Makalah Henry Praherdhiono Disajikan dalam Prapascasarjana UM 9
penciptaan konsep mereka tetapi juga dalam pengujian mereka. Dalam menguji
hipotesis, pebelajar harus bereksperimen untuk menciptakan pembentukan konsep
baru. Pengetahuan baru ini nantinya akan menjadi bagian dari pembuatan
hipotesis masa depan.
Sumber (Google Maps, n.d.)
Gambar 5. Letak nasi goreng jawa di Malang
Tema Terintegrasi
Relevansi koneksi menjadi jelas bagi pebelajar saat tema dan konsep
diintegrasikan secara holistik. Misalnya, pebelajar yang membangun makna
tentang gaya hidup belanja secara online. Bagaimana berfikir tentang, apa yang
harus dibeli?, mengapa itu harus dibeli?, bagaimana harus dibeli? Kapan harus
Makalah Henry Praherdhiono Disajikan dalam Prapascasarjana UM 10
dibeli? dll. Namun tema terintegrasi ini sulit untuk diterapkan pada kampus atau
sekolah yang menganggap dosen atau guru adalah subjek mandiri dan parsial.
Masing-masing dosen adalah unik dan masing-masing mata kuliah atau mata
pelajaran berdiri sendiri berlandaskan keilmuan masing-masing
Sumber (Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia, n.d.)
Gambar 6. Informasi tematik dari bumbu nasi goreng
Jurnal
Journaling adalah proses merefleksikan sebuah pernyataan atau pertanyaan
yang diberikan untuk memahaminya dalam hal pengalaman masa lalu dan
pengalaman pebelajar. Misalnya, pebelajar mungkin memulai sebuah jurnal di
awal sebuah unit perjalanan luar angkasa. Di awal jurnal pebelajar mungkin
diminta untuk merefleksikan dan menulis tentang bagaimana rasanya
meninggalkan planet yang mereka kenal untuk perjalanan menuju kehidupan baru
yang disertai ketidakpastian. Seiring kemajuan pebelajar melalui unit ini, lebih
baik secara tematik, mereka diminta untuk merenungkan perjalanan mereka saat
mereka menempuh perjalanan jauh dan jauh dari planet Bumi. Bagaimana
MakalahHenryPraherdhionoDisajikandalamPrapascasarjanaUM11
bertahanhidupmerekaterpenuhi?membantuapayangmerekahadapi?Apa
perbaikankualitashidupmerekayangmerekatemukan?Sepertipengujian
hipotesis,analogi,danmetafora,jenispengalamaninimemaksapebelajaruntuk
kembalikepembelajaransebelumnyamempebelajarimaknamembangunbersama.
Sumber(Sains,dan)
Gambar7.Perjalanankeluarluar angkasa
Portofolio
Portofolioadalahsistempengorganisasianberbagaidokumensehingga
hubunganantardokumendanmaknakonteksnyadapatdilakukan.Portofolio
mungkinberisipernyataanparadigmaataudeklarasitentangapayangdipahami
pebelajartentangsebuahkonsepditempatdanwaktudalamkehidupanmereka.
Misalnya,mulaipebelajartatabogadimintauntukmendokumentasikancara
masakhinggajadisebuahmasakandanuntukmeninjaukembalipernyataan
tersebutsaatmerekatumbuhdalamprofesijurumasak.Denganitudi
manamerekaberada?,perbedaanhasilwaktudibangkukuliahhinggamenjadi
profesional?koneksidapatdilakukanantarapengetahuandanpengalaman
sebelumnya,sekarang,danmasadepan.
Instrumenlaindapatdigunakanuntukmenganalisiskonsepsisaatini.
Kuesioner,pengawasan,dandaftarperiksadapatterselesaikandanmemperbaruisecara
secara
Makalah ini membahas tentang kenakalan remaja, mulai dari pengertian kenakalan remaja, bentuk-bentuknya seperti kenakalan biasa hingga kenakalan khusus, penyebabnya yang terkait faktor internal maupun eksternal seperti keluarga dan lingkungan sekolah, serta cara mengatasinya.
Dokumen tersebut membahas latar belakang kasus siswa bernama M yang sering membolos sekolah. Informasi diperoleh dari guru BK SMA Wachid Hasyim berdasarkan data yang menyebutkan M rata-rata membolos 4-5 kali dalam sebulan. Wawancara dan observasi dilakukan untuk mengetahui latar belakang perilaku membolos dan menentukan penanganannya, serta hasilnya akan digunakan untuk mengurangi prevalensi perilaku
Dokumen tersebut membahas latar belakang kasus siswa bernama M yang sering membolos sekolah. Informasi diperoleh dari guru BK SMA Wachid Hasyim berdasarkan data yang menyebutkan M rata-rata membolos 4-5 kali dalam sebulan. Wawancara dan observasi dilakukan untuk mengetahui latar belakang perilaku membolos dan menentukan penanganannya, serta hasilnya akan digunakan untuk mengurangi prevalensi perilaku
Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang pengertian remaja, kenakalan remaja, sebab-sebab terjadinya kenakalan remaja, dan upaya penanggulangan kenakalan remaja melalui pendidikan agama, peran orang tua, serta pengisiian waktu luang remaja.
Fenomena adiksi pornografi dan perkembangan kognitif pada remaja FahrulRosyid1
油
Dokumen tersebut membahas tentang karakteristik perkembangan remaja, faktor-faktor yang melatarbelakangi konflik pornografi pada remaja, dan dampak perkembangan kognitif akibat adanya konflik pornografi. Dokumen ini menjelaskan bahwa pornografi saat ini menjadi penyebab masalah pada perkembangan kognitif dan perilaku remaja di Indonesia. Faktor-faktor yang mendorong pornografi pada remaja antara lain pengaruh tem
Dokumen tersebut membahas tentang kenakalan remaja, termasuk penyebabnya (internal dan eksternal) serta cara mengatasinya. Kenakalan remaja disebabkan oleh berbagai faktor seperti gagalnya perkembangan identitas, kontrol diri yang lemah, keluarga yang tidak harmonis, dan lingkungan yang tidak mendukung. Untuk mengatasinya perlu adanya teladan orang dewasa yang baik, dukungan keluarga, pemilihan teman sebaya yang
Dokumen tersebut membahas tentang kenakalan remaja, termasuk definisi, contoh-contoh, faktor-faktor penyebab, dan tanggung jawab orang tua dan guru dalam menanggulanginya. Kenakalan remaja dijelaskan sebagai perilaku yang melanggar norma sosial dan hukum, seperti tawuran, seks bebas, konsumsi narkoba, dan bolos sekolah. Faktor-faktor penyebabnya antara lain kurangnya perhat
Makalah ini membahas tentang kenakalan remaja, termasuk pengertian, bentuk, penyebab, dampak, dan cara mengatasinya. Kenakalan remaja dapat berdampak buruk bagi perkembangan remaja seperti gangguan mental, kriminalitas, dan penyalahgunaan narkoba."
Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, jenis, faktor, dan pencegahan penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial adalah perilaku yang bertentangan dengan norma masyarakat seperti menyontek, berbohong, dan mencuri. Faktor penyebabnya antara lain anomi, gangguan mental, dan perubahan sosial. Jenisnya misalnya tawuran dan penyalahgunaan narkoba. Pencegahannya melalui pengaruh keluarga yang
Kenakalan remaja (Psikologi Perkembangan 2)Inini際際滷 .
油
Kenakalan remaja terjadi karena faktor internal seperti krisis identitas dan kontrol diri yang lemah, serta faktor eksternal seperti masalah keluarga, lingkungan, dan teman sebaya. Perilaku menyimpang remaja dapat diatasi dengan pendidikan karakter yang baik dari keluarga dan sekolah beserta sosialisasi dari pihak terkait.
Prilaku kenakalan remaja dan cara penanggulangannyaBaihakiPLS
油
Dokumen tersebut membahas tentang kenakalan remaja, termasuk definisi, jenis, faktor penyebab, dan upaya penanggulangannya. Kenakalan remaja didefinisikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum, moral, dan sosial yang dilakukan remaja. Faktor penyebabnya dibagi menjadi internal dan eksternal, sedangkan penanggulangannya meliputi preventif, represif, dan kuratif.
Dokumen tersebut membahas tentang pengertian kenakalan remaja, faktor-faktor penyebabnya, gejala-gejalanya, contoh perilakunya, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani kenakalan remaja seperti pembinaan, pendidikan karakter, dan pengawasan lingkungan sekolah.
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswaguestf6b63af
油
Dokumen tersebut membahas tentang masa remaja dan alienasi. Masa remaja didefinisikan sebagai masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis. Remaja rentan mengalami alienasi akibat kurangnya dukungan sosial dan konflik dengan lingkungan sekitar, seperti orang tua dan teman sebaya, yang dapat menyebabkan penyimpangan perilaku. Alienasi pada remaja dap
Kenakalan remaja adalah perilaku anak belasan tahun yang melanggar norma sosial dan mengganggu ketertiban, dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat. Bentuknya meliputi tindakan indisipliner, kabur dari rumah, keluyuran, pesta semalam suntuk, membaca buku cabul, minum minuman keras, tawuran, pencurian, dan penganiayaan. Penanggulangannya membutuhkan kerja sama keluarga, sekolah, m
PERANAN DAN TINDAKAN GURU KAUNSELING DALAM MENGATASI MASALAH DISIPLIN PELAJARFazHani Faz
油
Ringkasan dokumen tersebut adalah:
1) Dokumen tersebut membahas peranan guru kaunseling dalam menangani masalah disiplin pelajar khususnya masalah buli dan gengsterisme di sekolah.
2) Beberapa faktor yang menyebabkan masalah tersebut adalah latar belakang keluarga dan pengaruh lingkungan seperti media dan teman sebaya.
3) Masalah tersebut perlu ditangani karena berdampak buruk pada pembang
Bab ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kemerosotan disiplin pelajar sekolah menengah. Tiga faktor utama yang dijelaskan adalah faktor sikap pelajar sendiri, pengaruh rakan sebaya, dan pengaruh lingkungan keluarga. Faktor-faktor ini dapat berdampak positif atau negatif tergantung pada nilai-nilai yang dipromosikan. Bab ini juga mendefinisikan istilah kunci seperti disiplin, kemer
Penelitian ini meneliti hubungan antara keluarga broken home, pola asuh orang tua, interaksi teman sebaya dengan kenakalan remaja pada siswa SMK di Surakarta. Faktor-faktor tersebut diasumsikan berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan dan sumbangan masing-masing faktor terhadap kenakalan remaja. Hasil penelitian menunjukkan ketiga faktor berkorelasi
Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, penyebab, bentuk, dan pencegahan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai tindakan yang bertentangan dengan norma sosial dan hukum yang berlaku. Faktor penyebabnya terdiri dari internal seperti karakteristik individu dan eksternal seperti lingkungan sosial. Bentuknya dapat berupa penyimpangan primer, sekunder, individual, kelompok, atau campuran. Upaya
Tugas karya tulis ini membahas tentang kenakalan remaja. Dibahas tentang pengertian kenakalan remaja, penyebabnya, dan cara menanggulanginya. Latar belakang masalah adalah semakin banyaknya kenakalan yang dilakukan remaja saat ini akibat pengaruh lingkungan dan media sosial.
SABDA Ministry Learning Center: Go Paskah: Paskah dan Sekolah Minggu bagian 1SABDA
油
Bagaimana menyiapkan Paskah yang alkitabiah dan berkesan untuk anak-anak Sekolah Minggu? Yuk, ikuti GoPaskah! "Paskah dan Sekolah Minggu". Acara yang pasti bermanfaat bagi guru-guru, pelayan anak, remaja, dan pemuda untuk membekali bagaimana mengajarkan makna Paskah seperti yang diajarkan Alkitab.
Hadirlah pada:
Tanggal: Senin, 10 Maret 2025
Waktu: Pukul 10.3012.00 WIB
Tempat: Online, via Zoom (wajib daftar)
Guest: Dr. Choi Chi Hyun (Ketua J-RICE Jakarta)
Daftar sekarang: http://bit.ly/form-mlc
GRATIS!
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami:
WA Admin: 0821-3313-3315
Email: live@sabda.org
#SABDAYLSA #SABDAEvent #ylsa #yayasanlembagasabda #SABDAAlkitab #Alkitab #SABDAMLC #ministrylearningcenter #Paskah2025 #KematianKristus #kebangkitankristus #SekolahMinggu
More Related Content
Similar to 08410041_Bab_1.pdf latar belakang dan masalh kebakLan rekamja (20)
Dokumen tersebut membahas tentang kenakalan remaja, termasuk definisi, contoh-contoh, faktor-faktor penyebab, dan tanggung jawab orang tua dan guru dalam menanggulanginya. Kenakalan remaja dijelaskan sebagai perilaku yang melanggar norma sosial dan hukum, seperti tawuran, seks bebas, konsumsi narkoba, dan bolos sekolah. Faktor-faktor penyebabnya antara lain kurangnya perhat
Makalah ini membahas tentang kenakalan remaja, termasuk pengertian, bentuk, penyebab, dampak, dan cara mengatasinya. Kenakalan remaja dapat berdampak buruk bagi perkembangan remaja seperti gangguan mental, kriminalitas, dan penyalahgunaan narkoba."
Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, jenis, faktor, dan pencegahan penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial adalah perilaku yang bertentangan dengan norma masyarakat seperti menyontek, berbohong, dan mencuri. Faktor penyebabnya antara lain anomi, gangguan mental, dan perubahan sosial. Jenisnya misalnya tawuran dan penyalahgunaan narkoba. Pencegahannya melalui pengaruh keluarga yang
Kenakalan remaja (Psikologi Perkembangan 2)Inini際際滷 .
油
Kenakalan remaja terjadi karena faktor internal seperti krisis identitas dan kontrol diri yang lemah, serta faktor eksternal seperti masalah keluarga, lingkungan, dan teman sebaya. Perilaku menyimpang remaja dapat diatasi dengan pendidikan karakter yang baik dari keluarga dan sekolah beserta sosialisasi dari pihak terkait.
Prilaku kenakalan remaja dan cara penanggulangannyaBaihakiPLS
油
Dokumen tersebut membahas tentang kenakalan remaja, termasuk definisi, jenis, faktor penyebab, dan upaya penanggulangannya. Kenakalan remaja didefinisikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum, moral, dan sosial yang dilakukan remaja. Faktor penyebabnya dibagi menjadi internal dan eksternal, sedangkan penanggulangannya meliputi preventif, represif, dan kuratif.
Dokumen tersebut membahas tentang pengertian kenakalan remaja, faktor-faktor penyebabnya, gejala-gejalanya, contoh perilakunya, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani kenakalan remaja seperti pembinaan, pendidikan karakter, dan pengawasan lingkungan sekolah.
Hubungan Konsep Diri Terhadap Alienasi Mahasiswaguestf6b63af
油
Dokumen tersebut membahas tentang masa remaja dan alienasi. Masa remaja didefinisikan sebagai masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis. Remaja rentan mengalami alienasi akibat kurangnya dukungan sosial dan konflik dengan lingkungan sekitar, seperti orang tua dan teman sebaya, yang dapat menyebabkan penyimpangan perilaku. Alienasi pada remaja dap
Kenakalan remaja adalah perilaku anak belasan tahun yang melanggar norma sosial dan mengganggu ketertiban, dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat. Bentuknya meliputi tindakan indisipliner, kabur dari rumah, keluyuran, pesta semalam suntuk, membaca buku cabul, minum minuman keras, tawuran, pencurian, dan penganiayaan. Penanggulangannya membutuhkan kerja sama keluarga, sekolah, m
PERANAN DAN TINDAKAN GURU KAUNSELING DALAM MENGATASI MASALAH DISIPLIN PELAJARFazHani Faz
油
Ringkasan dokumen tersebut adalah:
1) Dokumen tersebut membahas peranan guru kaunseling dalam menangani masalah disiplin pelajar khususnya masalah buli dan gengsterisme di sekolah.
2) Beberapa faktor yang menyebabkan masalah tersebut adalah latar belakang keluarga dan pengaruh lingkungan seperti media dan teman sebaya.
3) Masalah tersebut perlu ditangani karena berdampak buruk pada pembang
Bab ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kemerosotan disiplin pelajar sekolah menengah. Tiga faktor utama yang dijelaskan adalah faktor sikap pelajar sendiri, pengaruh rakan sebaya, dan pengaruh lingkungan keluarga. Faktor-faktor ini dapat berdampak positif atau negatif tergantung pada nilai-nilai yang dipromosikan. Bab ini juga mendefinisikan istilah kunci seperti disiplin, kemer
Penelitian ini meneliti hubungan antara keluarga broken home, pola asuh orang tua, interaksi teman sebaya dengan kenakalan remaja pada siswa SMK di Surakarta. Faktor-faktor tersebut diasumsikan berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan dan sumbangan masing-masing faktor terhadap kenakalan remaja. Hasil penelitian menunjukkan ketiga faktor berkorelasi
Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, penyebab, bentuk, dan pencegahan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai tindakan yang bertentangan dengan norma sosial dan hukum yang berlaku. Faktor penyebabnya terdiri dari internal seperti karakteristik individu dan eksternal seperti lingkungan sosial. Bentuknya dapat berupa penyimpangan primer, sekunder, individual, kelompok, atau campuran. Upaya
Tugas karya tulis ini membahas tentang kenakalan remaja. Dibahas tentang pengertian kenakalan remaja, penyebabnya, dan cara menanggulanginya. Latar belakang masalah adalah semakin banyaknya kenakalan yang dilakukan remaja saat ini akibat pengaruh lingkungan dan media sosial.
SABDA Ministry Learning Center: Go Paskah: Paskah dan Sekolah Minggu bagian 1SABDA
油
Bagaimana menyiapkan Paskah yang alkitabiah dan berkesan untuk anak-anak Sekolah Minggu? Yuk, ikuti GoPaskah! "Paskah dan Sekolah Minggu". Acara yang pasti bermanfaat bagi guru-guru, pelayan anak, remaja, dan pemuda untuk membekali bagaimana mengajarkan makna Paskah seperti yang diajarkan Alkitab.
Hadirlah pada:
Tanggal: Senin, 10 Maret 2025
Waktu: Pukul 10.3012.00 WIB
Tempat: Online, via Zoom (wajib daftar)
Guest: Dr. Choi Chi Hyun (Ketua J-RICE Jakarta)
Daftar sekarang: http://bit.ly/form-mlc
GRATIS!
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami:
WA Admin: 0821-3313-3315
Email: live@sabda.org
#SABDAYLSA #SABDAEvent #ylsa #yayasanlembagasabda #SABDAAlkitab #Alkitab #SABDAMLC #ministrylearningcenter #Paskah2025 #KematianKristus #kebangkitankristus #SekolahMinggu
PPT ini dipresentasikan dalam acara Seminar dan油Knowledge Sharing Kepustakawanan yang diselenggarakan oleh Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek. Tanggal 28 November 2017
Danantara: Pesimis atau Optimis? Podcast Ikatan Alumni Lemhannas RI IKAL Lem...Dadang Solihin
油
Keberadaan Danantara: Pesimis atau Optimis?
Pendekatan terbaik adalah realistis dengan kecenderungan optimis.
Jika Danantara memiliki perencanaan yang matang, dukungan kebijakan yang kuat, dan mampu beradaptasi dengan tantangan yang ada, maka peluang keberhasilannya besar.
Namun, jika implementasinya tidak disertai dengan strategi mitigasi risiko yang baik, maka pesimisme terhadap dampaknya juga cukup beralasan.
Pada akhirnya, kunci suksesnya adalah bagaimana Danantara bisa dikelola secara efektif, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga dampak positifnya lebih dominan dibandingkan risikonya.
Tutorial ini menjelaskan langkah-langkah lengkap dalam membuat halaman website menggunakan Divi Builder, sebuah visual builder yang memungkinkan pengguna membangun website tanpa perlu coding.
Proses dimulai dari instalasi & aktivasi Divi, pembuatan halaman baru, hingga pemilihan layout yang sesuai. Selanjutnya, tutorial ini membahas cara menambahkan section, row, dan module, serta menyesuaikan tampilan dengan tab Design untuk mengatur warna, font, margin, animasi, dan lainnya.
Optimalisasi tampilan website juga menjadi fokus, termasuk pengaturan agar responsif di berbagai perangkat, penyimpanan halaman, serta penetapan sebagai homepage. Penggunaan Global Elements & Reusable Templates turut dibahas untuk mempercepat proses desain.
Hasil akhirnya, halaman website tampak profesional dan menarik tanpa harus coding.
08410041_Bab_1.pdf latar belakang dan masalh kebakLan rekamja
1. 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kenakalan remaja, yang dalam Bahasa Inggris disebut juvenile
delinquency (perilaku jahat atau kenakalan anak muda), merupakan
gejala sakit atau patologi secara sosial pada anak-anak dan remaja yang
disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan
remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang
dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.
(Kartono, 1992: 7)
Conger (1977) dan Dusek (1977) mendefinisikan kenakalan
remaja sebagai suatu kenakalan yang dilakukan oleh seseorang individu
yang berumur di bawah 16 dan 20 tahun yang melakukan perilaku yang
dapat dikenai sanksi atau hukuman. (Hurlock, 1972: 64) Sarwono
mengungkapkan, kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang
menyimpang dari norma-norma hukum pidana, sedangkan Fuhrmann
menyebutkan bahwa kenakalan remaja adalah suatu tindakan anak
muda yang dapat merusak dan mengganggu, baik terhadap diri sendiri
maupun orang lain. Santrock juga menambahkan kenakalan remaja
sebagai kumpulan dari berbagai prilaku, dari perilaku yang tidak dapat
diterima secara sosial sampai tindakan kriminal. (Sarwono, 2006: 93)
2. 2
Kenakalan remaja juga dialami oleh siswa di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 2 Malang, seperti
dikemukakan oleh wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan, bahwa
beberapa siswa melakukan beberapa pelanggaran ringan pada tata tertib
sekolah dan juga melakukan kenakalan remaja yang termasuk dalam
kategori berat dan berujung pada sanksi yang diberikan oleh sekolah
pada siswa tersebut. (Wawancara, 20 September 2015)
Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku
menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Durkheim (dalam
Soekanto, 1985: 73), bahwa perilaku menyimpang atau jahat dalam
batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal. Dalam
bukunya, Rules of Sociological Method, Durkheim menyebutkan dalam
batas-batas tertentu kenakalan adalah normal, karena tidak mungkin
menghapusnya secara tuntas. Dengan demikian, perilaku dikatakan
normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam
masyarakat, karena perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu
dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan
dari perilaku yang dianggap normal adalah perilaku nakal/jahat, yaitu
perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.
Menurut Gunarsa (1986: 35), ada beberapa bentuk kenakalan
remaja diantaranya berbohong dan memutar balikkan kenyataan dengan
tujuan menipu orang atau menutupi kesalahan, membolos, pergi
meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah, kabur,
3. 3
meninggalkan rumah tanpa izin keluarga atau menentang, keinginan
orang tua, keluyuran dan pergi sendiri atau berkelompok tanpa tujuan
dan mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif, memiliki dan
membawa benda yang membahayakan orang lain, sehingga mudah
terangsang untuk mempergunakannya, berpesta pora semalam tanpa
pengawasan sehingga mudah timbul tindakan-tindakan yang kurang
bertanggung jawab (amoral dan asosial), membaca buku-buku cabul
dan kebiasaan mempergunakan bahasa yang tidak sopan, tidak senonoh
seolah-olah menggambarkan kurang perhatian dan pendidikan dari
orang dewasa, secara kelompok naik bus tanpa membeli karcis,
berpakaian tidak pantas dan minum-minuman keras atau mengisap
ganja sehingga merusak dirinya maupun orang lain.
Jensen juga mengemukakan 4 jenis kenakalan yang dilakukan
remaja yaitu, kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang
lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial
yang tidak menimbulkan korban pada pihak orang lain, dan kenakalan
yang melawan status. (Sarwono, 2001: 200)
Hawari mengatakan, 68% masyarakat Indonesia terjerumus
kedalam penyalahgunaan napza (narkotika, alkohol, psikotrofika dan
zat adiktif) atau yang biasa disebut dengan narkoba. Jenis kenakalan ini
banyak digunakan oleh sebagian besar orang dan dikonsumsi oleh para
remaja. Bahkan, suatu lembaga Amerika yang bernama, The National
Institute of Drug Abuse melaporkan bahwa masyarakat Amerika
4. 4
merupakan drug orientied society, yaitu suatu masyarakat yang
berorientasi kepada narkoba, sehingga 1 dari 6 pelajar di Amerika telah
terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba. Fenomena ini kini telah
menjadi epidemik bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. (Sukayat,
2001: 193)
Di SMK Muhammadiyah 2 Malang, siswa yang melakukan
kenakalan sebagian besar dari kelas X dan XI. Wakil kepala sekolah
bidang kesiswaan mengutarakan tentang kenakalan yang sering
dilakukan siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang di antaranya adalah
melakukan pelanggaran lalu-lintas dengan mengendarai motor tanpa
memakai helm, tidak memiliki surat ijin mengemudi (SIM) dan kebut-
kebutan, merokok setiap hari, merokok masih dengan mengenakan
seragam sekolah, membawa senjata tajam ke sekolah, membolos
sekolah dan membolos pada suatu mata pelajaran yang tidak disukai,
bersama-sama satu kelas membolos pada saat ekstrakulikuler pramuka
yang akhirnya mendapatkan hukuman berdiri dan dijemur di lapangan
pada pukul 07.00 hingga 09.00. Kasus siswa membolos hingga 12 kali,
sehingga siswa tersebut dikeluarkan dari sekolah, berkelahi dengan
teman satu sekolah ataupun siswa lain sekolah, mengintimidasi teman,
mencuri, dan mencontek (Wawancara, 20 September 2014). Masalah-
masalah tersebut dapat mengindikasikan bahwa beberapa siswa tersebut
menunjukkan adanya penyimpangan perilaku atau yang disebut dengan
kenakalan remaja.
5. 5
Willis (1977: 35) mengatakan, bahwa pada masa remaja amat
baik untuk mengembangkan segala potensi positif yang mereka miliki
seperti bakat, kemampuan, dan minat. Selain itu, masa ini merupakan
masa pencarian jati diri sehingga mereka cenderung bertingkah laku
labil.
Seperti apa yang telah dikemukakan Jalaluddin (2002: 80),
bahwa usia remaja memang dikenal sebagai usia yang rawan. Remaja
memiliki karakteristik khusus dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Remaja memiliki sikap kritis terhadap lingkungan
yang sejalan dengan perkembangan intelektual yang dialaminya. Bila
persoalan tersebut gagal diselesaikan, maka para remaja cenderung
untuk memilih jalan sendiri. Dalam situasi bingung dan konflik batin
menyebabkan remaja berada di persimpangan jalan. Dalam situasi yang
semacam ini, maka peluang munculnya perilaku menyimpang sangat
besar.
Peneliti mencoba melihat fenomena yang ada di SMK
Muhammadiyah 2 Malang dengan melakukan wawancara terhadap guru
dan pada siswa. Berdasarkan data dan wawancara yang diperoleh dari
guru, siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang yang rata-rata usianya
adalah 16 tahun hingga 18 tahun, cenderung bertingkah laku labil dan
mereka meremehkan tata tertib sekolah, berani melanggar aturan-aturan
sekolah dan juga melakukan kenakalan remaja dikarenakan mereka
6. 6
beranggapan bahwa mereka sudah besar dan dewasa maka dari itu
mereka tidak mau diatur seperti anak kecil.
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya
dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Agama
memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah
mencari eksistensi dirinya.
Dalam keadaan labil, remaja sangat rawan terjerat pengaruh-
pengaruh negatif, seperti narkoba, kriminal dan kejahatan seks. Pada
dasanya hal tersebut cenderung disebabkan oleh pengaruh hubungan
sosial dengan lingkungan di sekitar remaja. Seperti dipaparkan oleh
Kartini Kartono, karena remaja tidak dapat menyesuaikan dirinya
sendiri (intern) dengan berbagai perubahan yang terjadi serta peran
serta lingkungan luar (ekstern), remaja terkadang melakukan tindakan
immoral. Tindakan ini khususnya berkaitan dengan tingkah laku
seksual atau lainnya, yang begitu asusila sifatnya dan sangat mencolok
mata, hingga ditolak oleh masyarakat (Kartono, 2006: 141).
Jensen (dalam Sarwono 2010: 255) mengatakan bahwa
kenakalan remaja disebabkan karena remaja lebih mementingkan faktor
individu dibandingkan dengan faktor lingkungan (rational choice).
Kenakalan yang dilakukannya adalah atas pilihan, ketertarikan, dan
motivasi atau kemauannya sendiri. Misalnya, kenakalan remaja
disebabkan karena kurangnya iman dalam diri remaja itu sendiri.
7. 7
Reckless (dalam Dermawan, 2011: 15) seorang ahli
kriminologi berpendapat, bahwa terdapat beberapa cara pertahanan bagi
individu agar bertingkah laku selaras dengan nilai dan norma-norma
yang ada di dalam masyarakat. Pertahanan tersebut dapat berasal dari
dalam (intern), yaitu berupa kemampuan seseorang melawan atau
menahan godaan untuk melakukan kejahatan serta memelihara
kepatuhan terhadap norma-norma yang berlaku. Ada juga pertahanan
yang berasal dari luar (extern), yaitu suatu susunan hebat yang terdiri
dari tuntutan-tuntutan legal dan larangan-larangan yang menjaga
anggota masyarakat agar tetap berada dalam ikatan tingkah laku yang
diharapkan oleh masyarakatnya tersebut. Dengan demikan, kedua
benteng pertahanan ini (intern dan extern) bekerja sebagai pertahanan
terhadap norma sosial dan norma hukum yang telah menjadi
kesepakatan bagi masyarakat.
Dalam bahasan tentang hubungan antara tingkah laku remaja
dan agama, teori fakulti (faculty theory) menjelaskan bahwa tingkah
laku manusia itu tidak bersumber pada satu faktor tunggal tetapi terdiri
dari beberapa unsur. Antara lain yang dianggap berperan penting adalah
yang pertama cipta (reason) merupakan fungsi intelektual jiwa manusia
berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama
berdasarkan pertimbangan intelek seseorang. Hal tersebut menjelaskan
bahwa seseorang perlu memiliki pengetahuan tentang agama agar
mereka dapat menentukan ajaran agama mana yang dipercayainya.
8. 8
Faktor kedua adalah rasa (emotion) yaitu menimbulkan sikap batin yang
seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
Berperilaku positif seperti apa yang telah diajarkan oleh agama tersebut.
Faktor ketiga yaitu karsa (will) menimbulkan amalan-amalan atau
doktrin keagamaan yang benar dan logis. Melakukan amalan-amalan
agama yang nyata seperti melaksanakan ritual ibadah agama (Jalaludin,
2002: 56).
Penjelasan teori fakulti tersebut dapat disimpulkan bahwa
tingkah laku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya
adalah faktor agama. Begitu juga tentang tingkah laku remaja nakal atau
menyimpang juga dipengaruhi oleh banyak faktor, yang salah satunya
adalah pelaksanaan amalan-amalan agama yang nyata seperti melakukan
ibadah sholat, puasa, zakat, membaca al-Quran, dan sebagainya.
Pengemuka teori fakulti, Straton (1993) mengemukakan teori
konflik dengan mengatakan, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan
agama adalah adanya konflik dalam kejiwaan manusia. Keadaan yang
berlawanan seperti: baik-buruk, moral-immoral, kepasipan-keaktifan,
rasa rendah diri dan rasa harga diri menimbulkan pertentangan atau
konflik dalam diri manusia. Jika konflik itu sudah demikian mencekam
manusia dan mempengaruhi kehidupan dan kejiwaannya, maka manusia
itu mencari pertolongan kepada suatu kekuasaan yang tinggi (Tuhan)
(Jalaludin, 2002: 54).
9. 9
Di Indonesia, salah satu norma yang paling penting adalah
agama. Agama dapat menjadi salah satu faktor pengendali tingkah laku
remaja. Hal ini di mengerti karena agama memang mewarnai kehidupan
masyarakat setiap hari. Tidak saja dalam peringatan hari-hari besar
agama atau upacara-upacara pada peristiwa-peristiwa khusus (kelahiran,
khitanan, perkawinan, kematian, dan lain-lain), tetapi juga dalam
tingkah laku biasa seperti memberi salam waktu berjumpa atau
mengawali pidato sambutan (Sarwono, 2006: 93). Agama Islam
mengajarkan berbagai norma moral untuk mengatur kehidupan dalam
bermasyarakat termasuk juga norma yang harus ditaati oleh remaja.
Pelanggaran moral dalam hukum Islam tidak hanya dikenai
sanksi suprarnatural (dosa, murka Tuhan dan neraka), tetapi juga
diancam dengan berbagai sanksi hukum. Di dalam agama terdapat suatu
ritual-ritual yang dijalankan oleh para umatnya untuk menyembah
Tuhannya. Islam adalah agama yang kaya dengan ritual dan orang Islam
dituntut untuk melaksanakan ritual sebagai kewajiban atau sebagai
ungkapan atas iman mereka. Ritual tersebut juga dapat disebut dengan
ibadah.
Religiusitas dipandang oleh Jalaludin sebagai sikap keagamaan,
yaitu suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya
untuk bertingkah laku, sesuai kadar ketaatannya terhadap agama (2002:
197). Ritual keagamaan atau ibadah merupakan salah satu bagian dari
religiusitas/keberagamaan, seperti yang diutarakan oleh Glock & Stark
10. 10
dalam dimensi-dimensi religiusitas/keberagamaan yang meliputi
dimensi keyakinan (ideologis), dimensi peribadatan atau praktek agama
(ritualistik), dimensi penghayatan (eksperiensial), dimensi pengamalan
(konsekuensial), dan dimensi pengetahuan agama (intelektual) (Ancok,
1994: 77). Dimensi Peribadatan atau praktek agama mencakup perilaku
pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk
menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Dimensi ini
merujuk pada seberapa tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan
kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh
agamanya. Dalam keberislaman, dimensi peribadatan menyangkut
pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca al-Quran, doa, zikir,
ibadah qurban, iktikaf di masjid di bulan puasa, dan sebagainya (Ancok,
1994: 80).
Menurut terminologi, ibadah berarti penghambaan diri yang
sepenuh-penuhnya untuk mencapai keridhaan Allah dan mendapatkan
pahala-Nya di akhirat (Hasby, 1954: 4). Dalam buku Agama &
Fenomena Sosial, Durkheim juga menjelaskan bahwa esensi agama
adalah ibadah atau ritual, tidak kepercayaan dan yang lainnya (Agus,
2010: 53). Ritual keagamaan lebih utama, sebab ritual inilah yang lebih
fundamental dan yang melahirkan keyakinan (Pals, 2011: 166).
Menurut Turner, ritual dapat diartikan sebagai perilaku tertentu
yang bersifat normal, dilakukan dalam waktu tertentu secara berbeda,
bukan sekedar sebagai rutinitas yang bersifat teknis. Melainkan
11. 11
merujuk pada tindakan yang disadari oleh keyakinan religius terhadap
kekuasaan atau kekuatan-kekuatan mistis (Soehadha, 2006: 207). Ritual
dalam sebuah agama mempunyai maksud dan tujuan tertentu sesuai
dengan apa yang diajarkan dalam agama tersebut. Bentuk ritual juga
berbeda-beda, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Menurut Turner, ritus mempunyai beberapa peranan antara lain;
menghilangkan konflik, mengatasi perpecahan dan membangun
solideritas masyarakat, mempersatukan dua prinsip yang bertentangan,
dan membantu seseorang mendapat kekuatan dan motivasi baru untuk
hidup dalam masyarakat sehari-hari. Dengan demikian, ritual mengikuti
pendapat Turner bisa mengungkapkan seperangkat nilai pada tingkat
yang paling dalam (Winangun, 1990: 24).
Ibnu Taimiah menjelaskan ritual ibadah menurut Syara (hukum
Islam) adalah sikap tunduk dan cinta, artinya tunduk mutlak kepada
Allah yang disertai cinta sepenuhnya kepada-Nya (Tono, 1998: 35).
Ibadah adalah sebutan yang menghimpun seluruh hal yang disukai
Allah dan diridhai-Nya; perkataan maupun amal perbuatan yang tidak
tampak maupun tampak. Dalam ajaran Islam, ibadah mencakup shalat,
zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada
orang tua, menyambung silaturrahim, menepati janji, menyuruh kepada
kebaikan dan mecegah kemungkaran, jihad, melawan orang-orang kafir
dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin,
12. 12
orang yang bepergian, budak binatang, berdoa, berzikir, membaca dan
ibadah-ibadah lainnya. (Qaradhawi, 2005: 58)
Siswa SMK merupakan anak remaja yang memiliki orientasi
terhadap karier, dimana para siswa mendapat pembekalan kecakapan
hidup (life skill) siap pakai yang memungkinkan cepat diserap oleh
pasar tenaga kerja. Mereka harus memiliki kecakapan hidup meliputi:
(1) kecakapan hidup yang spesifik (kecakapan akademik dan kecakapan
vokasional/sesuai dengan program keahlian) dan (2) kecakapan generik
(kecakapan personal dan kecakapan sosial). Jadi, secara konseptual
seorang siswa SMK dipandang memiliki keahlian yang sesuai dengan
tuntutan dunia kerja. Dengan demikian, siswa SMK harus memiliki
motivasi kerja, memiliki keahlian khusus, memiliki kreativitas,
keluasan wawasan, memiliki sikap disiplin, bertanggung jawab, jujur,
ulet, dan harus memiliki sikap moral yang baik untuk beriteraksi
terhadap lingkungan sekitarnya.
SMK Muhammadiyah 2 Malang merupakan sekolah kejuruan
yang berbasis Islam, jadi selain diajarkan tentang keahlian kerja, para
siswa juga diajarkan tentang agama lebih dari sekolah kejuruan pada
umumnya. Di antaranya diajarkan tentang kajian keislaman, fiqih Islam,
dan pembelajaran kemuhammadiyahan. Seluruh siswa juga
melaksanakan ritual ibadah wajib maupun sunnah seperti sholat jamaah
dhuha, dzuhur, dan sholat jumat bagi siswa laki-laki, membaca surat al-
13. 13
Quran sebelum pelajaran dimulai, puasa romadhon, puasa sunnah,
memberikan amal jariyah, zakat, dzikir dan istighosah.
Menurut Darajat (1989: 15-16), terdapat upaya penanggulangan
kenakalan remaja agar menjadikan remaja bisa atau dapat menerima
keadaan di lingkungannya dengan wajar. Misalnya, memberikan
pendidikan agama pada anak mulai dari kecil, seperti percaya kepada
Tuhan, orang tua harus mengerti dasar-dasar pendidikan minimal
mengenai jiwa anak dan sifat-sifat anak, pengisian waktu luang anak
secara teratur agar pada masa remaja ia tidak akan menjadi pelamun
karena tidak pandai mengisi waktu luang, membentuk markas-markas
bimbingan dan penyuluhan di setiap sekolah untuk menampung
kesukaran anak-anak nakal, memberikan pengertian dan pengalaman
ajaran agama sedini mungkin, serta menyaring buku-buku cerita,
komik, film dan sebagainya yang dibaca atau ditonton oleh anak agar
mencegah anak menjadi nakal karena media-media yang dibacanya.
Kenakalan remaja bisa juga dipengaruhi oleh religiusitas remaja
yang apabila remaja memiliki religiusitas rendah maka tingkat
kenakalannya tinggi. Artinya, remaja tersebut tidak berperilaku sesuai
dengan ajaran agama yang dianutnya dan sebaliknya apabila semakin
tinggi religiusitas remaja maka semakin rendah tingkat kenakalan pada
remaja. Artinya, berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya karena ia memandang agama sebagai tujuan utama hidupnya
sehingga ia berusaha menereapkan ajaran agamanya dalam perilaku
14. 14
sehari-harinya. Hal tersebut dapat dipahami karena agama mendorong
pemeluknya untuk berperilaku baik dan bertanggungjawab atas
perbuatannya. Selain itu, agama juga mendorong pemeluknya untuk
berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan.
Cancellaro, Larson dan Wilson (1982) melakukan penelitian
terhadap kelompok penyalahguna narkotika, bahwa ditemukan dalam
kelompok tersebut minat terhadap agama amat rendah bahkan boleh
dikatakan tidak ada minat sama sekali. Minat terhadap agama ini
khususnya di usia remaja disebutkan, bahwa bila religiusitas di masa
remaja tidak ada atau sangat rendah, maka remaja ini mempunyai resiko
lebih tinggi untuk terlibat dalam penyalahgunaan obat/narkotika dan
alkohol. Temuan ini sesuai dengan temuan di Indonesia. (Hawari, 1990)
Daum dan Lavenhar (dalam Hawari, 1995: 15) juga menemukan
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa mereka yang tidak menganut
agama dan dalam riwayat tidak pernah menjalankan ritual ibadah
keagamaan di usia remaja, maka mereka mempunyai resiko tinggi dan
tendensi ke arah penyalahgunaan obat/narkotika/alkohol. Dalam
penelitian tersebut ditemukan bahwa 89% pecandu alkohol telah
kehilangan minat agama pada usia remaja.
Dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan tentang
hubungan komitmen agama dan kesehatan jiwa. Tolak ukur komitmen
agama yang dipakai dalam penelitan tersebut, yaitu kedalaman
seseorang atas kepercayaannya, seperti rutinitas melakukan ibadah
15. 15
sehari-hari, doa dan membaca kitab suci atau munculnya berbagai
pertanyaan tentang hubungan vertikal antara hamba dan pencipta
(Tuhan), dan sebagainya. Tetapi penelitan tersebut terbatas hanya
dilakukan kepada subyek yang melakukan penyalahgunaan narkotika
dan alkohol, juga pada subyek umum yang usianya diperkirakan telah
dewasa. Dalam penelitian kali ini, peneliti mencoba lebih fokus pada
subyek remaja usia 16-17 tahun dan tidak terbatas hanya pada subyek
yang menyalahgunakan narkoba dan alkohol saja, tetapi lebih fokus
pada masalah kenakalan remaja yang banyak dialami oleh siswa di
SMK Muhammadiyah 2 Malang.
Salah satu aspek dari kehidupan beragama adalah, bahwa agama
mengandung unsur ajaran tentang ibadah / ritual (rites) atau upacara
keagamaan tertentu yang harus dilakukan oleh penganutnya. Misalnya,
menyembah Tuhan, berdoa, berkorban, dan lain sebagainnya. Adanya
ibadah atau ritual ini merupakan wujud nyata dari kepercayaan kepada
yang sakral atau Yang Maha Esa. Kepercayaan kepada Yang Maha Esa
mengharuskan sikap tertentu misalnya, Tuhan sebagai yang maha suci
harus disembah dalam berbagai kesempatan, kitab suci al-Quran harus
dibaca secara rutin dan dipelajari isinya dengan penuh kesadaran.
Pada dasarnya, ibadah dapat mencegah kenakalan remaja
(siswa) terjadi sehingga tercipta solidaritas diantara remaja, seperti
yang dijelaskan oleh Durkheim, fungsi dari upacara keagamaan / ritual
16. 16
keagamaan / ibadah yaitu untuk memperkuat kesatuan dan solidaritas
sosial masyarakat yang bersangkutan (Agus, 2010: 53).
Menurut Daradjat (1983) untuk memanggulangi kenakalan
remaja salah satunya yaitu dengan meningkatkan pendidikan agama
yang harus dimulai sejak kecil, seperti melaksankan ibadah,
sembahyang, puasa, mengaji dan sebagainya. Namun pendidikan agama
tidak hanya mencakup pada hal-hal tersebut saja tetapi mencakup
keseluruhan hidup dan menjadi pengendali dalam segala tindakan (h.
101). Dengan agama, manusia dilatih dan diberi jalan bagaimana
menguasai musuh-musuh dirinya yang jahat. Karena itulah agama
menjadi sumber moral dan sumber akhlak (Daradjat, 1977: 48).
Ibadah-ibadah fardhu dan sunnah berpengaruh nyata dalam
hubungan-hubungan sosial remaja. Ibadah-ibadah ini (shalat, puasa, haji,
zakat) mengatur prilakunya, amalnya, pikirannya, dan perasaannya.
Ibadah-ibadah tersebut mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan
hal-hal yang patut, mencegahnya melakukan perbuatan yang tidak layak
dalam hubungan-hubunganya dengan anggota masyarakat. (Zabalwi,
2007: 163)
Pada konfrensi yang diadakan di Canberra, dengan tema The
Role of Religion in The Prevention Of Drug Addiction. Kelompok-
kelompok yang terkena narkotik, alkohol, dan zat adiktif (NAZA) itu
sejak dini komitmen agamanya lemah. Hal ini dibandingkan dalam
penelitian dengan orang yang kuat komitmen agamanya. Kesimpulannya
17. 17
remaja-remaja yang sejak dini komitmen agamanya lemah memiliki
resiko terkena NAPZA 4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak-
anak remaja yang sejak dini komitmen agamanya kuat. Inilah salah satu
contoh peranan agama karena agama itu membawa ketenanangan.
Agama mencegah remaja yang mencari ketenangan pada alkohol,
narkotik, dll.
Seperti halnya apa yang telah diutarakan oleh Sudarsono (2008:
120) yaitu anak-anak remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar
disebabkan karena lalai memunanikan perintah-perintah agama. Begitu
juga apa yang dikatakan oleh Sutoyo (2009: 99), menurutnya remaja
atau individu melakukan suatu penyimpangan disebabkan karena fitrah
iman yang ada pada setiap individu tidak bisa berkembang dengan
sempurna atau imannya berkembang tapi tidak bias berfungsi dengan
baik, sehingga menyebabkan individu melakukan perbuatan-perbuatan
yang bersifat negatif atau menyimpang dari aturan-aturan yang berlaku
di lingkungannya.
Dari pengamatan dan wawancara pada siswa menunjukkan
bahwa siswa rutin melaksanakan ritual ibadah agama Islam diantaranya
adalah sholat berjamaah, sholat sunnah, sholat wajib, membaca al-
Quran, puasa, dzikir & istighosah. Namun masih banyak siswa yang
melakukan penyimpangan atau kenakalan remaja.
Dengan kondisi seperti yang telah disebutkan diatas tentunya,
banyak sekali unsur-unsur yang melatar belakangi kenakalan remaja.
18. 18
Mengingat pentingnya pendidikan umum untuk mencegah perilaku
menyimpang dikalangan remaja dan pendidikan agama dalam
pengendalian perilaku kenakalan remaja yang berhubungan dengan
moral atau akhlaq. Maka dipandang penting bagi peneliti untuk
melakukan penelitian Hubungan Antara Ritual Ibadah dengan
Kenakalan Remaja di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini
bermaksud untuk menguji atau membuktikan hubungan antara ritual
ibadah agama islam dengan kenakalan remaja.
B. Rumusan Masalah
Menurut dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat ritual ibadah remaja SMK Muhammadiyah 2
Malang?
2. Bagaimana tingkat kenakalan remaja di SMK Muhammadiyah 2
Malang?
3. Apakah ada hubungan antara ritual ibadah dengan tingkat kenakalan
remaja di SMK Muhammadiyah 2 Malang?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka dapat diambil tujuan
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tingkat ritual ibadah remaja di SMK
Muhammadiyah 2 Malang.
19. 19
2. Untuk mengetahui tingkat kenakalan remaja di SMK
Muhammadiyah 2 Malang.
3. Untuk membuktikan hubungan antara ritual ibadah dengan tingkat
kenakalan remaja di SMK Muhammadiyah 2 Malang.
D. Manfaat Penelitian
Dari adanya penelitian ini maka diharapkan mendapatkan
beberapa manfaat, antara lain:
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
wawasan keilmuan psikologi khususnya psikologi perkembangan,
psikologi pendidikan, terhadap fenomena yang ada di masyarakat.
Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai wacana pemikiran untuk
mengembangkan penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan
dengan pengetahuan tentang konsep ritual ibadah dan kenakalan
remaja.
2. Secara Praktis
a. Bagi Sekolah
Sebagai bahan informasi dalam usaha sekolah untuk
menciptakan interaksi sosial antara guru dengan murid, murid
dengan murid, dan murid dengan karyawan sehingga tercipta
suasana belajar yang kondusif demi terciptanya tujuan belajar.
Dan juga dapat digunakan sebagai bahan rujukan dalam
membantu siswa memecahkan masalahnya yang berhubungan
20. 20
dengan kenakalan remaja sehingga mampu menciptakan
hubungan interpersonal yang baik dengan teman-teman
sebayanya, sehingga anak mampu berperilaku sesuai dengan
keadaan dirinya dan dapat diterima dalam kelompok teman
sebaya.
b. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan/wawasan dan
mengaplikasikan ilmunya secara langsung dengan menghadapi
kondisi secara nyata di lapangan dan mengasah kemampuan
peneliti dalam melakukan penelitian dengan metode ilmiah.
c. Bagi Universitas Islam Negeri Malang
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber
untuk mengembangkan kegiatan keilmuan dan pendidikan,
khususnya untuk jurusan psikologi yang berkonsentrasi pada
psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.