk. 2001. Shigella spp. Surveillance in Indonesia: the Emergence or Reemergence of S. dysenteriae. Volume 7. Nomor 1. Januari-Februari 2001.
Syahrurachman, Agus dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Universitas Indonesia.
WHO. Penyakit Bawaan Makanan : Suatu Permasalahan Kesehatan Dan Ekonomi Global. Available at :
https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/42428/9794487074